Welcome


Jumat, 04 November 2011

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT FLU BURUNG

By : Kurnia Putri Angraeni
10101001033

RESUME EPIDEMIOLOGI PENYAKIT FLU BURUNG
Penyakit flu burung atau alvian influenza disebabkan oleh virus influenza A dari family orthomyxoviridae. Virus dibagi dalam subtipe berdasarkan antigen permukaan haemaglutinin (HA) yang dimillikinya. Saat ini, 15 jenis HA telah dikenali, mulai H1 sampai H15 dan 9 jenis NA, mulai N1 sampai N91,2,10. Di antara subtipe HA hanya H5 dan H7 yang bersifat ganas pada unggas2. Penyakit flu burung mulai merebak di indonesia untuk pertama kalinya pada ayam tahun 20034. Departemen pertanian secara resmi menggonfirmasikan adanya penyakit flu burung pada bulan januari 2004 dan menyatakan penyakit disebabkan oleh virus influenza subtipe H5N15. Serangan flu burung mencapai puncaknya pada kuartal pertama tahun 2004. Setelah itu serangan virus mematikan tampaknya mereda dan pada tahun 2005 kembali mewabah3. Virus tidak hanya menyerang ayam, tetapi juga babi, kalkun, dan manusia. Berdasarkan pemeriksaan labolatorium, deptan menetapkan bahwa virus avian influenza yang menyerang tidak mengalami perubahan, yaitu subtipe H5N15.
Penyakit flu burung umumnya menyerang unggas muda serta dapat menimbulkan gejala yang ringan sampai berat dan fatal, yaitu menimbullkan kematian.Namun, kadang-kadang unggas yang terserang penyakit, terutama unggas liar seperti itik dan burung liar, tidak menunjukkan gejala klinis, tetapi dapat menyebarkan kepada hewan lain dan manusia. Gejala klinis yang terjadi adalah kerontokan bulu, penurunan produksi telur, pembengkakan di daerah kepala, kelemahan, dan gangguan respirasi5,7. Gejala penyakit flu burung pada manusia mirip dengan influenza yang biasa terjadi pada manusia, antara lain seseorang akan menggalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan gejala demam 38 derajat celcius atau lebih, batuk, pilek, sakit  tenggorokan, badan lemas, pegal linu, nyeri otot, pusing, peradangan selaput mata (mata memerah), serta kadang-kadang disertai mencret dan muntah. Keadaan ini  bisa berlanjut menjadi gejala sesak nafas yang jarang terjadi pada seseorang dengan flu manusia biasa6,7. Dugaan penyakit flu burung dapat mengarah pada yang bersangkutan apabila dalam seminggu terakhir dia mengunjungi peternakan yang sedang terjangkit penyakit flu burung, kontak dengan unggas yang dicurigai menderita flu burung, maupun bekerja pada suatu labolatorium yang sedang memproses spesimen (sampel) manusia atau hewan yang dicurigai flu burung7,10.


BAB 1. PENDAHULUAN EPIDEMIOLOGI PENYAKIT FLU BURUNG

1.1. Latar Belakang Penyakit Flu Burung 
Avian influenza pertama kali ditemukan menyerang di itali sekitar 100 tahun yang lalu. Wabah virus ini menyerang manusia pertama kali di Hongkong pada tahun 1997 dengan 18 korban dan 6 diantaranya meninggal3. Sejarah dunia telah mencatat tiga pandemi besar yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. Pandemi pertama terjadi pada tahun 1918 berupa flu spanyol yang disebabkan oleh subtipe H1N1 dan memakan korban meninggal 40 juta orang. Pandemi ini sebagian besar terjadi di eropa dan amerika serikat. Pandemi kedua terjadi pada tahun 1918 berupa flu asia yang disebabkan oleh H2N2 dengan korban 4 juta jiwa. Pandemi terakhir pada tahun 1968 berupa flu hongkong yang disebabkan oleh H3N2 dengan korban 1 juta jiwa1.
Sampai bulan juni 2007 sebanyak 313 orang diseluruh dunia telah terjangkit virus AI dengan 191 diantaranya meninggal dunia. Kasus penyakit ini meningkat cepat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2003 tercatat terdapat 4 kasus, kemudian berkembang menjadi 46 kasus (2004), 97 kasus (2005), 116 kasus (2006), dan pada tahun 2007 pertanggal 15 juni sudah dilaporkan terjadi 50 kasus dengan angka kematian 60%. Negara yang terjangkit sebagian besar adalah negara-negara di asia (thailand, vietnam, kamboja, china, dan indonesia), tetapi saat ini telah menyebar ke irak dan turki2.
Kasus AI di Indonesia bermula dari ditemukannya kasus pada unggas di pekalongan, jawa tengah pada bulan agustus 20032. Menghadapi penyakit yang semakin merebak, pemerintah memutuskan untuk mrengimpor vaksin dalam jumlah terbatas dan dilakukan vaksinasi pada sejumlah unggas. Pada januari 2004, ketua I persatuan dewan hewan indonesia (PDHI), C.A. Nidom, mengumumkan bahwa identifikasi DNA dengan sampel 100 ayam yang diambil dari daerah wabah menunjukkan positif telah terjangkit flu burung1. Pada april 2004, dirjen bina produksi peternakan mengidentifikasi masuknya virus flu burung di indonesia, yakni penyelundupan vaksin flu burung, penyelundupan unggas, dan migrasi burung5.
Sampai akhirnya, pada akhir februari 2005 ribuan unggas, ayam, dan burung di lima kabupaten dan kota di jawa barat mati karena flu burung. Untuk pertama kalinya, kasus flu burung pada manusia di indonesia ditemukan pada bulan juli 2005. Kemudian, pemerintah menetapkan flu burung sebagai kejadian luar biasa (KLB) nasional mengingat banyaknya korban, baik unggas maupun manusia yang terjangkit virus flu burug. Sampai dengan september 2008 penyebaran flu burung pada manusia di Indonesia yang telah dikonfirmasi oleh Komnas Flu Burung Indonesia telah menyebar di 12 provinsi, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Lampung, Sulawesi selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Bali dengan jumlah kasus mencapai 137 dan 112 diantaranya meninggal dunia. jumlah kasus tterbanyak Jawa Barat dengan jumlah kasus 33 jiwa dan kasus meningggal 27 jiwa. sedangkan untuk daerah Tanggerang Banten memduduki peringkat terbanyak dengan jumlah kasus 25 jiwa dan meninggal 25 jiwa. Tanggerang merupakan salah satu daerah dengan kasus penularan Avian Influenza cukup tinggi. hingga saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggerang Banten telah menetapkan 10 kecamatannya sebagai daerah epidemis atau wilayah penyebab dan penularan virus flu burung4 
Wabah flu burung sangat merugikan masyarakat, selain dari segi kesehatan terutama dalam bidang ekonomi. Hal ini disebabkan karena wabah flu burung membuat orang menjadi takut mengonsumsi daging ayam serta takut berpergian di daerah yang dinyatakan positif endemi flu burung, sehingga secara tidak langsung melumpuhkan sektor peternakan dan pariwisata di negara tersebut1. padahal jika dilihat dari data FAO pada tahun 2003 Asia tenggara termasuk Indonesia merupakan tempat peternakan unggas terbesar kedua terbesar didunia, sehingga bisa dibayangkan berapa banyak kerugian yang akan diderita apabila sektor peternakan unggas ini lumpuh5.

BAB 2. PEMBAHASAN EPIDEMIOLOGI PENYAKIT FLU BURUNG

2.1 Triad Epidemiologi
2.1.1. Agent
Virus penyebab flu burung tergolong family orthomyxoviridae2. Virus terdiri atas 3 tipe antigenik yang berbeda, yaitu A, B, dan C. Virus influenza A bisa terdapat pada unggas, manusia, babi, kuda, dan kadang-kadang mamalia yang lain, misalnya cerpelai, anjing laut, dan ikan paus. Namun, sebenarnya horpes alamiahnya adalah unggas liar. Sebaliknya, virus influenza B dan C hanya ditemukan pada manusia1. Penyakit flu burung yang disebut pula avian influenza disebabkan oleh virus influenza A2. Virus ini merupakan virus RNA dan mempunyai aktivitas haemaglutinin (HA) dan neurominidase (NA). Pembagian subtipe virus berdasarkan permukaan antigen, permukaan hamagluinin, dan neurominidase yang dimilikinya1.

 
 
Gambar 3. Agent penyakit flu burung (avian influenza virus) 

2.1.2. Host
Host sendiri merupakan adalah organisme tempat hidup agent tertentu yang dalam suatu keadaan menimbulkan penyakit pada organisme tersebut. Jika membicarakan masalah penyakit flu burung pada manusia maka host yang dimaksud adalah manusia. Faktor intristik pada flu burung diantaranya kekebalan tubuh (imunitas) dan pola pikir seseorang1.

Flu burung sebenarnya tidak mudah menular dari hewan yang telah terinfeksi, namun jalan untuk penularan itu akan semakin mudah apabila seseorang itu berada dalam kondisi yang lemah dan tidak memiliki system imun yang baik, begitu pula dengan pola pikir orang yang masih tidak percaya dan terkesan meremehkan bahaya penyakit ini. 
 


Gambar 2. Host berupa hewan

Gambar 3. Host berupa manusia 


2.1.3 Environment
Faktor lingkungan ini dibagi menjadi tiga:

a) Lingkungan Biologis

Faktor lingkungan biologis pada penyakit flu burung yaitu agent. Agent merupakan sesuatu yang merupakan sumber terjadinya penyakit yang dalam hal ini adalah virus aviant influenza (H5N1). Sifat virus ini adalah mampu menular melalui udara dan mudah bermutasi. Daerah yang diserang oleh virus ini adalah organ pernafasan dalam, hal itulah yang membuat angka kematian akibat penyakit ini sangat tinggi8.

b) Lingkungan Fisik

·         Suhu

Pada suhu lingkungan yang tidak optimal baik suhu yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah akan berpengaruh terhadap daya tahan tubuh seseorang pada saat itu sehingga secara tidak langsung berpengaruh terhadap mudah tidaknya virus menjangkiti seseorang. Selain itu virus flu burung juga memerlukan suhu yang optimal agar dapat bertahan hidup8.

·         Musim

Faktor musim pada penyakit flu burung terjadi karena adanya faktor kebiasaan burung untuk bermigrasi ke daerah yang lebih hangat pada saat musim dingin. Misalkan burung-burung yang tinggal di pesisir utara Cina akan bermigrasi ke Australia dan Asia Tenggara pada musim dingin, burung-burung yang telah terjangkit tersebut akan berperan menularkan flu burung pada hewan yang tinggal di daerah musim panas atau daerah tropis tempat burung tersebut migrasi8.

·         Tempat tinggal

Faktor tempat tinggal pada penyakit flu burung misalnya apakah tempat tinggal seseorang dekat dengan peternakan unggas atau tidak, di tempat tinggalnya apakah ada orang yang sedang menderita flu burung atau tidak8.

c) Lingkungan sosial

Faktor lingkungan sosial meliputi kebiasaan sosial, norma serta hukum yang membuat seseorang berisiko untuk tertular penyakit. Misalnya kebiasaan masyarakat Bali yang menggunakan daging mentah yang belum dimasak terlebih dahulu untuk dijadikan sebagai makanan tradisional. Begitu pula dengan orang- orang di eropa yang terbiasa mengonsumsi daging panggang yang setengah matang atau bahkan hanya seper-empat matang. Selain itu juga pada tradisi sabung ayam akan membuat risiko penyakit menular pada pemilik ayam semakin besar8.

2.2. Transmisi Penyakit Flu Burung
Variasi antigenik virus influenza sering ditemukan melalui drift dan shift antigenik9. Drift antigenik terjadi karena adanya perubahan struktur antigenik yag bersifat minor pada permukaan antegen H dan atau N, sedangkan shift antigenik terjadi karena adanya perubahan yang bersifat dominan pada struktur antigenik1. Pengaturan kembali struktur genetik virus pada unggas dan manusia diperkirakan merupakan suatu sebab timbulnya strain baru virus pada manusia yang bersifat pandemik (meluas ke berbagai negara). Dalam hal ini virus pada unggas dapat berperan pada perubahan struktur genetik virus influenza pada manusia dengan menyumbangkan gen pada virus galur manusia1,9.

Unggas yang menderita flu burung dapat mengeluarkan virus berjumlah besar dalam kotoran (feses) maupun sekreta yang dikeluarkannya. Menurut WHO, kontak unggas liar dengan ungas ternak menyebabkan epidemik flu burung di kalangan uggas. Penularan penyakit terjadi melalui udara dan eskret unggas yang terinfeksi. Virus flu burung mampu bertahan hidup dalam air sampai 4 hari pada suhu 22 derajat celius dan lebih dari 30 hari pada suhu 0 derajat celcius. Di dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas yang sakit, virus dapat bertahan lebih lama, namun akan mati pada pemanasan 60 detajat celcius selama 30 menit atau 90 derajat celcius selama 1 menit2.

Mekanisme penulara flu burung pada manusia melalui beberapa cara:
1. virus             unggas liar             unggas domestik             manusia
2. virus             unggas liar             unggas domestik             babi              manusia
3. virus             unggas liar             unggas domestik             babi              manusia   
     Manusia
 

Gambar 4. transmisi penyakit flu burung

              Sampai bulan maret 2006, penularan dari manusia ke manusia lain (human-to-human transmission) masih sangat jarang. Meskipun demikian, Para ahli mengkhawatirkan adanya kkasus-kasus klaster keluarga karena merupakan indikator peenularan antarmanusia. Munculnya kasus-kasus klaster dalam skala kecil dan simultan yangg diikuti klaster-klaster skala besar merupakan tanda munculnya pandemi2.

2.3. Riwayat Alamiah Penyakit Flu Burung

2.3.1. Masa Inkubasi dan Klinis
Virus mempunyai masa inkubasi yang pendek, yaitu antara beberapa jam sampai 3 hari, tergantung pada jumlah virus yang masuk, rute kontak, dan spesies unggas yang terserang1. Pada unggas masa ingkubasi mencapai 1 minggu6.


2.3.2.  Masa Laten dan Periode Infeksi
            Masa infeksi viirus ini 1 hari sebelum sampai 3-5 hari sesudah timbul gejala. Pada anak bisa sampai 21 hari6.

2.3.3. pencegahan

Dalam menanggulangi flu burung ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain: 
1. Pencegahan primer

Pencegahan primer adalah pencegahan yang dilakukan pada orang-orang yang berisiko terjangkit flu burung, dapat dilakukan dengan cara:

a) Melakukan promosi kesehatan (promkes) terhadap masyarakat luas, terutama mereka yang berisiko terjangkit flu burung seperti peternak unggas8.

b) Melakukan biosekuriti yaitu upaya untuk menghindari terjadinya kontak antara hewan dengan mikroorganisme yang dalam hal ini adalah virus flu burung, seperti dengan melakukan desinfeksi serta sterilisasi pada peralatan ternak yang bertujuan untuk membunuh mikroorganisme pada peralatan ternak sehingga tidak menjangkiti hewan1,8.

c) Melakukan vaksinasi terhadap hewan ternak untuk meningkatkan kekebalannya. Vaksinasi dilakukan dengan menggunakan HPAI (H5H2)  inaktif dan vaksin rekombinan cacar ayam atau fowlpox dengan  memasukan gen virus avian influenza H5 ke dalam virus cacar1,8,9.

d) Menjauhkan kandang ternak unggas dengan tempat tinggal4,8.

e) Menggunakan alat pelindung diri seperti masker, topi, baju lengan panjang, celana panjang dan sepatu boot saat memasuki kawasan peternakan8.

f) Memasak dengan matang daging sebelum dikonsumsi. Hal ini bertujuan untuk membunuh virus yang terdapat dalam daging ayam, karena dari hasil penelitian virus flu burung mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit3,4,8.

g) Melakukan pemusnahan hewan secara massal pada peternakan yang positif ditemukan virus flu burung pada ternak dalam jumlah yang banyak8.

h) Melakukan karantina terhadap orang-orang yang dicurigai maupun sedang positif terjangkit flu burung8.

i)     Melakukan surveilans dan monitoring yang bertujuan untuk mengumpulkan laporan mengenai morbilitas dan mortalitas, laporan penyidikan lapangan, isolasi dan identifikasi agen infeksi oleh laboratorium, efektifitasvak sinasi dalam populasi, serta data lain yang gayut untuk kajian epedemiologi1,8

 

Gambar 5. Pemusnahan hewan yang terjangkit flu burung

2. Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder adalah pencegahan yang dilakukan dengan tujuan untuk mencegah dan menghambat timbulnya penyakit dengan deteksi dini dan pengobatan tepat. Dengan melakukan deteksi dini maka penanggulangan penyakit dapat diberikan lebih awal sehingga mencegah komplikasi, menghambat perjalanannya, serta membatasi ketidakmampuan yang dapat terjadi. Pencegahan ini dapat dilakukan pada fase presimptomatis dan fase klinis. Pada flu burung pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan screening yaitu upaya untuk menemukan penyakit secara aktif pada orang yang belum menunjukkan gejala klinis. Screening terhadap flu burung misalnya dilakukan pada bandara dengan memasang alat detektor panas tubuh sehingga orang yang dicurigai terjangkit flu burung bias segera diobati dan dikarantina sehingga tidak menular pada orang lain8.


3. Pencegahan tersier

Pencegahan tersier adalah segala usaha yang dilakukan untuk membatasi ketidakmampuan. Pada flu burung upaya pencegahan tersier yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengobatan intensif dan rehabilitasi1,8.


2.3.3. pengobatan
Pengobatan penderita flu burung disarankan sebagai berikut4:
1.      oksigenasi jika terjadi sesak nafas.
2.      Pemberian cairan parental jika terjadi dehidrasi
3.      Pemberian obat antivirus oseltamivir 75mg dosis tunggal selama 7 hari
4.      Penderita mandapat terapi suportif: nutrisi dengan gizi cukup baik sehingga daya tahan tubuh meningkat

BAB 3. Kesimpulan dan Saran


3.1. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa flu burung merupakan salah satu jenis penyakit yang disebabkan oleh virus dimana virus ini dapat menular antarhewan seperti unggas dan kucing, antar hewan dengan manusia, maupun antar manusia. Flu burung dapat menular melalui udara maupun melalui kotoran serta cairan tubuh sehingga penularannya sangat cepat, selain itu virus avian influenza tergolong virus yang sangat mudah mengalami mutasi sahingga tidak jarang antar virus flu burung daerah satu dengan daerah lain terdapat perbedaan.
Faktor penyakit flu burung secara garis besar yaitu host, agent, dan faktor lingkungan.
Untuk menanggulangi flu burung dapat dilakukan dengan 3 tahap pencegahan yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.

3.2.Saran

Flu burung merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena penularannya yang sangat cepat dan memiliki angka kematian yang tinggi, namun sebenarnya kita tidak perlu terlalu takut, karena sebenarnya flu burung dapat dengan mudah dicegah hanya dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), karena itu mari budayakan PHBS mulai dari diri sendiri, keluarga sampai masyarakat.




DAFTAR PUSTAKA


1. Widoyono, 2005, Penyakit Tropis (Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, Dan Pemberantasannya), Erlangga; Jakarta

2. Nurheti Yuliarti, 2006, Menyingkap Rahasia Penyakit Flu Burung, Andi Yogyakarta; Yogyakarta

3. Anonim, 2005, Artikel Tentang Flu Burung, www.who.go.int   

4. Anonim, 2006, Artikel Tentang Flu Burung, www.depkes.go.id

5. Anonim, 2005, Artikel Dan Lapotran Tentang Perkembangan Kasus Flu Burung, www.deptan.go.id

6. Soeyoko, Tinjauan Pustaka Flu Burung, Vol.1, No.1 Januari 2007 : 1-50, http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/410715.pdf, di akses tanggal 23 oktober 2011

7. Yudhastuti, Ririh, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.2, No. 2 Januari 2006 : 183 – 194, http://journal.unair.ac.id/filerPDF/KESLING-2-2-08.pdf, di akses tanggal 23 oktober 2011

8. Wiguna, I Komang Candra, 2009, Peranan Faktor Host, Agent Dan Lingkungan Pada Terjadinya Penyakit Flu Burung, Perjalanan Alamiah Dan Tahap-Tahap Pencegahannya, http://www.scribd.com/doc/20518346/Peranan-Host-Agent-Dan-Lingkungan-Pada-Flu-Burung, di akses tanggal 23 oktober 2011

9. Tabbu, Charles Rangga, 2000, Penyakit Ayam Dan Penanggulangannya, Kanisius; Yogyakarta

10. Anonim, Key Facts About Avian Influenza (Bird Flu) And Highly Pathogenic Avian Influenza A (H5N1) Virus, Http://Www.Cdc.Gov/Flu/Avian/Gen-Info/Facts.Htm, di akses tanggal 24 oktober 2011

 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar