Welcome


Sabtu, 05 November 2011

CHIKUNGUNYA

 DYTA NOVITA SARI
10101001014

Resume Chikungunya
Secara etimologis, Chikungunya berasal dari kata Kungunyala, sebuah kata dari bahasa Makoude Tanzania yang berarti "yang melengkung", yang tepat menggambarkan seorang pasien yang tampak membungkuk karena artritis berat. Chikungunya dalam bahasa Swahili berarti kejang urat . 3
Penyakit ini ditandai dengan demam, mialgia atau artralgia, ruam kulit, leucopenia, dan limfadenopati. 4 Istilah lain untuk demam ini adalah: knokket, koorts, abu rokab, mal de genoux, dengue, dyenga, dan demam tiga hari. Karena vektornya nyamuk, chikungunya tergolong arthropod-borne disease, yaitu penyakit yang disebarkan oleh artropoda. 13
Virus chikungunya adalah virus yang termasuk dalam genus virus alfa dari famili Togaviridae. Virus ini berbentuk sferis dengan ukuran diameter sekitar 42 nm. Virus ini bersama dengan virus O’nyong-nyong dari genus virus alfa dan virus penyebab penyakit ‘Demam Nil Barat’ dari genus virus flavi menyebabkan gejala penyakit mirip dengue. 13
Gambar 1. Virus Chikungunya

Seperti DBD, chikungunya endemic di daerah yang banyak ditemukan kasus DBD. Kasus DBD pada wanita dan anak lebih tinggi dengan alasan mereka lebih banyak berada dirumah pada siang hari saat nyamuk menggigit. KLB chikungunya bersifat mendadak dengan jumlah penderita relative banyak. Selain manusia, virus chikungunya juga dapat menyerang tikus, kelinci, monyet, baboon dan simpanse. 9




BAB I
PENDAHULUAN 
EPIDEMIOLOGI CHIKUNGUNYA

A. Data Kasus
Chikungunya tersebar di daerah tropis dan subtropis yang berpenduduk padat seperti Afrika, India, dan Asia Tenggara. 13 Di Arika, virus ini dilaporkan menyerang di Zimbabwe, kongo, Angola, Kenya, dan Uganda. Negara selanjutnya yang terserand adalah Thailand pada tahun 1958; Kamboja, Vietnam, Sri Lanka an India pada tahun 1964. 
Biasanya, demam chikungunya tidak berakibat fatal. Akan tetapi, dalam kurun waktu 2005-2006, telah dilaporkan terjadi 200 kematian yang dihubungkan dengan chikungunya di pulau Reunion dan KLB yang tersebar luas di India, terutama di Tamil an Kerala. Ribuan kasus terdeteksi di daerah-daerah di India dan di Negara-negara yang bertetangga dengan Sri Lanka, setelah hujan lebat dan banjir pada bulan Agustus 2006. Di selatan India (Negara bagian Kerala), 125 kematian dihubungkan dengan chikungunya. Pada bulan Desember 2006 dilaporkan terjadi 3500 kasus di Maldives, dan lebih dari 60.000 kasus di Sri Lanka, dengan kematian lebih dari 80 orang. Di Pakistan pada bulan oktober 2006 telah dilaporkan terjadi lebih dari 12 kasus chikungunya. Data terbaru bulan Juni 2007, telah dilaporkan terjadi KLB yang menyerang sekitar 7000 penderita di Kerala, India. 13
Angka Insidensi di Indonesia sangat terbatas. Pertama kali, dilaporkan terjadi demam chikungunya di Samarinda tahun 1973. Pada laporan selanjutnya terjadi di Kuala Tungkal Jambi tahun 1980, dan Martapura, Ternate, serta Yogyakarta tahun 1983. Selama hampir 20 tahun (1983-2000) belum ada laporan berjangkitnya penyakit ini, sampai adanya laporan KLB demam chikungunya di Muara Enim, Sumatera Selatan, dan Aceh, dilanjutkan Bogor, Bekasi, Purworejo, dan Klaten pada tahun 2002. Pada tahun 2004, dilaporkan KLB yang menyerang sekitar 120 orang di Semarang. 13
Gambar 2. Epidemi Chikungunya di seluruh Indonesia.

 Gambar 3. kasus penderita chikungunya di Indonesia

B. Urgensi Dalam Kesehatan Masyarakat

Chikungunya adalah penyakit virus yang ditularkan oleh nyamuk pertama kali  selama wabah di Tanzania selatan pada tahun 1952. 6

Telah diidentifikasi di barat, tengah dan selatan Afrika dan banyak wilayah di Asia, dan telah dikutip sebagai penyebab epidemi di daerah-daerah sejak waktu itu. Virus ini tersebar di sebagian besar Afrika. 1
Chikungunya terjadi di Afrika, Asia dan benua India. Infeksi pada manusia di Afrika telah pada tingkat yang relatif rendah untuk beberapa tahun, namun pada tahun 1999-2000 ada wabah besar di Republik Demokratik Kongo, dan pada tahun 2007 ada wabah di Gabon. 14

Mulai Februari 2005, wabah besar terjadi di pulau-pulau chikungunya di Samudera Hindia. Sejumlah besar kasus impor di Eropa dikaitkan dengan wabah ini, terutama pada 2006 ketika epidemi Samudera Hindia berada di puncaknya. Sebuah wabah Chikungunya besar di India terjadi pada 2006 dan 2007. Beberapa negara lain di Asia Tenggara juga terpengaruh. Pada tahun 2007 transmisi dilaporkan untuk pertama kalinya di Eropa, dalam wabah lokal di utara-timur Italia. 15

Antara Februari dan Oktober 2006 saja, lebih dari 1,25 juta orang di India dan Asia selatan terinfeksi dengan virus chikungunya. Skala besar lainnya wabah demam chikungunya terjadi di negara-negara timur dan tengah Afrika, dan negara-negara Samudera Hindia, termasuk Comoros, Gabon, Madagaskar, Maladewa, Mauritius, Mayotte, Reunion (Prancis) dan Seychelles. Pada bulan September 2007, sebuah wabah chikungunya menyusul kasus diimpor telah diberitahu di Italia utara. Kebangkitan dramatis dan perluasan geografis chikungunya dalam beberapa tahun terakhir menggarisbawahi kerentanan kita terhadap penyakit menular yang disebarkan oleh serangga dan menekankan pentingnya program pengendalian berkelanjutan sebagai komponen penting dari jaminan kesehatan. 3

 Demam  chikungunya merupakan penyakit yang sudah berkembang cukup lama di Indonesia. Kejadian luar biasa  dengan penyebaran yang luas terjadi sekitar tahun 1980, kemudian menghilang hingga muncul kembali  pada tahun 1990, dan 3 tahun terakhir ini muncul dalam bentuk letusan kejadian luar biasa di  beberapa propinsi di Indonesia. Program pemberantasan demam chikungunya belum menjadi prioritas  upaya pemberantasan penyakit menular di Indonesia, dan sejauh ini diintegrasikan menjadi satu bagian  dari upaya pemberantasan demam berdarah dengue. Untuk mendukung upaya pemberantasan demam  chikungunya memerlukan pengembangan surveilans dan upaya-upaya penelitian lebih lanjut. Pada saat  ini, dokumen epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium KLB chikungunya menjadi sumber data yang  sangat penting. Oleh karena itu, adanya kasus atau KLB demam chikungunya atau dugaan kasus  chikungunya dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dokumen epidemiologi kejadian luar  biasa demam chikungunya tersebut dikirim ke unit surveilans Dinas Kesehatan Propinsi dan  Subdirektorat Surveilans Epidemiologi, Ditjen PPM & PL sebagai dokumen Propinsi dan Nasional. Dokumen epidemiologi yang terekam di Ditjen PPM & PL, Kemkes, diinformasikan kepada Dinas  Kesehatan Propinsi dan Kabupaten/Kota sebagai kewaspadaan nasional terhadap kemungkinan merebaknya  KLB demam chikungunya. Dokumen KLB chikungunya yang perlu didokumentasikan antara lain adalah  Dokumen Penyelidikan KLB Demam Chikungunya dan Dokumen Bulanan KLB Penyakit. 21

 Gambar 4. Penyebaran Chikungunya di Dunia


BAB II
PEMBAHASAN 
EPIDEMIOLOGI CHIKUNGUNYA

A. Triad Epidemiologi
a. Agent
         Virus chikungunya (CHIKV), suatu arthropoda borne virus (arbovirus) dari genus Alphaviruses famili Togaviridae, yang pada umumnya disebarluaskan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau  Aedes albopictus.5

b. Host
   Virus Chikungunya (CHIKV) diyakini memiliki siklus sylvatic dan  terdapat pada monyet vervet, babon, monyet macaque, lemur dan tikus. Pada manusia, virus ini tidak memiliki pengaruh khusus terhadap usia atau jenis kelamin tetapi tampak bahwa anak-anak, orang tua dan keadaan immunocompromise merupakan yang paling mudah terpengaruh.1
Gambar 5. virus chikungunya pada nyamuk

 c. Environment
Para Ae spesies. albopictus berkembang biak di tempat-tempat yang tergenang air, seperti sekam kelapa, buah kakao, tunggul bambu, lubang pohon dan kolam batu, contoh lain seperti ban kendaraan dan piring di bawah pot-pot tanaman. Habitat Nyamuk Ae. albopictus juga di daerah pedesaan serta pinggiran kota dan taman kota teduh. Nyamuk Ae. aegypti lebih erat hubungannya dengan tempat tinggal manusia karena nyamuk-nyamuk tersebut berkembang biak pada tempat-tempat disekitar ruangan , seperti vas bunga, tempat penyimpanan air dan bak kamar mandi, demikian juga dengan nyamuk Ae. albopictus. 12

B. Transmisi
Virus Chikungunya disebarkan oleh gigitan nyamuk yang terinfeksi. Nyamuk terinfeksi ketika mereka menggigit orang yang terinfeksi  virus chikungunya. Nyamuk yang terinfeksi kemudian dapat menyebarkan virus ke manusia lain ketika mereka menggigit. Monyet, dan hewan liar lainnya, juga dapat berfungsi sebagai reservoir virus. 6
Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus adalah vektor utama virus chikungunya ke manusia Aedes albopictus juga telah merupakan  transmisi manusia dalam. Spesies ini menggigit pada siang hari dengan aktivitas puncak pada
pagi dan sore hari. Keduanya ditemukan menggigit luar rumah namun Ae.
aegypti juga akan siap menggigit dalam ruangan. Asia, Afrika, dan Eropa. Berbagai spesies nyamuk yang tinggal di hutan di Afrika telah ditemukan terinfeksi dengan virus. 6

 Gambar 6. Transmisi penyakit Chikungunya

Gambar 7.  Aedes aegypti 

C. Riwayat Alamiah Penyakit
            a. Masa inkubasi dan klinis
Manifestasi klinis sangat bervariasi mulai dari penyakit yang asimptomatik sampai dengan penyakit berat yang dapat melemahkan. Anak-anak berada di antara kelompok yang berisiko maksimal untuk mengalami manifestasi berat tersebut dan beberapa gambaran klinis dalam kelompok ini berbeda dengan apa yang ada pada orang dewasa. Setelah masa inkubasi, rata-rata antara 2 sampai 4 hari (rentang: 2 sampai 12 hari), penyakit mulai bermanifes tanpa gejala prodroma, dengan gambaran khas demam, ruam dan artralgia.1
Infeksi virus chikungunya pada anak dapat terjadi tanpa gejala. Adapun gejala klinis yang sering dijumpai pada anak umumnya berupa demam tinggi mendadak selama 1-6 hari, disertai dengan sakit kepala, fotofobia ringan, mialgia dan artralgia yang melibatkan berbagai sendi, serta dapat pula disertai anoreksia, mual dan muntah.1
Pada bayi, secara tipikal penyakit dimulai dengan adanya demam yang mendadak, diikuti kulit yang merah. Kejang demam dapat terjadi pada sepertiga pasien. Setelah 3-5 hari demam, timbul ruam makulopapular minimal dan limfadenopati, injeksi konjungtiva, pembengkakan kelopak mata, faringitis dan gejala-gejala serta tanda-tanda dari penyakit traktus respiratorius bagian atas umum terjadi, tidak ada enantema. Beberapa bayi mengalami kurva demam bifasik. Artralgia mungkin sangat hebat, walaupun hal tersebut jarang tampak.5
Nyamuk Aedes aegypti dapat mengandung virus Chikungunya pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum demam sampai 5 hari setelah demam timbul. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya. Di tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4-7 hari (intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit.
. Menjelang akhir fase demam (3 sampai 5 hari) kebanyakan pasien mengalami ruam makulopapular yang difus dan biasanya pada lengan, punggung dan bahu dan kadang-kadang di seluruh tubuh. Ruam ini biasanya berlangsung 48 jam. Pada saat ini sering terjadi limfadenopati hebat. Demam pada umumnya akan mereda setelah 2 hari, namun keluhan lain, seperti nyeri sendi, sakit kepala dan insomnia, pada sebagian besar kasus akan menetap 5-7 hari.1, 5 Penderita bahkan dapat mengeluhkan nyeri sendi dalam jangka waktu yang lebih lama. Nyeri sendi ini dapat berlangsung berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan pada beberapa kasus hingga beberapa tahun, tergantung dari umur penderita. 1


 Gambar 8. Penularan penyakit


Gambar 9.  gejala chikungunya


b. Masa Laten dan periode infeksi
Setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi, onset penyakit terjadi biasanya antara empat dan delapan hari, tetapi dapat berkisar dari dua sampai 12 hari. 8
CHIKV infeksi (baik klinis atau diam) diperkirakan memberikan kekebalan seumur hidup. 5
Penyakit ini merupakan penyakit epidemik yang timbul dalam jangka waktu 7-8 tahun namun bisa sampai 20 tahun baru timbul kembali. 5
Gambar 10. Pasien penderita chikungunya

D. Pencegahan
Pencegahan dilakukan dengan cara mengendalikan vektor pembawa virus Chikungunya, yaitu nyamuk dan menghindari gigitannya. 13
Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan meliputi :
a. Pembersihan jentik
- Program pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
- Larvasidasi
- Kuras tempat penyimpanan air (bak mandi, drum, dll) seminggu sekali
- Tutup tempat penympanan air
- Ganti air dalam vas bunga dan pot tanaman
- Kubur sampah yang bisa menampung air
- Untuk tempat-tempat air yang tidak mungkin atau sulit dikuras, taburkan bubuk Abate ke dalam genangan air tersebut untuk membunuh jentik-jentik nyamuk. Ulangi hal ini setiap 2-3 bulan sekali atau peliharalah ikan ditempat itu.
- Takaran penggunaan bubuk Abate adalah sebagai berikut : untuk 10 liter air cukup dengan 1 gram bubuk Abate atau 10 gram untuk 100 liter dan seterusnya. Bila tidak ada alat untuk menakar, gunakan sendok makan. Satu sendok makan peres (yang diratakan diatasnya) berisi 10 gram Abate. Anda tinggal membaginya atau menambahnya sesuai dengan banyaknya air yang akan diabatisasi. Takaran tak perlu tepat betul.
Gambar 11. Pencegahan nyamuk


b. Pencegahan gigitan nyamuk
- menggunakan kelambu
- menggunakan lotion anti nyamuk atau obat nyamuk bakar
- tidak melakukan kebiasaan beresiko (tidur siang, menggantung baju )
- penyemprotan


E. Pengobatan
 Tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan penyakit. Pengobatan hanya ditujukan untuk menghilangkan gejala-gejala, termasuk nyeri sendi. Tidak ada vaksin khusus untuk chikungunya. 13
Pengobatan untuk menghilangkan rasa nyeri meliputi :
1. Pengobatan Suportif
2. Analgesik
3. Infus bila perlu
Mortalitas yang disebabkan infeksi Chikungunya tergolong rendah, mengakibatkan perkembangan vaksin Chikungunya mendapat prioritas yang kurang dalam kesehatan masyarakat.14


BAB III
PENUTUP 
EPIDEMIOLOGI CHIKUNGUNYA

A. Kesimpulan
Chikungunya adalah penyakit mirip demam dengue yang disebabkan oleh virus chikungunya dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dan aedes africanus. Istilah lain dari penyakit ini adalah dengue, yenga, abu rokap, dan demam tiga hari. Penyakit ini ditandai dengan demam, mialgia atau artralgia, ruam kulit, leukopenia, dan limfadenopati. 1
Demam akut chikungunya biasanya berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu, tetapi ada beberapa pasien mengalami kelelahan yang berlangsung beberapa minggu. Selain itu, beberapa pasien telah melaporkan mengalami kelumpuhan  nyeri sendi, atau arthritis yang dapat berlangsung selama beberapa minggu atau bulan. Tidak ada kematian, neuro-invasif kasus, atau kasus hemoragik terkait dengan infeksi CHIKV. CHIKV infeksi (baik klinis atau diam) diperkirakan memberikan kekebalan seumur hidup. 4,5
Tidak ada pengobatan spesifik bagi penderita demam Chikungunya, cukup minum obat penurun panas dan penghilang rasa sakit yang bisa dibeli di toko obat, apotik bahkan di warung-warung. Berikan waktu istirahat yang cukup, minum dan makanan bergizi. Selain itu masyarakat dapat berperan dalam penanganan kasus demam Chikungunya yakni dengan melaporkan kepada Puskesmas/Dinas Kesehatan setempat. Isolasi/hindari penderita dari kemungkinan digigit nyamuk, agar tidak menyebarkan ke orang lain.
Infeksi virus chikungunya biasanya tidak fatal dan jarang menyebabkan kematian. Jarang dilaporkan secara eksklusif mengenai kejadian kematian, invasi ke susunan saraf pusat dan kasus-kasus perdarahan hebat pada demam chikungunya.

B. SARAN
- Perlu untuk mewaspadai kemunculan penyakit chikungunya dengan mengetahui gejala-gejala dan tanda-tandanya .
- Berusaha untuk mencegah timbulnyaa vektor-vektor nyamuk pembawa virus chikungunya dengan  cara mencegah perkembangbiakannya
- Mulai menggalakkan pola hidup sehat
- Pemerintah harus menggalakkan program-program pencegahan serta pengobatan untuk penyakit chikungunya agar tidak menyebar luas.



DAFTAR PUSTAKA 

1. Valamparampil JJ, Chirakkarot S, Letha S, et al. Clinical Profile of Chikungunya in Infants. Indian   Journal of Pediatrics, Volume 76—February 2009. Diunduh dari: www.springerlink.com  pada 28 Oktober 2011
2. Heriyanto B, Muchlastriningsih E, Susilowati S, dkk. Kecenderungan Kejadian Luar Biasa Chikungunya di Indonesia Tahun 2001-2003. Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005 37. Diunduh dari: www.kalbe.co.id  pada 28 Oktober 2011
           3. Sebastian MR, Lodha R, Kabra SK. Chikungunya Infection in Children. Indian Journal of Pediatrics, Volume 76—February 2009. Diunduh dari: www.springerlink.com  pada 28 Oktober 2011
4. Situs resmi Departemen Kesehatan Indonesia http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/491-waspadai-demam-chikungunya.html . Diakses pada 28 oktober 2011
           5. Homeopathyhelps. Chikungunya. http://www.homeopathyhelps.com/chikungunya.htm diakses 1 november 2011
          6.CDC. Oktober 2010. chikungunya http://www.cdc.gov/ncidod/dvbid/chikungunya/ diakses 30 oktober  2011
7. Isnaini.MF . Sejarah chikungunya dan penyebarannya. 201http://indonesiabisasehat.blogspot.com/2010/08/sejarah-chikungunya-dan-penyebarannya.html diakses 29 oktober 2011

           8. World Health Organization. 2008. Chikungunya. WHO Media centre http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs327/en/ diakses 30 oktober 2011

           9. World Health Organization. September 2007. What is chikungunya fever ?. http://www.who.int/features/qa/63/en/ diakses 30 oktober 20011

         10. Medical news. Apa itu chikungunya. http://www.news-medical.net/health/What-is-Chikungunya-%28Indonesian%29.aspx diakses 28 oktober 2011
 
     12. Klik Dokter. Demam chikungunya http://widiantopanca.blogdetik.com/info-penyakit/demam-chikungunya/ Diakses 1 November 2011

     13. Widoyono, 2005, Penyakit Tropis (Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, Dan Pemberantasannya), Erlangga; Jakarta

        14. Anam. Choirul  Chikungunya (Demam CHIK)

1 komentar:

  1. lengkap banget artikel dan pemaparannya tentang epidemiologi chikungunya,.,.
    thanks gan,.,.,., ^_^

    BalasHapus