Welcome


Kamis, 03 November 2011

LEPTOSPIROSIS

 by:M AZIZ HASYIM(10101001027)
RESUME
Leptospirosis merupakan salah satu penyakit menular yang  terjadi akibat bakteri leptospira yang penularannya melalui hewan tapi juga bisa melalui manusia sendiri(5).leptospirosis biasa nya menyerang daerah yang memiliki udara yang hangat, tanah yang basah dan pH alkalis. Seperti di Negara New Zealand. Di Indonesia pun angka penderita leptospirosis di bilang tinggi. Penyebab leptospirosi adalah kontok langsung  dengan selaput lendir (mukosa) dan mata (konjungtiva) pada hewan seperti tikus, sapi, kambing, domba, kuda, babi, anjing. Dan ada juga penyebab lainnya adalah pola hidup tak sehat seperti  Jika anda memelihara hewan kesayangan anda tak membersihkan diri dengan antiseptik setelah kontak dengan hewan kesayangan. Cara penularan leptospirosi dari manusia ke manusia adalah karena hubungan seksual dan transplacentally dari  ibu ke janin dan melalui ASI pada anak. Adapun pencegahan yang dapat dilakukan adalah menjaga pola hidup sehat, selalu mencuci tangan setelah menyentuh hewan, selalu menggunakan sarung tangan jika berkebun dan jangan makan sambil bermain dengan hewan dan banyak lainnya.  Leptospirosis dapat diobati dengan antibiotik doksisiklin, ampisillin, atau amoksisillin serta penisillin G, ampisillin, amoksisillin dan eritromisin
BAB I
PENDAHULUAN

Data Kasus Leptospirosis
Leptospirosis merupakan penyakit infeksi pada manusia dan binatang yang disebabkan oleh bakteri leptospira yang berbentuk spiral dan bergerak aktif. Leptospirosis merupakan zoonosis yang paling tersebar luas di dunia. Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1886 o1eh Adolf Weil dengan gejala panas tinggi disertai beberapa gejala saraf serta pembesaran hati dan limpa. Penyakit dengan gejala tersebut di atas oleh Goldsmith (1887) disebut sebagai "Weil's Disease". Pada tahun 1915 Inada berhasil membuktikan bahwa "Weil's Disease" disebabkan oleh bakteri Leptospira icterohemorrhagiae.(1)
Di negara subtropik, infeksi leptospira jarang ditemukan, iklim yang sesuai untuk perkembangan leptospira adalah udara yang hangat, tanah yang basah dan pH alkalis. Keadaan yang demikian dapat dijumpai di Negara tropik sepanjang tahun. Di negara beriklim tropik, kejadian leptospirosis lebih banyak 1000 kali dibandingkan dengan negara subtropik dengan risiko penyakit lebih berat. Angka insiden leptospirosis di negara tropik basah 5- 20/100.000 penduduk per tahun. Leptospirosis tersebar di seluruh dunia termasuk Indonesia. Angka insidensi leptospirosis di New Zealand antara tahun 1990 sampai 1998 sebesar 44 per 100.000 penduduk. Angka insiden tertinggi terjadi pada pekerja yang berhubungan dengan daging (163/100.000 penduduk), peternak (91,7/100.000 penduduk) dan pekerja yang berhubungan dengan hutan sebesar 24,1 per 100.000 penduduk. (1)
Di Indonesia dilaporkan di dalam risalah Partoatmodjo (1964) bahwa sejak 1936 telah diisolasi berbagai serovar leptospira, baik dari hewan liar maupun hewan peliharaan. Di Indonesia leptospirosis tersebar antara lain di Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bali, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Angka kematian leptospirosis di Indonesia termasuk tinggi, mencapai 2,5-16,45%. Pada usia lebih dari 50 tahun kematian mencapai 56%. Penderita Leptospirosis yang disertai selaput mata berwarna kuning (kerusakanjaringan hati), risiko kematian akan lebih tinggi. Di beberapa publikasi angka kematian di laporkan antara 3 % - 54 % tergantung system organ yang terinfeksi.(1)

Pada awal 2011 Di desa bantul Sebanyak 12 warga terserang Leptospirosis, satu orang di antaranya meninggal dunia. Namun angka penderita di desa Bantul dibilang sedikit jika dibandingkan pada tahun 2010, yang terdapat 110 penderita dan 12 meninggal dunia. Sementara tahun 2009, hanya 10 penderita, dan satu orang diantaranya meninggal dunia.(2)




BAB II
ISI
A.  Triad Epidemiologi
1.         Host
Leptospirosis merupakan penyakit infeksi pada manusia dan binatang yang disebabkan oleh bakteri leptospira yang berbentuk spiral dan bergerak aktif. Leptospirosis merupakan zoonosis yang paling tersebar luas di dunia.(1) Leptospirosis  dapat terjadi sepanjang tahun. Leptospirosis kadang-kadang dapat masuk  tubuh manusia melalui inhalasi tetesan urin atau melalui air minum.  Setelah infeksi, leptospira muncul dalam darah dan menyerang hampir semua jaringan dan organ.  kemudian dibersihkan dari tubuh oleh respon kekebalan tubuh terhadap infeksi.Namun, mereka dapat  menetap di tubulus berbelit-belit dari ginjal dan ditumpahkan dalam urin selama beberapa minggu sampai beberapa  bulan dan kadang-kadang bahkan lebih lama. Mereka kemudian dibersihkan dari ginjal dan organ lainnya, tetapi dapat bertahan  di mata jauh lebih lama.  Kemampuan Leptospira untuk bergerak dengan cepat dalam air menjadi salah satu faktor penentu utama ia dapat menginfeksi induk semang (host) yang baru.(3)

Penyakit

 http://www.google.co.id/imgres?q=bakteri+leptospirosis&um=1&hl=id&client=firefox-a&rls=org

2.      Agent
Penyakit ini dapat menyerang semua usia, tetapi sebagian besar berusia antara 10-39 tahun. Sebagian besar kasus terjadi pada laki-laki usia pertengahan, mungkin usia ini adalah faktor resiko tinggi tertular penyakit ini.(4). Laki-laki memiliki risiko terkena
leptospirosis sebesar 3,59 kali dibandingkan perempuan. (1)

sumber bakteri leptospira

 http://www.google.co.id/imgres?q=bakteri+leptospirosis&um=1&hl=id&client=firefox-a&rls=org



Bakteri Leptospira
 
 http://www.google.co.id/imgres?q=bakteri+leptospirosis&um=1&hl=id&client=firefox-a&rls=org
 
3.    Environmental.
Risiko infeksi tergantung pada paparan. Bahkan, beberapa manusia memiliki risiko tinggi terpajan karena  pekerjaan mereka, lingkungan tempat tinggal mereka dan gaya hidup mereka. Kelompok-kelompok kerja utama pada risiko termasuk pekerja peternakan dan pertanian, pekerja toko hewan peliharaan, dokter hewan,  selokan, pekerja hewan potong, penangan daging, dan militer.(5)
Di beberapa negara, praktis seluruh penduduk beresiko untuk menderita penyakit ini terkontaminasi dalam kegiatan sehari-hari, misalnya padi dan perkebunan tebu. .  Kelembaban merupakan faktor penting dari kelangsungan hidup leptospira di lingkungan. . Hujan deras akan membantu penyebaran penyakit ini, terutama di daerah banjir Gerakan bakteri memang tidak memengaruhi kemampuannya untuk memasuki jaringan tubuh namun mendukung proses invasi dan penyebaran di dalam aliran darah induk semang.
Di Indonesia, penularan paling sering terjadi melalui tikus pada kondisi banjir Keadaan banjir menyebabkan adanya perubahan lingkungan seperti banyaknya genangan air, lingkungan menjadi becek, berlumpur, serta banyak timbunan sampah yang menyebabkan mudahnya bakteri Leptospira berkembang biak .Air kencing tikus terbawa banjir kemudian masuk ke tubuh manusia melalui permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata dan hidung.. Sejauh ini tikus merupakan reservoir dan sekaligus penyebar utama Leptospirosis  karena bertindak sebagai inang alami dan memiliki daya reproduksi tinggi. Beberapa hewan lain seperti sapi, kambing, domba, kuda, babi, anjing dapat terserang Leptospirosis, tetapi potensi menularkan ke manusia tidak sebesar tikus .
 Penyebaran penyakit

 
http://www.google.co.id/imgres?q=bakteri+leptospirosis&um=1&hl=id&client=firefox-a&rls=org

B.       Transmisi Leptospirosis
Bentuk penularan Leptospira dapat terjadi secara langsung dari penderita ke penderita dan tidak langsung melalui suatu media. Penularan langsung terjadi melalui kontak dengan selaput lendir (mukosa) mata (konjungtiva), kontak luka di kulit, mulut, cairan urin kontak seksual dan cairan abortus (gugur kandungan). Penularan dari manusia ke manusia melalui hubungan seksual, transplacentally dari  ibu ke janin dan melalui ASI pada anak. Urin dari pasien yang menderita leptospirosis harus  dianggap menular. Seperti leptospira dapat dibiakkan dari darah, ini harus dipandang sebagai menular untuk Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease) Urin (air kencing) dari individu yang terserang penyakit ini merupakan sumber utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan. (5)
Penularan tidak langsung terjadi melalui kontak hewan atau manusia dengan barang-barang yang telah tercemar urin penderita, misalnya alas kandang hewan, tanah, makanan, minuman dan jaringan tubuh. Kejadian Leptospirosis pada manusia banyak ditemukan pada pekerja pembersih selokan karena selokan banyak tercemar bakteri Leptospira. Umumnya penularan lewat mulut dan tenggorokan sedikit ditemukan karena bakteri tidak tahan terhadap lingkungan asam.
Setelah bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau selaput lendir, maka bakteri akan mengalami multiplikasi (perbanyakan) di dalam darah dan jaringan. Selanjutnya akan terjadi leptospiremia, yakni penimbunan bakteri Leptospira di dalam darah sehingga bakteri akan menyebar ke berbagai jaringan tubuh terutama ginjal dan hati

 Mekanisme transmission
 
                      http://bezhare.blogspot.com/2011/04/bezhare-what-is-leptospirosis.html 

C. Riwayat Alamiah Leptospirosis
1. Masa Inkubasi dan klinis
Masa inkubasi Leptospirosis pada manusia yaitu 2 - 26 hari. Infeksi Leptospirosis mempunyai manifestasi yang sangat bervariasi dan kadang tanpa gejala, sehingga sering terjadi kesalahan diagnosa. Infeksi L. interrogans dapat berupa infeksi subklinis yang ditandai dengan flu ringan sampai berat Hampir 15-40 persen penderita terpapar infeksi tidak bergejala tetapi serologis positif Sekitar 90 persen penderita jaundis ringan, sedangkan 5-10 persen jaundis berat yang sering dikenal sebagai penyakit Weil Perjalanan penyakit Leptospira terdiri dari 2 fase, yaitu fase septisemik dan fase imun Pada periode peralihan fase selama 1-3 hari kondisi penderita membaik Selain itu ada Sindrom Weil yang merupakan bentuk infeksi Leptospirosis yang berat. (8)

·           Fase Septisemik

Fase Septisemik dikenal sebagai fase awal atau fase leptospiremik karena bakteri dapat diisolasi dari darah, cairan serebrospinal dan sebagian besar jaringan tubuh. Pada stadium ini, penderita akan mengalami gejala mirip flu selama 4-7 hari, ditandai dengan demam, kedinginan, dan kelemahan otot Gejala lain adalah sakit tenggorokan, batuk, nyeri dada, muntah darah, nyeri kepala, takut cahaya, gangguan mental, radang selaput otak (meningitis), serta pembesaran limpa dan hati (8). Selain itu ada juga gejala lain seperti Malaise , Rasa nyeri otot betis dan punggung , Konjungtivitis tanpa disertai eksudat serous/porulen (kemerahan pada mata) (7)

·      Fase Imun

Fase Imun sering disebut fase kedua atau leptospirurik karena sirkulasi antibodi dapat dideteksi dengan isolasi kuman dari urin, dan mungkin tidak dapat didapatkan lagi dari darah atau cairan serebrospinalis Fase ini terjadi pada 0-30 hari akibat respon pertahanan tubuh terhadap infeksi.(8) Gejala tergantung organ tubuh yang terganggu seperti selaput otak, hati, mata atau ginjal dan Terbentuk anti bodi di dalam tubuh penderita .Gejala yang timbul lebih bervariasi dibandingkan dengan stadium pertama . Apabila demam dengan gejala-gejala lain timbul kemungkinan akan terjadi meningitis.
Stadium ini terjadi biasanya antara minggu kedua dan keempat. (7)
Jika yang diserang adalah selaput otak, maka akan terjadi depresi, kecemasan, dan sakit kepala.  pemeriksaan fungsi hati didapatkan jaundis, pembesaran hati (hepatomegali), dan tanda koagulopati. Gangguan paru-paru berupa batuk, batuk darah, dan sulit bernapas. Gangguan hematologi berupa peradarahan dan pembesaran limpa (splenomegali). Kelainan jantung ditandai gagal jantung atau perikarditis. Meningitis aseptik merupakan manifestasi klinis paling penting pada fase imun. (8)
Leptospirosis dapat diisolasi dari darah selama 24-48 jam setelah timbul jaundis Pada 30 persen pasien terjadi diare atau kesulitan buang air besar (konstipasi), muntah, lemah, dan kadang-kadang penurunan nafsu makan Kadang-kadang terjadi perdarahan di bawah kelopak mata dan gangguan ginjal pada 50 persen pasien, dan gangguan paru-paru pada 20-70 persen pasien.(8)
Gejala juga ditentukan oleh serovar yang menginfeksi . Sebanyak 83 %penderita infeksi L. icterohaemorrhagiae mengalami ikterus, dan 30 % pada L. pomona Infeksi L. grippotyphosa umumnya menyebabkan gangguan sistem pencernaan. Sedangkam L. pomona atau L. canicola sering menyebabkan radang selaput otak (meningitis) (8)

·      Sindrom Weil

Sindrom Weil adalah bentuk Leptospirosis berat ditandai jaundis, disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru-paru, dan diathesis perdarahan Kondisi ini terjadi pada akhir fase awal dan meningkat pada fase kedua, tetapi bisa memburuk setiap waktu Kriteria penyakit Weil tidak dapat didefinisikan dengan baik. Manifestasi paru meliputi batuk, kesulitan bernapas, nyeri dada, batuk darah, dan gagal napas Disfungsi ginjal dikaitkan dengan timbulnya jaundis 4-9 hari setelah gejala awal Penderita dengan jaundis berat lebih mudah terkena gagal ginjal, perdarahan dan kolap kardiovaskular. Kasus berat dengan gangguan hati dan ginjal mengakibatkan kematian sebesar 20-40 persen yang akan meningkat pada lanjut usia. (8)
Untuk mendiagnosa Leptospirosis, maka hal yang perlu diperhatikan adalah riwayat penyakit, gejala klinis dan diagnosa penunjang Sebagai diagnosa penunjang, antara lain dapat dilakukan pemeriksaan urin dan darah. Pemeriksaan urin sangat bermanfaat untuk mendiagnosa Leptospirosis karena bakteri Leptospira terdapat dalam urin sejak awal penyakit dan akan menetap hingga minggu ketiga. Cairan tubuh lainnya yang mengandung Leptospira adalah darah, serebrospinal  tetapi rentang peluang untuk isolasi bakteri sangat pendek. Selain itu dapat dilakukan isolasi bakteri Leptospira dari jaringan lunak atau cairan tubuh penderita, misalnya jaringan hati, otot, kulit dan mata. Namun, isolasi Leptospira termasuk sulit dan membutuhkan waktu beberapa bulan
Untuk mengukuhkan diagnosa Leptospirosis biasanya dilakukan pemeriksaan serologis. Antibodi dapat ditemukan di dalam darah pada hari ke-5-7 sesudah adanya gejala klinis. Kultur atau pengamatan bakteri Leptospira di bawah mikroskop berlatar gelap umumnya tidak sensitif. Tes serologis untuk mengkonfirmasi infeksi Leptospirosis yaitu Microscopic agglutination test (MAT). Tes ini mengukur kemampuan serum darah pasien untuk mengagglutinasi bakteri Leptospira yang hidup. Namun, MAT tidak dapat digunakan secara spesifik pada kasus yang akut, yakni kasus yang terjadi secara cepat dengan gejala klinis yang parah. Selain itu, diagnosa juga dapat dilakukan melalui pengamatan bakteri Leptospira pada spesimen organ yang terinfeksi menggunakan imunofloresen.
 Penderita  leptospirosis secara klinis dibedakan menjadi  leptospirosis ringan ( anikterik ) dan leptospirosis berat ( ikterik ). Gejala  dini leptospirosis  umumnya adalah  demam, sakit kepala, nyeri otot, gerah, muntah dan mata merah.Leptospirosis  ringan paling banyak ditemukan di masyarakat, hampir 90 % dari seluruh kasus leptospirosis. Bahkan ada penderita yang tidak mengalami gejala. Akan tetapi  aneka gejala tersebut kadang menyerupai gejala penyakit lain sehingga menyulitkan penegakan diagnosis
Gejala leptospirosis berat, selain beberapa gejala diatas , disertai dengan  gagal ginjal, kuning dan bahkan  pada penderita  yang parah dapat mengakibatkan  kematian. (4) 
2. Masa laten dan Periode infeksi
Masa tunas berkisar antara 2-26 hari(kebanyakan 7-13 hari) rata-rata 10 hari.
Pada leptospira ini ditemukan perjalanan klinis bifasik :
1.      Leptopiremia (berlangsung 4-9 hari)
Timbul demam mendadak, diserta sakit kepala (frontal, oksipital atau bitemporal). Pada otot akan timbul keluhan mialgia dan nyeri tekan (otot gastronemius, paha pinggang,) dandiikuti heperestesia kulit. Gejala menggigil dan demam tinggi, mual, muntah, diare, batuk, sakit dada, hemoptisis, penurunan kesadaran, dan injeksi konjunctiva. Injeksi faringeal, kulit dengan ruam berbentuk makular/makolupapular/urtikaria yang tersebar pada badan, splenomegali, dan hepatomegali.
2.     Fase imun (1-3 hari)
Fase imun yang berkaitan dengan munculnya antibodi IgM sementara konsentrasi C­3, tetap normal. Meningismus, demam jarang melebihi 39oC. Gejala lain yang muncul adalah iridosiklitis, neuritis optik, mielitis, ensefalitis, serta neuripati perifer.
3.      Fase penyembuhan (minggu ke-2 sampai minggu ke-4)
Dapat ditemukan adanya demam atau nyeri otot yang kemudian berangsur-angsur hilang. (9)


D.Cara mencegah Leptospirosis
Ada banyak cara mencegah Leptospirosis.
Jika pekerjaan Anda menyangkut binatang:
         Tutupilah luka dan lecet dengan balut kedap air.
         Pakailah pakaian pelindung misalnya sarung tangan, pelindung atau perisai
mata, jubah kain dan sepatu bila menangani binatang yang mungkin
terkena, terutama jika ada kemungkinan menyentuh air seninya.
         Pakailah sarung tangan jika menangani ari-ari hewan, janinnya yang mati di
dalam maupun digugurkan atau dagingnya.
         Mandilah sesudah bekerja dan cucilah serta keringkan tangan sesudah
menangani apa pun yang mungkin terkena.
         Jangan makan atau merokok sambil menangani binatang yang mungkin
terkena.
·           Cuci dan keringkan tangan sebelum makan atau merokok.
         Ikutilah anjuran dokter hewan kalau memberi vaksin kepada hewan.
Cara lain :
  • Membiasakan diri pola hidup sehat dan bersih
  • Hindarkanlah berenang di dalam air yang mungkin dicemari dengan air seni
binatang.
         Tutupilah luka dan lecet dengan balut kedap air terutama sebelum
  • bersentuhan dengan tanah, lumpur atau air yang mungkin dicemari air
kencing binatang.
         Pakailah sepatu bila keluar terutama jika tanahnya basah atau berlumpur.
         Pakailah sarung tangan bila berkebun.
         Halaulah binatang pengerikit dengan cara membersihkan dan menjauhkan
sampah dan makanan dari perumahan.
         Jangan memberi anjing jeroan mentah.
         Cucilah tangan dengan sabun karena kuman Leptospira cepat mati oleh
sabun, pembasmi kuman dan jika tangannya kering.(6)
  • Jika anda memelihara hewan kesayangan hendaknya selalu membersihkan diri dengan antiseptik setelah kontak dengan hewan kesayangan,
  • Manusia harus mewaspadai tikus sebagai pembawa utama dan alami penyakit ini.. Selain itu, para peternak babi dihimbau untuk mengandangkan ternaknya jauh dari sumber air.
  • Feses ternak perlu diarahkan ke suatu sumber khusus sehingga tidak mencemari lingkungan terutama sumber air.

E.  Pengobatan
Leptospirosis yang ringan dapat diobati dengan antibiotik doksisiklin, ampisillin, atau amoksisillin. Sedangkan Leptospirosis yang berat dapat diobati dengan penisillin G, ampisillin, amoksisillin dan eritromisin. Dan sebaiknya waspada terlebih dahulu sebelum terserang penyakit ini.. (10)


BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Leptospirosis adalah penyakit menular yang disebab kan oleh bakteri leptospira. Penyakit ini terjadi pada negara yang memiliki iklim tropis seperti New Zealand dan Indonesia.Penularan Leptospirosis bisa melalui kontak langsung dengan lendir hewan dan melalui manusia seperti hubungan seksual dan transplacentally dari  ibu ke janin melalui ASI. . Cara pencegahan adalah menjaga pola hidup sehat dan menggunkan pelindung jika ingin kontak langsung dengan hewan seperti sarung tangan
B.       Saran
Semoga makalah ini bermanfaat untuk semua kalangan terutama bagi saya sendiri sebagai penulis dari makalah ini. Dan diharapkan dengan adanya makalah ini masyarakat sadar akan betapa penting nya hidup sehat sehingga penderita leptospirosis dapat berkurang.
                    
                                                          

DAFTAR PUSTAKA

1.   Priyanto, A, (2006). Faktor-Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Leptospirosis.dari http://eprints.undip.ac.id/6320/1/Agus_Priyanto.pdf.


4. Dr Widodo Judarwanto SpA.(2006). Penyakit leptospirosis pada manusia http://indonesiaindonesia.com/f/13740-penyakit-leptospirosis-manusia/

7. Leptospirosis, penyakit melalui air kencing tikus. dari

10. Eni Susanti (2010). Leptospirosis Penambah wawasan dan mengasah kepedulian dari http://www.leptospirosis.org/






1 komentar: