Welcome


Jumat, 04 November 2011

Infeksi Nosokomial


Infeksi Nosokomial

by Adelina Fitri (10101001031)




Bab I
Pendahuluan


Resume
Salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien pasca operasi adalah terjadinya infeksi tambahan yang disebut infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial merupakan infeksi silang yang terjadi akibat perpindahan mikroorganisme melalui petugas kesehatan dan alat yang dipergunakan saat melakukan tindakan.
Makalah ini berisikan informasi Mengenai Infeksi Nosokomial, seperti Pengertian, Batasa-batasan yang dipakai untuk Infeksi Nosokomial, Triad Epidemiologi, Transmisi, Riwayat Alamiah, Pencegahan dan Pengobatan.
Saran ditujukan kepada pihak penyelenggaran pelayanan kesehatan agar memberikan pelatihan berkelanjutan kepada para perawat dan petugas kesehatan lainnya, serta melengkapi sarana dan prasarana menunjang pelaksanaan program pengendalian infeksi nosokomial.




Bab II
Isi

2.1. Pengertian
Infeksi Nosokomial (Hospital Acquired Infection/Nosocomial Infection) adalah infeksi yang didapat ketika penderita itu dirawat di rumah sakit. 1
Infeksi Nosokomial (INOK) merupakan masalah kesehatan sejak ratusan tahun lalu. Perhatian terhadap infeksi nosokomial telah ada sejak tahun 1840-an di mana Ignaz Semmelweiz memperhatikan tingginya angka kematian pada ruangan persalinan. Ia menduga bahwa ini terjadi akibat infeksi yang dibawa oleh dokter dan mahasiswa dari ruang otopsi. Oleh karena itu ia meminta agar para dokter dan mahasiswa mencuci tangan dulu dengan larutan klronitaed sebelum memeriksa para ibu di ruangan. Ternyata setelah itu angka kematian menurun tajam. Di Indonesia masalah infeksi nosocomial juga merupakan masalah yang cukup serius. Apalagi di rumah sakit yang jumlah penderita dirawatnya banyak dengan tenaga perawatnya banyak dengan tenaga perawatnya masih terbatas. 1,4
Masalah Infeksi Nosokomial pada tahun terakhir ini telah menjadi topik pembicaraan di banyak negara. Telah diketahui bahwa pengelolaan infeksi nosokomial menimbulkan biaya tinggi, baik yang ditanggung pihak penderita maupun pihak Rumah Sakit. Bahkan di Amerika, infeksi nosokomial termasuk dalam 10 besar penyebab kematian. Di negara maju, angka kejadian infeksi nosokomial telah dijadikan salah satu tolok ukur mutu pelayanan rumah sakit. Izin operasi suatu rumah sakit bisa dicabut karena tingginya angka kejadian infeksi nosokomial. Infeksi Nosokomial dapat terjadi dimana saja diruang perawatan rumah sakit, kapan saja, tanpa membedakan umur dan jenis penyakit. 1,2
Dari data yang didapat dari surveilan WHO menyatakan angka kejadian Infeksi Nosokomial cukup tinggi : 5% tahun atau 9 juta orang dari 190 juta yang dirawat, angka kematiannya cukup tinggi.6. Infeksi Nosokomial dapat menyebakan kematian dan ketidakwajaran, memperpanjang pasien untuk berada di rumah sakit dan meningkatkan pengeluaran pasien. Semenjak 1970, National Nosocomial Infection Surveillance System (NNIS) telah mengumpulkan dan menganalisis data frekuensi infeksi nosocomial yang ada di U.S. rumah sakit. Rumah sakit yang tergabung di NNIS dilaporkan dari 26,965 infeksi, 64% disebabkan oleh single pathogen dan 20% disebabkan oleh multiple pathogen. Dari 84% infeksi yang mana pathogen telah terinfeksi, 86% disebabkan oleh bakteri aerobic, 2% bakteri anaerobic, dan 8% fungi. Virus, protozoa, dan parasite lainnya terhitung 5%. Escheria coli, Pseudomonas aeruginosa, enterococci, dan Staphyloccocus yang teridentifikasi pathogen. Data dari rumah sakit individual didapatkan 50% infeksi pada pasien yang mati ketika di rumah sakit. 42 rumah sakit dilaporkan dari total 22.432 infeksi, diantara 1.253 yang mati, ditemukan 1.811 yang terinfeksi. Kira-kira 1% dari semua Infeksi Nosokomial menyebabkan kematian dan 3% terinfeksi yang memungkinkan juga kematian tersebut. Pasien yang mati ketika di rumah sakit, 9% dilaporkan mati, 38% memungkinkan mati, dan 37% tidak tidak terkait, 15% akibat infeksi lain. 7
Sehubungan dengan infeksi nosokomial ini, maka ada baiknya mengetahui hal-hal sebagai berikut :
1.      Secara umum infeksi nosocomial adalah infekksi yang didapatkan penderita selama dirawat di rumah sakit
2.     Infeksi nosocomial sukar diatasi karena sebagai penyebabkan adalah mikrooraganisme/bakteri yang sudah resisten terhadap antibiotika
3.      Bila terjadi infeksi nosocomial, maka akan terjadi penderitaan yang berkepanjangan serta pemborosan waktu serta pengeluaran biaya yang bertambah tinggi kadang-kadang kualitas hidup penderita akan menurun
4.      Infeksi nosokomial disamping berbahaya bagi penderita, juga berbahya bagi lingkungan baik selama dirawat dirumah sakit ataupun diluar rumah sakit setelah berobat jalan
5.      Dengan pengendalian infeksi nosokomial akan menghambat biaya dan waktu yang terbuang
6.      Dinegara yang sudah maju masalah ini telah diangkat menjadi masalah nasional, sehingga bila angka infeksi noskomial disuatu rumah sakit tinggi, maka izin operasionalnya dipertimbangkan untuk dicabut oleh istansi yang berwenang. 5

2.2. Batasan-batasan yang dipakai untuk infeksi nosokomial
Infeksi Nosokomial disebut juga dengan “Hospital acquired infection” apabila memenuhi batasan/kriteria sebagai berikut :
1.      Apabila pada waktu dirawat di RS, tidak dijumpai tanda-tanda klinik infeksi tersebut
2.      Pada waktu penderita mulai dirawat tidak dalam masa inkubasi dari infeksi tersebut
3.      Tanda-tanda infeksi tersebut baru timbul sekurang-kurangnya 3 x 24 jam sejak mulai dirawat
4.      Infeksi tersebut bukan merupakan sisa (residual) dari nfeksi sebelumya
5.      Bila pada saat mulai dirawat di RS sudah ada tanda-tanda infeksi, tetapi terbukti bahwa infeksi didapat penderita waktu perawatan sebelumnya dan belum pernah dilaporkan sebagai infeksi nosokommial. 5

2.3. Triad Epidemiologi
1. Agent
Pasien yang berada dirumah sakit memungkinkan mereka tidak terlindungi dari bermacam-macam mikroorganisme. Hubungan antara pasien dan mikoroorganisme  itu sendiri akibat dari perkembangan penyakit klinis – factor lain yang mempengaruhi sifat dasar dan frekuensi dari infeksi nosocomial. Kemungkinan pertama yang penting untuk mempercayai sebagian infeksi dalam karakteristik mikroorganisme, termasuk resistensi terhadap antimicrobial agen, virulensi dan jumlah dari bahan yang terinfeksi. Banyak bakter, virus, fungi dan parasite lain yang memungkinkan menyebabkan infeksi nosocomial. Infeksi kemungkinan disebabkan oleh mikroorganisme yang diperoleh dari orang lain di rumah sakit (cross-infeksi) atau dapat disebabkan oleh dari dalam diri individu itu sendiri (endogenous-infeksi). Beberapa organisme diperoleh dari kontaminasi yang bersumber dari manusia lain. 3
Sebelum pengenalan dasar-dasar praktik yang hygiene dan antibiotic ke dalam praktik medic, kebanyakan rumah sakit berhubungan dengan zat-zat pathogen (penyakit yang disebabkan oleh makanan dan udara, tetanus, etc) ataujuga dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang tidak ada didalam diri individu (diphtheria, tuberculosis). Kebanyakan infeksi diperoleh di rumah sakit disebabkan oleh mikroorganisme yang mana biasanya dari populasi yang umum, yang mereka menyebabkan tidak atau lebih sedikit penyakit daripada diantara pasien rumah sakit. 3





Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri gram negatif yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan dan manusia. Bakteri ini ditemukan di air dan tanah. Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang dengan ukuran sekitar 0,6 x 2 μm.



2.   Host
-          pasien sendiri
Pasien mungkin mendapak infeksi nosocomial akibat kondisi tubuhnya tidak fit atau imunitas yang rendah, umur, penyakit bawaan, diagnosis dan terapi. Dapat menyerang seluruh umur, anak-anak, muda, tua yang mana resistensi tubuhnya terhadap infeksi menurun. Pasien yang mempunyai riwayak penyakit kronis seperti tumor ganas, leukemia, diabetes militus, gagal ginjal, AIDS mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk terserang bakteri pathogen. 3
-          Staf Rumah Sakit
Dokter dan personeil paramedic merupakan sumber infeksi yang penting dalam terjadinya infeksi nosocomial, perlu diperhatikan kesehatan dan kebersihannya, pengetahuan tentang septik dan aseptic, dan keterampilan teknik perawatan. 2
-          Keluarga pasien yang berkunjung
Jika keluarga pasien tidak mematuhi peraturan yang ada di rumah sakit, maka akan menyebabkan kemungkinan bagi mereka untuk terserang infeksi nosocomial ini. Terlebih lagi mereka mempunya kemiripan factor gen.

3.   Lingkungan

Faktor Lingkungan tak kalah pentingnya sebagai penunjang untuk terjadinya infeksi nosocomial bagi pasien yang dirawat. Umumnya pasien yang dirawat diharuskan menampung sputumnya setiap kali batuk. Kebanyakan pasien membuang sputum yang berkumpul tersebut di WC atau di kamar mandi terkontaminasi bakteri yang ada di sputum. Hal ini perlu mendapat perhatian, arena dilaporkan bahwa air mandi yang terkontaminasi mikroorganisme pathogen dan berhasil merenggut korban sebanyak 128 dan meninggal 29 orang. Sedangkan sirkulasi udara perlu mendapat perhatian. Sepeti dibangsal-bangsal yang dihuni oleh banyak pasien. Di ruangan ini sirkulasi udara kurang baik, sehingga terjadinya infeksi nosocomial pada pasien yang dirawat mungkin sekali. Mengenani pembuangan bahan yang harus dibuang yang perlu mendapat perhatian adalah pembuangan sputum yang dilakukan oleh pasien di kamar mandi / WC akan berbahaya tidak saja bagi pasien, tetapi juga bagi petugas / orang lain. 3

2.4. Transmisi Infeksi Nosokomial
Gambar dibawah ini menunjukkan Transmisi Infeksi Nosokomial.

 Sumber :  Pengendalian Infeksi Nosokomial di RS Persahabatan, Jakarta. H. Thamrin Hasbullah. 1993. www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_082_infeksi_nosokomial_(i).pdf





Bakteri yang menyebabkan infeksi nosokomial dapat menyebar dalam berbagai cara :
1.      Yang telah permanen atau hanya singgah sementara pada pasien
(endogenous infection). Bakteri ada dikeadaan normal yang menyebabkan transmisi baik dari habitat luar dan dalam (system urinaria), merusak jaringan (melukai) atau penggunaan antiobiotik yang tidak tepat. Sebagai contoh, bakteri gram negative yang menyerang saluran pencernaan sering kali disebabkan daerah pembedahan atau bekas operasi yang terinfeksi setelah melakukan operasi di bagian perut atau menyerang sisitem urinaria di salauran kencing. 3
2.      Ke pasien yang lain atau para pegawai
(exogenous cross-infection). Bakteri menular diantara pasien : (a). kontak langsung diantara pasien (tangan, kelenjar saliva (air ludah)). (b). dari udara (debu atau sirkulasi udara yang terkontaminasi oleh bakteri yang sudah menyerang pasien). (c). melalui kontaminasi oleh pegawai/perawat (tangan, baju, hidung dan tenggorokan/kerongkongan) yang dapat jadi itu terjadi untuk sementara atau karir permanen. (d). melalui objek yang terkontaminasi dari pasien (termasuk peralatan), tangan pegawai, pengunjung atau sumber dari lingkungan itu sendiri (air, gas, makanan). 3
3.      Ke lingkungan
(endemic or epidemic exogenous environmental infections). Beberapa tiper dari mikroorganisme yang selalu ada di lingkungan rumah sakit :
-          Di air, area yang lembab/basah, dan adakalanya di produk yang steril atau tidak terinfeksi (Pseudomonas, Acineotobacter, Myobacterium).
-          Di peralatan yang digunakan untuk perawatan
-          Pada makanan
-          Pada debu (bakteri yang diameternya lebih kecil dari 10µm tinggal pada udara pada beberapa jam dan dapat terhirup pada keadaan yang bersamaan dengan debu). 3

2.5. Riwayat Alamiah
2.5.1. Masa Inkubasi dan Klinis
Masa Inkubasi pada Infeksi Nosokomial adalah 3 x 24 jam sejak mulai pasien dirawat
2.5.2. Masa Laten dan Periode Infeksi
Masa Laten dan Periode Infeksi Noskomial ini tergantung dari imunitas pasien sendiri. Jika ia mempunyai imunitas yang kuat terhadap factor eksogen (kelompok yang merawat, alat medis, serta lingkunga) yang tidak baik. Maka bisa jadi ia tidak terserang Infeksi Nosokomial. Dan jika imunitasnya tidak cukup kuat, maka dapat jadi pasien tersebut dirawat berhari, berminggu-minggu dan lebih parahnya berbulan-bulan.3

2.6. Pencegahan
Pencegahan Infeksi Nosokomial dapat dilakukan dengan berbagai cara :
2.6.1. Stratifikasi Risiko
Perolehan Infeksi Nosokomial di tentukan dari semua pasien factor, seperti imunitas yang membahayakan dan melakukan campur tangan yang dapat meningkatkan factor risiko. Perawatan pasien harus dibedakan berdasarkan macam-macam infeksi yang ada. Penilaian risiko akan sangat membantu untuk mengkategorikan pasien dan mengontrol infeksi yang kira-kira akan ada pada kedepannya.
2.6.2. Mengurangi Transmisi dari orang ke orang
- Hand decontamination
Dapat dilakukan dengan mencuci tangan, menjaga kehigienisan diri khususnya tangan
-    Personal hygiene
Para pegawai harus mempunyai personal hygiene yang baugs. kuku harus bersih dan tetap pendek. Rambut sekiranya pendek dan terikat. Jambang atau kumis pendek dan bersih
2.6.3. Clothing
- Working clothes
Normalnya para pegawai memakai pakaian yang seragam dan ditutupi oleh jas putih
-    Sepatu
Diderah yang harus terjaga kebersihannya dan di ruang operasi, para pegawai harus memakai sepatu yang sudah distandarkan, yang mana mudah dipakai dan dibersihkan
2.6.4. Masker
Menggunakan masker yang terbuat dari wool, atau bahan-bahan lain yang tidak mudah terinfeksi.

2.6.5. Sarung Tangan
Sarung Tagan digunakan untuk :
-          Melindungi pasien : para staff menggunakan sarung tangan yang steril untuk operasi, dan kegiatan lain
-          Sarung tangan yang tidak steril harus dijauhkan dari pasien
-          Tangan harus dicuci bersih ketika sarung tangan dilepas

2.6.6. Praktik Menyuntik yang Aman
Untuk mencegah transmisi diantara pasien dan suntikan :
-          Mengurangi suntikan yang ridak perlu
-          Menggunakan jarum suntik yang aman
-          Gunakan jarum suntik untuk sekali pakai
-          Mencegah kontaminasi melalui obat
-          Patuhi semua peraturan yang ada

2.6.7. Mencegah Transmisi dari lingkungan
- Lingkungan Rumah Sakit yang bersih
- Rutin untuk membersihkan area rumah sakit, memungkinkan pengurangan mikroorganisme yang hidup dalam kondisi kotor.
- Harus ada kebijaksanaan tentang seberapa sering rumah sakit dibersihkan
- Mencegah Infeksi perlengkapan pasien
- harus menemukan cara untuk membasmi organisme
- mempunyai bahan pembersih
- harus mengetahui jumlah bakteri yang ada, tingkat kebahayaannya di air atau kehadiran mereka di sabun dan protein
- Menggunakan air hangat untuk membersihkan alat-alat seperti peralatan kebersihan, alat dapur, dll.
- Sterilisasi
Sterilisasi digunakan untuk membasmi mikroorganisme. Dengan cara ini dapat mengurangi mikroba yang berukuran 10-6. 3

2.7. Pengobatan
            Pemeriksaan Mikrobiologi Klinik berperan dalam seluruh tahapan asuhan/pelayanan medis yang berhubungan dengan tatalaksana/pengobatan penderita penyakit infeksi yang meliputi :
·         Tahapan Penapisan
1.      Langsung : Leptospiroses, Lues, dsb
2.      Pengecatan : Dipteri, Tuberkulosis, Gas gangrene, Gonorhae, Mikosis, dsb
·         Tahap Diagnostik
1.      Kultur dan Tes Resistensi
2.      Tes Immuno-Serologi : Demam Tifoid, Sifilis, Demam Berdarah, AIDS, TORCH, SARS, Avian Flu, dsb
3.      Tes Mikrobiologi Molekuler : TBC, Avian Flu, SARS
·         Pengelolaan penderita (monitoring)/tindak lanjut (hasil terapi antibiotic)
·         Pemeriksaan lanjutan Kultur dan Tes Resistensi
·         Screening donor darah
Tes Serologi : Sifilis, AIDS, Malaria, Demam Tifoid, dan Hepatitis B

            Pemriksaan mikrobiologi klinik memungkinkan untuk mengetahui kuman penyebab infeksi beserta gambaran pola keperkaan kuman terhadap antibiotic, sehingga akan membantu klinisi dalam pemilihan antibiotika. Hanya saja untuk pemeriksaan sampai indentifikasi memerlukan waktu 3-4 hari, sementara itu pemberian antibiotic kepada pasien tidak dapat ditunda. Dalam keadaan seperti ini maka pemilihan antibiotic secara educated guess sangat penting berdasarkan gambaran pola kepekaan kuman setempat. 9




Bab III 
Penutup


3.1.Kesimpulan
Berdasarkan dari informasi yang saya dapat mengenai Infeksi Nosokomial di dunia, bahkan di Indonesia dapat disimpulkan bahwa Infeksi Nosokomial ini sangat perlu dikendalikan dan harus diprioritaskan agar bisa memutus rantai infeksi. Apabila tidak maka semakin banyak orang yang akan menderita penyakit ini, menurunkan derajat kesehatan, dan juga infeksi nosocomial akan mencemari citra rumah sakit.

3.2.Saran
1.      Rumah Sakit
Perlu adanya tim pengendalian Infeksi Nosokomial. Harus ada pengawasan ketat untuk pemberian antibiotika, diadakan pemeriksaan kultur ruangan secara berkala, disediakan alat kesehatan yang dibutuhkan diruang-ruang perawatan yang menunjang untuk kejadian Infeksi Nosokomial
2.      Perawat
Manajer keperawatan harus mampu memberikan support system kepada perawat pelaksana agar pelayanan tetap berkualitas dan perawatan jalan nafas sesuai dengan instruksi kerja. Bagi supervise keperawatan harus selalu ikut survey terhadap pencegahan Infeksi Nosokomial. Perawat pelaksana hendaknya memotivasi diri sendiri serta belajar mandiri dalam meningkatkan skill keperawatan intensif.
3.      Pengunjung
Kepada Pengunjung, terutama kepada keluarga terdekat dari pasien diharapkan kesadaran dari dalam dirinya sendiri untuk tetap mematuhi semua peraturan yang ada di rumah sakit, berperilaku hygiene dengan tidak meludah sembarangan, membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan diri maupun lingkungan yang ada disekitar di rumah sakit.



DAFTAR PUSTAKA

1.     Andreas Budi K, Sri Seiyarini, Syahirul Alim. Gambaran Ketaatan Perawatan Jalan Nafas dan kejadian Infeksi Nosokomial Saluran Pernafasan di  ICU Rs. X Yogyakarta. Jurnal di Internet. 2009. www.pdii.lipi.go.id

2.     Pengendalian Infeksi Nosokomial di RS Persahabatan, Jakarta. H. Thamrin Hasbullah. 1993. www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_082_infeksi_nosokomial_(i).pdf

3.    Prevention of hospital-acquired infections A practical guide 2nd edition World Health Organization Department of Communicable Disease, Surveillance and Response.2002. http://www.who.int/emc.


4.     Mardan Ginting. Infeksi Nosokomial dan Manfaar Pelatihan Keterampilan Perawat Terhadap Pengendaliannya di Ruang RAwat Inap Penyakit Dalam RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2001. www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_082_infeksi_nosokomial_(i).pdf

5.     Parhusip. Factor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Infeksi Nosokomial serta Pengendaliannya di BHG UPF Paru RS. Dr. Pirngadi?Lab. Penyakit Paru FK-USU. 1993. www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_082_infeksi_nosokomial_(i).pdf

6.      Djoko Roeshadi, Alit Winarti. Pengendalian Infeksi Nosokomial di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. 1993. www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_082_infeksi_nosokomial_(i).pdf

7.      7. Teresa C. Horan, M.P.H. John W. White, Ph.D. William R. Jarvis, M.D. T. Grace Emori, R.N., M.S. David H. Culver, Ph.D. Van P. Munn, B.S. Clyde Thornsberry, Ph.D. David R. Olson, Ph.D. James M. Hughes, M.D. Hospital Infections Program Center for Infectious Diseases. Nosocomial Infection Surveillance, 1984. www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/00001772.htm

8. Lia Natalia. Pseudomonas aeruginosa, Penyebab Infeksi Nosokomial. mikrobia.files.wordpress.com/2008/05/lia-natalia078114123.pdf

9.  Hendro Wahjono. Peran Mikrobiologi Klinik Pada Penaganan Penyakit Infeksi. 2007. eprints.undip.ac.id/320/1/Hendro_Wahjono.pdf





Gambar Pendukung

1.      Penyakit yang ditimbulkan




Sumber :  Lia Natalia. Pseudomonas aeruginosa, Penyebab Infeksi Nosokomial. mikrobia.files.wordpress.com/2008/05/lia-natalia078114123.pdf



Akhir kata saya mengucapkan :


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar