Welcome


Rabu, 02 November 2011

DEMAM BERDARAH


BY : MONIKA FEBRIANTI UTAMI
10101001040
DEMAM BERDARAH
  1. RESUME
Nama penyakit Demam Berdarah bisa membuat kita merinding bila mendengarnya. penyakit demam berdarah ini menggiring penderitanya dalam kondisi yang parah hanya dalam waktu yang relatif singkat tetapi tidak sedikit kasus yang berakhir dengan kematian. Dari tahun ke tahun jumlah penderita penyakit ini semakin meningkat.  Bahkan di musim hujan hampir tidak ada daerah di Indonesia yang terbebas dari serangan penyakit demam berdarah.  Salah satu penyebabnya, yaitu pengaruh globalisasi dan mobilisasi yang semakin tinggi. Hal ini turut mempermudah penyebaran penyakit demam berdarah. Oleh karena itu cukup sulit menghindari penyakit demam berdarah.
Penyakit Demam berdarah ini disebabkan oleh virus dengue, virus ini disebarkan oleh nyamuk aedes aegypty yang berperan sebagai vektor dan hostnya dalah manusia yang rentan terkena penyakit ini. Lingkungan juga memegang peran penting dalam penyebaran penyakit ini karena dengan adanya interaksi antara lingkungan dengan manusia menyebabkan manusia menjadi lebih mudah terpapar dengan penyakit ini.
 Belum ada obat untuk melumpuhkan virus dengue. Yang dilakukan dalam penanggulangan DBD hanya memberikan infus sedini mungkin untuk menghindari kegagalan sirkulasi darah. Maka untuk memberantas penyakit DBD diperlukan peran serta masyarakat khususnya dalam memberantas nyamuk penularnya, guna mencegah dan membatasi penyebaran penyakit. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat sesuai dengan kondisi setempat.

  1. PENDAHULUAN
  1. Data kasus penyakit demam berdarah dunia, nasional, Sumsel dan Palembang situasi global demam berdarah.
Diperkirakan bahwa hampir 50 juta infeksi demam berdarah terjadi setiap tahun di dunia(1). Situasi terbaru dari demam berdarah di SEA (South-East Asia) demam berdarah endemik di banyak negara di wilayah asia tenggara. Ini berarti bahwa kasus-kasus terjadi setiap tahun, meskipun ada variasi yang signifikan antara negara-negara dan di dalam masing-masing negara. Pada tahun 2003, delapan negara SEA Daerah (Bangladesh, India, Indonesia, Maladewa, Myanmar, Sri Lanka, Thailand dan Timor-Leste) melaporkan kasus demam berdarah. Jumlah kasus demam berdarah yang dilaporkan di negara-negara Daerah SEA ditunjukkan pada Tabel 1(1).
Table 1: Number of reported cases of dengue in SEA Region countries

Country
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010*
Bangladesh*
5,551
2,430
6,132
486
3,913
1048
2200
466
1153
474
76
Bhutan
0
0
0
0
2,579
11
116
86
73
351
16
DPR Korea
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
India*
650
3,306
1,926
12,754
4,153
11985
12317
5023
12561
15535
9357
Indonesia
33,443
45,904
40,377
51,934
79,462
95279
106425
157442
155607
156052
80065
Maldives
180
73
27
38
742
1126
2768
1680
1476
774
550
Myanmar**
1,884
15,695
16,047
7,907
7,369
17454
11383
15285
14480
24287
11704
Nepal
0
0
0
0
0
0
25
3
6
30
2
Sri Lanka
3,343
4,304
8,931
4,749
15,463
5994
11980
7314
6555
35010
27142
Thailand
18,617
139,327
114,800
62,767
38,367
45,893
42456
62949
89626
25194
57948
Timor Leste




434
1128
162
210
186
175
473
SEAR
63,668
211,039
188,240
140,635
152,482
179918
189832
250458
281723
257882
187333
*Only confirmed cases
**official data awaited

Tabel 2(1) menunjukkan kejadian (tingkat di mana kasus baru terjadi) dari  kasus yang dilaporkan di negara tertentu. Hal ini dapat dilihat bahwa kejadian kasus yang dilaporkan
tampaknya bervariasi antara negara-negara Daerah SEA.
Table 2: Incidence of reported dengue cases in the SEA Region

Country
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010*
Bangladesh
3.95
1.70
4.21
0.33
2.60
0.68
1.42
0.30
0.72
0.29
0.05
Bhutan




409.37
1.72
17.58
12.84
10.74
50.14
2.29
DPR Korea











India
0.06
0.32
0.18
1.20
0.38
1.10
1.11
0.45
1.10
1.31
0.79
Indonesia
16.31
22.07
19.23
24.38
36.79
43.51
48.16
70.29
68.55
66.83
34.29
Maldives
66.18
26.45
9.64
13.38
257.64
385.62
935.14
560.00
483.93
253.77
180.33
Myanmar*
4.04
33.39
33.93
16.61
15.35
36.14
23.37
31.13
29.25
45.48
21.92
Nepal






0.09
0.01
0.02
0.10
0.01
Sri Lanka
17.88
22.89
47.25
24.86
79.71
30.58
60.51
36.57
32.61
169.13
131.12
Thailand
29.88
221.51
180.22
97.31
58.85
69.64
63.84
94.09
133.17
37.00
85.09
Timor Leste




45.68
113.94
15.88
19.81
17.06
14.58
39.42
SEAR
4.20
13.72
12.06
8.88
9.49
11.04
11.50
14.98
16.62
14.65
10.64
*official data awaited

Tabel 3(1) menunjukkan nilai (CFR) di negara-negara Daerah SEA. Hal ini dapat dilihat bahwa CFR bervariasi dari waktu ke waktu dalam  negara dan antara negara yang berbeda. CFR tergantung pada banyak faktor seperti perilaku pelayanan kesehatan dan ketersediaan pengobatan. Secara keseluruhan ada sedikit penurunan nilai CFR dalam 10 tahun terakhir di Wilayah SEA.
 
Table 3: Case Fatality Rate among reported cases of dengue in SEAR MS
Country
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010*
Bangladesh
1.68
1.81
0.95
2.06
0.33
0.38
0.50
0.21
0.00
0.00
0.00
Bhutan




0.00
0.00
0.00
2.33
6.85
2.28
12.50
DPR Korea











India
1.08
1.60
1.71
1.69
1.08
1.31
1.49
1.23
0.64
0.62
0.31
Indonesia
1.41
1.08
1.32
1.53
1.20
1.36
1.03
0.92
0.60
0.89
0.93
Maldives
0.56
0.00
3.70
0.00
0.40
0.00
0.36
0.12
0.20
0.26
0.00
Myanmar*
0.74
1.30
1.06
0.99
1.07
0.97
1.12
1.12
0.69
0.75
0.82
Nepal






0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
Sri Lanka
1.11
1.25
0.72
0.67
0.57
0.45
0.37
0.34
0.29
0.99
0.77
Thailand
0.17
0.18
0.15
0.12
0.13
0.15
0.14
0.11
0.11
0.01
0.12
Timor Leste




0.46
3.63
0.00
2.86
0.54
0.00
0.21
*official data awaited



Di Indonesia jumlah kasus yang dilaporkan mulai meningkat pada tahun 2004 dan
mencapai dataran tinggi antara 2007 dan 2009(1)
. Sedangkan Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dalam empat tahun terakhir mengalami penurunan, pada 2007 mencapai 3.487 kasus dan pada 2010 tinggal sekitar 990 kasus(2). setiap tahun jumlah kasus DBD di Sumsel mengalami penurunan, hal ini terbukti pada 2007 lalu jumlah kasus DBD di Sumsel mencapai 3.487 kasus, dengan 13 kasus kematian (CFR,04%), tapi pada 2008 menurun menjadi 2.360 kasus DBD dengan jumlah kematian 10 orang (CFR,0,42%). ”Di tahun 2009 jumlah kasus DBD menurun hingga 1.854 kasus dengan 6 kematian (CFR,0,32%), dan hingga Oktober 2010 ini kasus DBD turun drastis menjadi hanya 990 dengan tiga orang meninggal dunia (CFR, 0,32%) (2,3,4).
Di Palembang, meski pada tahun 2010 ada 97 kelurahan  dari total 107 kelurahan yang ada di Palembang  berstatus endemik DBD, dinas kesehatan menyatakan, jumlah warga Palembang yang menderita DBD terus menurun setiap tahun. Jumlah penderita DBD di Palembang pada tahun 2009 menurun cukup tajam jika dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2008 jumlah penderita DBD sebanyak 1.581 orang, berkurang menjadi 468 orang tahun 2009. Jumlah warga penderita DBD yang meninggal dunia juga berkurang. Jika pada tahun 2008 ada 7 penderita DBD meninggal dunia, tahun 2009 korban meninggal dunia turun menjadi 2 orang(5). Sejak awal 2011 hingga akhir Maret, tercatat ada sekitar 102 orang yang menderita DBD(6).

  1. urgensi penyakit demam berdarah dalam kesehatan masyarakat
Penyakit DBD kini telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di banyak negara tropis Asia Tenggara dan di wilayah Pasifik Barat, yang menyita perhatian para ahli kesehatan dunia. Penyakit ini termasuk ke dalam sepuluh penyebab perawatan di rumah sakit dan kematian pada anak-anak, sedikitnya di delapan negara tropis asia. Peneliti dan manajer program yang mempelajari penyakit dengue di wilayah Asia Tenggara telah menunjukkan berbagai wilayah yang memperlihatkan respon yang berbeda terhadap infeksi dan hal ini memyebabkan pola epidemiologis yang juga berlainan(7). Epidemiologi yang kompleks dari DBD semakin diperumit di tingkat lokal akibat sosial ekonomi dan kebiasaan budaya yang berbeda di berbagai komunitas dalam wilayah tersebut. Kompleksitas epidemiologis memerlukan solusi yang spesifik untuk pelaksanaan kegiatan pencegahan dan pengendalian DBD.
Di tahun 2004 penyakit ini menjadi berita utama di hampir semua surat kabar nasional(8).  Semua rumah sakit kebanjiran penderita DBD dan tidak sedikit kasus yang berakhir dengan kematian. Apalagi kini DBD tidak pandang bulu. Dahulu penyakit ini lebih banyak menyerang anak-anak dan kalangan menengah bawah. Kini, orang dewasa hingga manula dan masyarakat  kelas atas pun tidak sedikit yang menderitanya. Oleh karena itu penyakit ini cukup merata dari segi umur dan strata sosial. Di musin hujan, hampir tidak ada daerah di Indonesia yang terbebas dari serangan penyakit DBD. Penelitian menunjukkan bahwa DBD telah ditemukan di seluruh provinsi di Indonesia. Dua ratus kota melaporkan adanya kejadian luar biasa (KLB). Angka kejadian meningkat dari 0,005 per 100.000 penduduk pada tahun 1968 dan secara drastis melonjak menjadi 627 per 100.000 penduduk(8). Pada tahun 2007 KLB DBD dinyatakan terjadi di DKI jakarta(9). Biasanya jumlah penderita semakin meningkat saat memasuki bulan april. Hal ini terjadi karena korelasi dengan suhu atau curah hujan.

  1. ISI
i.                    Triad Epidemiologi
  1. Agent
Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue, sejenis virus yang tergolong arbovirus yang masuk kedalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk aedes aegypti betina(10). Virus dengue termasuk genus flavivirus dari keluarga flaviviridae(11). Virus yang berukurang kecil (50 nm) ini mengandung RNA berantai tunggal. Virionnya mengandung nukleokapsid berbentuk kubus yang terbungkus selubung lipoprotein. Genome virus dengue berukurang panjang sekitar 11.000 pasang basa dan terdiri dari tiga gen protein struktural yang mengodekan nukleokapsid atau protein inti (core, C) satu protein terikat membran (membrane,M) satu protein penyelubung (envelope, E) dan tujuh gen protein nonstruktural (nonstructural, NS).(11) Selubung glikoprotein berhubungan dengan hemaglutinasi virus dan aktivitas netralisasi. Virus dengue membentuk kompleks yang khas didalam genus flavivirus berdasarkan karakteristik antigenik dan biologisnya. Ada empat serotipe virus yang kemudian dinyatakan dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4.(10,11) Infeksi yang terjadi dengan serotipe manapun akan memicu imunitas seumur hidup terhadap serotipe tersebut. Walaupun secara antigenik serupa, keempat serotipe tersebut cukup bebeda di dalam menghasilkan perlindungan silang selama beberapa bulan setelah terinfeksi salah satunya.
Virus dengue dari keempat serotipe tersebut juga dihubungkan dengan kejadian epidemi demam dengue saat bukti yang ditemukan tentang DHF sangat sedikit atau bahkan tidak ada. Keempat virus serotipe tersebut juga menyebabkan epidemi DHF yang berkaitan dengan penyakit yang sangat berbahaya dan mematikan. Dapat menyerang semua umur baik anak anak maupun orang dewasa. Faktor penyebar  (vektor) penyakit DBD adalah Aedes aegypti dan aedes Albopictus (11). Penyakit ini termasuk termasuk dalam kelompok anthropod borne disease karena virus dengue sebagai penyebab demam berdarah hanya dapat ditularkan melalui nyamuk(8). Nyamuk aedes aegypti hidup di daratan rendah beiklim tropis- subtropis. Badan nyamuk relatif lebih kecil dibandingkan nyamuk yang lainnya. tubuh dan tungkain ditutupi sisik dengan garis garis putih keperakan. Di bagian punggung (dorsal) tubuhnya tampak dua garis melengkung vertikal dibagian kiri dan kanan yang menjadi ciri dari nyamuk spesies ini(11). Nyamuk ini sangat menyukai tempat yang teduh dan lembab, suka bersembunyi dibawah kerindangan pohon. Ataupun pada pakaian yang tergantung dan bewarna gelap. Nyamuk ini bertelur pada genangan air yang jernih yang ada dalam wadah pada air kotor ataupun air yang langsung bersentuhan dengan tanah. Hanya nyamuk wanita yang mengigit dan menularkan virus dengue.nyamuk aedes aegypty bersifat diurnal, yaitu aktif pada pagi dan siang hari(11). Umumnya mengigit pada waktu siang hari (09.00-10.00) atau sore hari pukul (15.00-17.00)(9). Nyamuk ini akan bertelur tiga hari setelah menghisap darah, karena darah merupakan sarana untuk mematangkan telurnya. Dalam waktu kurang dari delapan hari telur tersebut sudah menetas dan berubah menjadi jentik-jentik larva dan akhirnya menjadi nyamuk dewasa yang siap menggigit. Kemampuan terbang nyamuk mencapai radius 100-200 m.

  1. Host
Dalam hal ini manusia lah yang menjadi host atau target penyakit DBD(11). Meskipun penyakit DBD dapat menyerang segala usia beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak lebih rentan tertular penyakir yang berpontensi mematikan ini. Di Indonesia penderita penyakit DBD terbanyak berusia 5-11 tahun(11). Secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan jenis kelamin penderita tetapi angka kematian lebih banyak pada anak perempuan dibandingkan laki-laki. Anak-anak lebih rentan terkena penyakit ini salah satunya disebabkan oleh imunitas yang relatif lebih rendah di bandingkan orang dewasa. Manusia yang terkena gigitan nyamuk aedes aegypti tidak selalu dapat mengakibatkan demam berdarah dan virus dengue yang sudah masuk kedalam tubuh pun tidak selalu dapat menimbulkan infeksi(9). Jika daya tahan tubuh cukup maka dengan sendirinya virus tersebut dapat dilawan oleh tubuh. Sebelum seseorang terkena DBD, didalam tubuhnya telah ada satu jenis serotipe virus dengue (serangan pertama kali). Biasanya, serangan pertama kali ini menimbulkan demam dengue. Ia akan kebal seumur hidup terhadap serotipe yang menyerang pertama kali itu. Namun hanya akan kebal maksimal 6 bulan – 5 tahun terhadap serotipe virus dengue lain(8).

  1. Environment
Di Indonesia, penyakit DBD menjadi masalah kesehatan masyarakat karena jumlah penderitanya tinggi dan penyebarannya yang semakin luas, terutama di musim penghujan. Sejumlah pakar setuju bahwa kondisi ini juga di pengaruhi oleh budaya masyarakat yang senang menampung air untuk keperluan rumah tangga dan kebersihan dirinya. Hal ini menjadi faktor eksternal yang memudahkan seseorang menderita DBD. Nyamuk ini sangat senang berkembang biak di tempat penampungan air karena tempat itu tidak terkena sinar  matahari langsung. Nyamuk ini tidak dapat hidup dan berkembang biak di daerah yang berhubungan langsung dengan tanah. Berikut ini tempat perkembangbiakan nyamuk(12), yaitu:
-          Tempat penampungan air untuk keperluan sehari-hari, seperti drum, tangki, tempayan, bak mandi dan ember.
-          Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari- hari, seperti tempat minum burung, vas bunga, perangkap semut, dan barang-barang bekas yang dapat menampung air.
-          Tempat penampungan air alamiah, seperti lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang dan potongan bambu.
Penelitaan juga menunjukkan di daerah dengan persediaan air tanpa PAM, perkembangan nyamuk aedes aegypti lebih tinggi karena penampungan air lebih banyak dibandingkan di daerah yang sudah tersedia air dengan saluran pipa(8). Di daerah ini air tidak perlu ditampung lebih dahulu sehingga nyamuk tidak sempat berkembang biak. Lingkungan memegang peranan yang besar dalam penyebaran penyakit demam berdarah sehingga menjaga lingkungan sekitar menjadi prioritas utama agar kasus DBD tidak terjadi lagi.

ii.                  transmisi penyakit demam berdarah
Virus dengue ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina yang infektif karena hanya nyamuk betina yang menghisap darah(11). Nyamuk aedes aegypti betina menyimpan virus dengue di  dalam telurnya. Menghisap darah untuk memperoleh asupan protein antara lain prostaglandin, yang diperlukan untuk bertelur. Infeksi virus dalam tubuh nyamuk dapat menyebabkan perubahan perilaku pada peningkatan kompetensi vektor, yaitu kemampuan nyamuk menyebarkan virus. Infeksi virus dengue dapat menyebabkan nyamuk kurang handal dalam menghisap darah, berkali-kali menusukkan alat penusuk dan penghisap darahnya (proboscis), tetapi tidak berhasil menghisap darah, sehingga nyamuk tidak berpindah dari satu orang ke orang lain. Akibatnya resiko penularan penyakit DBD semakin besar.

iii.                Riwayat Alamiah Penyakit Demam Berdarah
Proses Penyakit Demam Berdarah Virus dengue dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus sebagai vektor/pembawa ke tubuh manusia melalui gigitan. Infeksi yang pertama kali dapat menimbulkan gejala demam dengue saja. Apabila orang tersebut mendapat infeksi berulang oleh tipe virus dengue yang berlainan akan menimbulkan reaksi yang berbeda atau disebut Demam Berdarah Dengue (DBD). Virus dengue berkembang di limpa manusia lalu menyebar ke seluruh jaringan tubuh terutama ke sistem kulit melalui peredaran darah. Akibat virus ini, tubuh membentuk anti bodi untuk melawan virus dengue dengan cara mengaktifkan anafilatoksin C3a dan C5a, yang menimbulkan efek meningkatnya daya tahan permeabilitas dinding pembuluh darah. Hal inilah yang menimbulkan bintik-bintik merah pada kulit.
Menurut WHO(13), 1986, diagnosis DBD dapat ditegakkan apabila :
  • Suhu badany ang tiba-tiba meninggi
  • Demam yang berlangsung beberapa hari
  • Kurva demam menyerupai pelana kuda, saat suhu tubuh mencapai puncaknya (>38˚C) lalu turun secara perlahan-lahan.
  • Nyeri tekan terutama di otot-otot dan persendian
  • Adanya bintik-bintik merah pada kulit
  •  Leukopenia/Sel darah merah yang kurang dari normal.

  1. masa inkubasi dan klinis
masa inkubasi penyakit DBD, yaitu sejak virus dengue menginfeksi manusia hingga menimbulkan gejala klinis antara 3-14 hari, rata-rata antara 4-7 hari(11).Tanda dan gejala amat bervariasi, dari yang ringan, sedang sampai ke perdarahan, serta kecendrungan terjadi renjatan/koma.
Dengan gejala, sebagai berikut :
- Peningkatan suhu secara tiba-tiba
- Nyeri pada kepala
- Nyeri pada otot dan tulang
- Mual dan kadang muntah
- Batuk ringan
- Pada mata dapat ditemukan pembengkakan
- Timbul bercak kemerahan pada lengan, kaki dan seluruh tubuh pada hari ke-3 sampai ke-6.
- Lidah kotor
- Kesulitan buang air besar
- Perdarahan pada hari ke 3-5 berupa bintik-bintik merah, berak darah, muntah darah, mimisan (epistaksis)
- Hati membesar dan terdapat nyeri tekan
- Pucat terutama pada hidung dan ujung-ujung jari

Pada Masa klinis, derajat beratnya DBD dapat dibagi menjadi(9) :
1. Derajat satu/ringan :
- Demam mendadak selama 2 - 7 hari
- Perdarahan ringan
- Uji turniket / bendungan darah positif
2. Derajat dua / sedang :
- Perdarahan pada kulit
- Perdarahan pada tempat yang lain seperti mimisan, gusi
-trombocyt sudah turun.
3. Derajat tiga :
- Ditemukan tanda-tanda shock dini seperti pucat
-terjadi kegagalan sirkulasi darah.
4. Derajat empat :
- sudah terjadi shock
- Nadi dan tekanan darah tidak terukur
Untuk menegakkan diagnosa Demam Berdarah, perlu pemeriksaan lebih lanjut di fasilitas pelayanan kesehatan.

  1.  masa laten dan periode infeksi
Penyakit DBD tidak ditularkan langsung dari orang ke orang. Penderita menjadi infektif bagi nyamuuk pada saat viremia, yaitu beberapa saat menjelang timbulnya demam hingga saat masa demam berakhir, biasanya berlangsung selama 3-5 hari. Nyamuk aedes aegypti menjadi infektif 8-12 hari sesudah menghisap darah penderita DBD sebelumnya(7). Selama periode ini nyamuk aede aegypti yang telah terinfeksi virus dengue ini akan tetap infektig selama hidupnya dan potensial menularkan virus dengue kepada manusia yang rentan lainnya.


iv.                Pencegahan
Nyamuk Aedes Aegypti tersebar luas baik di rumah-rumah maupun di tempat-tempat umum, maka untuk memberantas penyakit DBD diperlukan peran serta masyarakat khususnya dalam memberantas nyamuk penularnya, guna mencegah dan membatasi penyebaran penyakit. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat(14), yaitu :
1.      Lingkungan
Adanya interaksi antara manusia dengan lingkungan menyebabkan manusia menjadi lebih mudah terpapar baik secara langsung maupun tak langsung dengan nyamuk Aedes Aegypti. Gaya hidup masyarakat akan menciptakan keadaan lingkungan yang sesuai dengannya dan akan menimbulkan penyakit yang sesuai pula dengan gaya hidupnya tadi. Pada penyakit DBD ini air pun mempunyai peranan penting yaitu sebagai sarang nyamuk penyebar penyakit. angka kejadian kasus penyakit DBD meningkat mulai bulan november dan mengalami puncak tertinggi pada bulan februari seiring dengan meningkatnya tinggi curah hujan pada bulan november sampai dengan bulan april(15).  perbedaan bulan antara peningkatan kasus penyakit DBD dengan tinggi curah hujan disebabkan karena nyamuk aedes aegypti memerlukan lingkungan hidup yang ideal untuk berkembang biak. Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)(16), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia dan perbaikan desain rumah.

2.      Biologis
melaksanakan pengendalian lingkungan yang bertujuan mengurangi   atau menghilangkan vektor antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan kepala timah, ikan adu/ikan cupang) dan bakteri (Bt. H-14).
3.      Kimiawi
Pengendalian ini menggunakan bahan bahan kimia, antara lain dengan cara
-  Pengasapan/ Fogging massal, 2 siklus berjarak satu minggu. (dengan menggunakan malathion dan fenthion )
- Abatisasi, memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air.
4.      Pendidikan
Memberikan penyuluhan kesehatan, agar masyarakat benar-benar mengerti apa penyakit DBD itu, dan menyadari betapa pentingnya pencegahan penyakit DBD.
 Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara diatas yang disebut dengan “3M Plus” yaitu menutup, menguras dan menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat.

V. Pengobatan
Pengobatan penderita demam berdarah dapat dilakukan dengan cara(17) :
  •  Mengganti cairan tubuh
  • Penderita diberi minum sebanyak 1,5- 2 liter dalam 24 jam.
  •   Gastroenteritis oral solution/ kristal diare yaitu garam elektrolit (oralit) kalo perlu 1 sendok makan setiap 3- 5 menit.
 Belum ada obat untuk melumpuhkan virus dengue. Yang dilakukan dalam penanggulangan DBD hanya memberikan infus sedini mungkin.(9)
Contoh cara menanggulangi anak sakit demam berdarah(18)
Bila anak tidak muntah-muntah, berikan minum banyak. Tujuan utamanya adalah mengganti cairan yang merembes melalui dinding pembuluh darah. Untuk menurukan demam boleh diberi obat penurun panas, sebaiknya dari golongan parasetamol seperti panadol atau tempra. Atau anak dikompres dingin pada jidat, puncak kepala atau di atas dada sebelah kiri.
Kesulitan timbul bila anak muntah muntah terus. Sampai apapun yang masuk langsung dimuntahkan. Pada kondisi begini anak harus dilarikan kerumah sakit untuk diberikan cairan melalui infus.


  1. KESIMPULAN DAN SARAN
i.                    kesimpulan
-          Penyebab penyakit DBD di Indonesia adalah virus DBD tipe DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4.
-          perlu kewaspadaan tinggi terhadap penyakit DBD teruta pada musim penghujan
-          cara yang paling efektif untuk mencegah DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan “3M Plus” yang melibatkan seluruh masyarakat serta disesuaikan dengan kondisi setempat.

 ii. saran
-perlunya digalakkan gerakan “3m Plus” tidak hanya bila terjadi wabah tetapi harus dijadikan gerakan nasional melalui pendekatan masyarakat.
-perlunya meningkatkan pemahaman, kesadaran, sikap dan perubahan perilaku masyarakat terhadap penyakit DBD.

E. GAMBAR PENDUKUNG

sumber : http://www.google.com


sumber : Dengue Fever- "White Islands in a Sea of Red" (http://www.articleslounge.com/wp-content/uploads/2010/10/Dengue-fever-skin-rash.jpg).

Sumber : Dengue Hemorrhagic Fever- Bleeding in the Conjunctiva (http://smallcapworld.files.wordpress.com/2010/10/dengue_fever2.jpg?w=300&h=223)
sumber : http://www.google.co.id
 
 Sumber : http://www.wordpress.com
sumber : http://www.cdc.gov

 Sumber : http://www.google.com
 Sumber : http://www.google.com
 Sumber : http://www.google.com
 Sumber : http://www.google.com
 Sumber : http://www.tamanroyal.com
 sumber : http://www.google.com
sumber : http://www.dengue.gov.sg

Reference

1. Badan Kesehatan Dunia, http://www.searo.who.int/LinkFiles/Dengue_Dengue_update_SEA_2010.pdf diakses pada tanggal 28 Oktober, 2011)
2 Informasi Pagi.29 Nopember, 2011. Kasus DBD di Sumsel Turun Drastis. (online), (http://informasipagi.wordpress.com/2010/11/29/kasus-dbd-di-sumsel-turun-drastis diakses pada tanggal 17 Oktober, 2011)
3. Seputar Indonesia, 27 November, 2010. Sumsel Sukses Tekan Kasus DBD. (online) (http://www.seputarindonesia.com/edisicetak/content/view/366611/ diakses pada tanggal 17 Oktober,2011)
4. Info Sumsel, kasus DBD Sumsel Menurun (http://www.infosumsel.com/main/read/38/kasus-dbd-sumsel-menurun diakses pada tanggal 17 Oktober, 2011)
5. Kompas, http://properti.kompas.com/read/2010/05/26/04352468/Waspadai.Demam.Berdarah data palembang diakses pada tanggal 28 Oktober, 2011)
7. Salmiyatun (Ed.). 2005. pencegahan dan pengendalian dengue dan demam berdarah dengue. Jakarta : penerbit Buku Kedokteran EGC 
8. Satari, Hindra I.2004. Demam berdarah:perawatan di rumah sakit dan rumah.jakarta : puspa swara
9. Nadesul, Hendrawan. 2007. Cara Mudah Mengalahkan Demam Berdarah. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara
10.Hastuti, Oktri. 2008. Demam Berdarah Dengue. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
11. Genis, Ginanjar. 2007. Apa yang Dokter Anda Tidak Katakan Tentang Demam Berdarah. Yogyakarta : PT. Mizan Publika
12. Dinas Kabupaten Agam. Pentingya Kesehatan Lingkungan dalam Pemberantasan penyakit DBD http://agamkab.go.id/?agam=kreatifitas&se=detil&id=13
 13. badan kesehatan dunia, http://www.who.int
14. Kristina, dkk.2004. Demam Berdarah Dengue. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
15. Chandra budiman .2009.ilmu kedokteran pencegaran dan komunitas.jakarta : penerbit buku kedokteran EGC
17.Depkes. RI, Ditjen P3M 1981. “Demam Berdarah Diagnosa dan Pengelolaan Penderita”. 
18. Yatim, faisal. 2005. Macam macam penyakit menular dan cara pencegahannya. Jakarta : Yayasan obor indonesia


1 komentar:

  1. mBak/Mas... ijin share ya untuk artikel-nya ini. Terimakasih.

    BalasHapus