Welcome


Jumat, 04 November 2011

KLAMIDIA

RINI ANDRIANI
(10101001028)
RESUME
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT KLAMIDIA
               Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang penularannya terutama melalui hubungan seksual yang mencakup infeksi yang disertai gejala-gejala klinis maupun asimptomatis. Penyebab infeksi menular seksual ini sangat beragam dan setiap penyebab tersebut akan menimbulkan gejala klinis atau penyakit spesifik yang beragam pula. Penyebab IMS dapat dikelompokkan atas beberapa jenis ,yaitu: 1,4
a. bakteri ( diantaranya N.gonorrhoeae, C.trachomatis, T.pallidum)
b. virus (diantaranya HSV,HPV,HIV, Herpes B virus, Molluscum contagiosum virus),
c. protozoa (diantaranya Trichomonas vaginalis)
d. jamur (diantaranya Candida albicans)
Definisi kesehatan reproduksi:
1. Menurut Drs.Sayfuddin
       Suatu keadaan kesehatan dimana suatu kegiatan organ kelamin laki-laki dan perempuan yang khususnya testis menghasilkan spermatozoid dan ovarium.
2. Menurut WHO
       Suatu keadaan sejahtera fisik ,mental dan social yang utuh dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam seagala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi,fungsi dan prosesnya. 12
3. Menurut Depkes Ri,2000
       Suatu keadaan sehat secara menyeluruh mencakup fisik,mental dan kehidupan social yang berkaitan dengan alat,fungsinya serta proses reproduksi yang pemikiran kesehatan reproduksi bukannya kondisi yang bebas dari penyakit melainkan bagaimana seseorang dapat memiliki kehidupan seksual yang aman dan memuaskan sebelum dan sesudah menikah. 13
4. Menurut ICPD
        Keadaan sejahtera fisik,mental,social secara utuh tidak semata mata terbebas dari penyakit dan kecacatan dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem fugsi dan proses reproduksi.
5. Menurut Ida Bagus Gde Manuaba ,1998
         Kemampuan seseorang untuk dapat memanfaatkan alat reproduksi dengan mengukur kesuburannya dapat menjalani kehamilannya dan persalinan serta aman mendapatkan bayi tanpa resiko apapun (well health mother baby) dan selanjutnya mengembalikan kesehatan dalam batas normal.
                Chlamydia adalah infeksi PMS (penyakit menular seksual) yang sangat umum. Infeksi ini dapat diobati dengan mudah tapi jika tidak ditangani dapat menyebabkan masalah kesehatan dan kesuburan. Klamidia disebabkan oleh bakteri yang berkembang biak di selaput lendir dari alat kelamin. Hal ini dapat menyebabkan peradangan saluran kencing, dubur dan leher rahim. Ketika infeksi terjadi pada anus,  pasien biasanya tidak merasakan gejala meskipun mungkin merasa tidak nyaman. Kadang-kadang ada lendir, iritasi, gatal dan nyeri. Infeksi Chlamyidia di tenggorokan juga mungkin tidak memberikan gejala apapun. Jika mata Anda terinfeksi, bakteri dapat menyebabkan iritasi dan keluarnya cairan dari salah satu atau kedua mata Anda (konjunktivitis). 2,3
Klamidia adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh bakteri chlamydia trachomatis (klamidia trakomatis). Klamidia, sering menyebabkan apa yang dinamakan uretritis non spesifik yakni radang saluran kemih yang tidak spesifik, yang dikenal merupakan salah satu infeksi/penyakit, akibat dari hubungan seksual yang terjadi pada pria. Sedangkan pada wanita klamidia lebih sering menyebabkan cervicitis (serviksitis), yaitu infeksi leher rahim, dan penyakit peradangan pelvis (pinggul/panggul), bahkan menyebabkan infertilitas. 5
Chlamydia trachomatis yang terutama menyerang leher rahim. Biasanya menyerang saluran kencing atau organ-organ reproduksi. Pada wanita, menyebabkan infeksi di mulut rahim, sedangkan pada pria, menyebabkan infeksi di urethra(bagian dalam penis). Sebanyak 75 persen penderitanya, tidak mendapatkan gejala penyakit ini. Kalaupun muncul gejala, pada wanita, hanya berupa keputihan. Penyakit menular seksual (PMS) yang satu ini, dapat menular atau ditularkan pasangan. Masa inkubasi:7 sampai 12 hari. 4,5,6
Klamidia yang menyebabkan penyakit pada manusia diklasifikasikan menjadi 3 spesies :
1. Chlamydia psittaci, penyebab psittacosis
2. C. trachomatis, termasuk serotipe yang menyebabkan trachoma,infeksi alat kelamin (lihat bawah), Chlamydia conjunctivitis dan pneumonia anak dan serotipe lain yang menyebabkan Lymphogranuloma venereum
3. C. pneumoniae, penyebab penyakit saluran pernapasan termasuk pneumonia dan  merupakan penyebab penyakit arteri koroner.
               Chlamydia tergolong salah satu penyakit menular seksual (sexual transmitted diseases), seperti kencing nanah, sifilis, dan tentu HIV/AIDS. Bedanya dengan HIV, chlamydia masih bisa disembuhkan. Manusia adalah inang alami untuk C trachomatis.Infeksi Chlamydia trachomatis pada banyak negara merupakan penyebab utama infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. Laporan WHO tahun 1995 menunjukkan bahwa infeksi oleh C. trachomatis diperkirakan 89 juta orang. Di Indonesia sendiri sampai saat ini belum ada angka yang pasti mengenai infeksi C. trachomatis.
              Infeksi C. trachomatis sampai saat ini masih merupakan problematik karena keluhan ringan, kesukaran fasilitas diagnostik, mudah menjadi kronis dan residif, dan mungkin menyebabkan komplikasi yang serius seperti infertilitas dan kehamilan ektopik.Selain menular pada kelamin, chlamydia tak jarang pula bisa ditularkan lewat liang dubur jika melakukan sodomi. Dapat pula melalui rongga mulut jika melakukan oral seks dengan pasangan seks yang positif chlamydia. 2,3
1.  ASPEK BIOLOGI
a. Morfologi
           Chlamydia merupakan bakteri obligat intraselular, hanya dapat berkembang biak di dalam sel eukariot hidup dengan membentuk semacam koloni atau mikrokoloni yang disebut Badan Inklusi (BI). Chlamydia membelah secara benary fision dalam badan intrasitoplasma.C. trachomatis berbeda dari kebanyakkan bakteri karena berkembang mengikuti suatu siklus pertumbuhan yang unik dalam dua bentuk yang berbeda, yaitu berupa Badan Inisial. Badan Elementer (BE) dan Badan Retikulat (BR) atau Badan Inisial. Badan elementer ukurannya lebih kecil (300 nm) terletak ekstraselular dan merupakan bentuk yang infeksius, sedangkan badan retikulat lebih besar (1 um), terletak intraselular dan tidak infeksius.
               Morfologi inklusinya adalah bulat dan terdapat glikogen di dalamnya. C. trachomatis peka terhadap sulfonamida, memiliki plasmid, dan jumlah serovarnya adalah 15.
b.  Klasifikasi
             Klasifikasi Ilmiah dari Chlamydia trachomatis adalah sebagai berikut:
Ordo : Chlamydiales
Famili : Chlamydiaceae
Genus : Chlamydia
Spesies : Chlamydia trachomatis
c. Siklus Hidup
                Secara singkat, perkembangan C.trachomatis adalah sebagai berikut:

2.  PENYAKI T YANG DITIMBULKAN
a. Penyebab penyakit
Chlamydia trachomatis, imunotipe D sampai dengan K, ditemukan pada 35 – 50 % dari kasus uretritis non gonokokus di AS.
b. Jenis Penyakit, Penyebaran dan Penularan
Infeksi pada Pria
1. Uretritis
               Infeksi di uretra merupakan manifestasi primer infeksi chlamydia. Masa inkubasi untuk uretritis yang disebabkan oleh C. trachomatis bervariasi dari sekitar 1 – 3 minggu. Pasien dengan chlamydia, uretritis mengeluh adanya duh tubuh yang jernih dan nyeri pada waktu buang air kecil (dysuria). Infeksi uretra oleh karena chlamydia ini dapat juga terjadi asimtomatik. 
         Diagnosis uretritis pada pria dapat ditegakkan dengan pemeriksaan pewarnaan Gram atau biru methylene dari sedian apus uretra. Bila jumlah lekosit PMN melebihi 5 pada pembesaran 1000 x merupakan indikasi uretritis. Perlu diketahui bahwa sampai 25% pria yang menderita gonore, diserta infeksi chlamydia. Bila uretritis karena chlamydia tidak diobati sempurna, infeksi dapat menjalar ke uretra posterio dan menyebabkan epididimitis dan mungkin prostatitis.
2. Proktitis
              C. trachomatis dapat menyebabkan proktitis terutama pada pria homoseks. Keluhan penderita ringan dimana dapat ditemukan cairan mukus dari rektum dan tanda-tanda iritasi, berupa nyeri pada rektum dan perdarahan
     a.  Epididimitis
          Sering kali disebabkan oleh C. trachomatis, yang dapat diisolasi dari uretra atau dari aspirasi epididimis. Dari hasil penelitian terakhir mengatakan bahwa C. trachomatis merupakan penyebab utama epididimitis pada pria kurang dari 35 tahun (sekitar 70 -90%). Secara klinis, chlamydial epididimitis dijumpai berupa nyeri dan pembengkakan scrotum yang unilateral dan biasanya berhubungan dengan chlamydial uretritis, walaupun uretritisnya asimptomatik.
b.      Prostatitis
                Setengah dari pria dengan prostatitis, sebelumnya dimulai dengan gonore atau uretritis non gonore. Infeksi C. trachomatis pada prostat dan epididimis pada umumnya merupakan penyebab infertilitas pada pria.
c.       Sindroma Reiter
              Suatu sindroma yang terdiri dari tiga gejala yaitu: artritis, uretritis dan konjungtivitis, yang dikaitkan dengan infeksi genital oleh C. trachomatis. Hal ini disokong dengan ditemukannya “Badan Elementer” dari C. trachomatis pada sendi penderita dengan menggunakan teknik Direct Immunofluerescence.
Infeksi pada Wanita Sekitar setengah dari wanita dengan infeksi C. trachomatis di daerah genital ditandai dengan bertambahnya duh tubuh vagina dan atau nyeri pada waktu buang air kecil, sedangkan yang lainnya tidak ada keluhan yang jelas. Pada penyelidikan pada wanita usia reproduktif yang datang ke klinik dengan gejala-gejala infeksi traktus urinarius 10 % ditemukan carier C. trachomatis.
Faktor resiko infeksi C. trachomatis pada wanita adalah :
 - Usia muda, kurang dari 25 tahun
 - Mitra seksual dengan uretritis
 - Multi mitra seksual
 - Swab endoserviks yang menimbulkan perdarahan
 - Adanya sekret endoserviks yang mukopurulen
     -  Memakai kontrasepsi “non barier” atau tanpa kontrasepsi
d.  Servisitis
            Chlamydia trachomatis menyerang epitel silindris mukosa serviks. Tidak ada gejala-gejala yang khas membedakan servisitis karena C. trachomatis dan servisitis karena organisme lain. Pada pemeriksaan dijumpai duh tubuh yang mukopurulen dan serviks yang ektopi.
            Pada penelitian yang menghubungkan servisitis dengan ektopi serviks, prevalerisi servisitis yang disebabkan C. trachomatis lebih banyak ditemukan pada penderita yang menunjukkan ektopi serviks dibandingkan yang tidak ektopi. Penggunaan kontrasepsi oral dapat menambah resiko infeksi Chlamydia trachomatis pada serviks, oleh karena kontrasepsi oral dapat menyebabkan ektopi serviks.
e.       Endometritis
                 Servisitis oleh karena infeksi C. trachomatis dapat meluas ke endometrium sehingga terjadi endometritis. Tanda dari endometritis antara lain menorrhagia dan nyeri panggul yang ringan. Pada pemeriksaan laboratorium, chlamydia dapat ditemukan pada aspirat endometrium.
f.       Salfingitis (PID)
             Salfingitis terjadi oleh karena penjalaran infeksi secara ascenden sehingga infeksi sampai ke tuba dan menyebabkan kerusakan pada tuba (terjadi tuba scarring). Hal ini dapat menyebabkan infertilitas dan kehamilan ektopik. Wanita dengan PID, lebih separuh disebabkan oleh chlamydia, umumnya mengeluh rasa tidak enak terus di perut bawah. Itu lantaran infeksi menyebar ke rahim, saluran telur, indung telur, bahkan sampai ke leher rahim juga.
g.      Perihepatitis (Fitz - Hugh - Curtis Syndrome)
                 Infeksi C. trachomatis dapat meluas dari serviks melalui endometrium ke tuba dan kemudian parakolikal menuju ke diafragma kanan. Beberapa dari penyebaran ini menyerang permukaan anterior liver dan peritoneum yang berdekan sehingga menimbulkan perihepatitis. Parenchym hati tidak diserang sehingga tes fungsi hati biasanya normal. 3,4,6
3.    Gejala
            Gejala mula timbul dalam waktu 3-12 hari atau lebih setelah terinfeksi. Pada penis atau vagina muncul lepuhan kecil berisi cairan yang tidak disertai nyeri. Lepuhan ini berubah menjadi ulkus (luka terbuka) yang segera membaik sehingga seringkali tidak diperhatikan oleh penderitanya. Selanjutnya terjadi pembengkakan kelenjar getah bening pada salah satu atau kedua selangkangan. Kulit diatasnya tampak merah dan teraba hangat, dan jika tidak diobati akan terbentuk lubang (sinus) di kulit yang terletak diatas kelenjar getah bening tersebut.Dari lubang ini akan keluar nanah atau cairan kemerahan, lalu akan membaik; tetapi biasanya meninggalkan jaringan parut atau kambuh kembali. Gejala lainnya adalah demam, tidak enak badan, sakit kepala, nyeri sendi, nafsu makan berkurang, muntah, sakit punggung dan infeksi rektum yang menyebabkan keluarnya nanah bercampur darah. Akibat penyakit yang berulang dan berlangsung lama, maka pembuluh getah bening bisa mengalami penyumbatan, sehingga terjadi pembengkakan jaringan. Infeksi rektum bisa menyebabkan pembentukan jaringan parut yang selanjutnya mengakibatkan penyempitan rektum.

BAB I
PENDAHULUAN
1.        Data Kasus penyakit menular (sesuai topik), dunia, nasional, Sumsel, dan Palembang.
        Penyakit Menular Seksual (PMS) adalah penyakit yang penularannya terutama melalui hubungan seksual . Sejak tahun 1998, istilah STD mulai berubah menjadi STI (Sexually Transmitted Infection), agar dapat menjangkau penderita asimtomatik. Menurut WHO (2009), terdapat lebih kurang 30 jenis mikroba (bakteri, virus, dan parasit) yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Kondisi yang paling sering ditemukan adalah infeksi gonorrhoeae, chlamydia, syphilis, trichomoniasis, chancroid, herpes genitalis, infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan hepatitis B. Dalam semua masyarakat, Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan penyakit yang paling sering dari semua infeksi. 7
              Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan salah satu dari sepuluh penyebab pertama penyakit yang tidak menyenangkan pada dewasa muda laki- laki dan penyebab kedua terbesar pada dewasa muda perempuan di negara berkembang. Dewasa dan remaja (15- 24 tahun) merupakan 25% dari semua populasi yang aktif secara seksual, tetapi memberikan kontribusi hampir 50% dari semua kasus IMS baru yang didapat. Kasus- kasus IMS yang terdeteksi hanya menggambarkan 50%- 80% dari semua kasus IMS yang ada di Amerika. Ini mencerminkan keterbatasan “screening” dan rendahnya pemberitaan akan IMS. 5
           Diperkirakan lebih dari 340 juta kasus baru dari IMS yang dapat disembuhkan (sifilis, gonore, infeksi klamidia, dan infeksi trikomonas) terjadi setiap tahunnya pada laki- laki dan perempuan usia 15- 49 tahun. Secara epidemiologi penyakit ini tersebar di seluruh dunia, angka kejadian paling tinggi tercatat di Asia Selatan dan Asia Tenggara, diikuti Afrika bagian Sahara, Amerika Latin, dan Karibean. Jutaan IMS oleh virus juga terjadi setiap tahunnya, diantaranya ialah HIV, virus herpes, human papilloma virus, dan virus hepatitis B. 13
             Di Amerika, jumlah wanita yang menderita infeksi klamidia 3 kali lebih tinggi dari laki- laki. Dari seluruh wanita yang menderita infeksi klamidial, golongan umur yang memberikan kontribusi yang besar ialah umur 15-24 tahun. 8,9 Di Indonesia sendiri, telah banyak laporan mengenai prevalensi infeksi menular seksual ini. Beberapa laporan yang ada dari beberapa lokasi antara tahun 1999 sampai 2001 menunjukkan prevalensi infeksi gonore dan klamidia yang tinggi antara 20%-35% .
              Penyakit menular seksual juga merupakan penyebab infertilitas yang tersering, terutama pada wanita. Antara 10% dan 40% dari wanita yang menderita infeksi klamidial yang tidak tertangani akan berkembang menjadi pelvic inflammatory disease. 2,3
            WHO memperkirakan telah terjadi 340 juta kasus baru Infeksi Menular Seksual (IMS) pada tahun 1999. Angka kejadian infeksi baru terbanyak terjadi di daerah Asia Selatan dan Asia Tenggara (151 juta kasus), yang diikuti oleh Afrika Sub-Sahara (69 juta kasus) dan Amerika Latin (38 juta kasus). 3
             Melakukan hubungan seks yang tidak aman di luar nikah merupakan salah satu faktor risiko untuk tertular IMS. Dari berbagai hasil penelitian yang ada, peneliti mendapati bahwa remaja yang telah melakukan hubungan seks tidak aman di luar nikah memiliki persentase cukup tinggi. Dalam salah satu penelitian yang dilakukan di Kanada, dari 2376 orang pelajar tingkat 7 sampai tingkat 12 dari suku Aborigin yang dijadikan sebagai sampel, sebanyak 33,7% dari total 1140 orang anak laki-laki dan sebanyak 35% dari total 1336 orang anak perempuan pernah melakukan hubungan seks. Sebanyak 63,3% laki-laki dan 56,1% perempuan memiliki lebih dari satu partner seks; 21,4% laki-laki dan 40,5% perempuan tidak menggunakan kondom saat mereka terakhir kali melakukan hubungan seks. 10 Sebuah survei yang dilakukan oleh Youth Risk Behavior Survey (YRBS) secara nasional di Amerika Serikat pada tahun 2007 mendapati bahwa 47,8% pelajar yang duduk di tingkat 9-12 telah melakukan hubungan seksual, 35% pelajar SMA telah aktif secara seksual dan 38,5% dari pelajar SMA tersebut tidak menggunakan kondom pada saat hubungan seksual yang terakhir kali dilakukan. Selain itu, 4,4% siswa SMA ternyata sudah menggunakan ekstasi. 6
                Di Indonesia juga telah dilakukan beberapa penelitian yang berkaitan dengan remaja dan perilaku seksual mereka. Hasil penelitian Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di kota Palembang, Kupang, Tasikmalaya, Cirebon dan Singkawang tahun 2005 menunjukkan bahwa 9,1 persen remaja telah melakukan hubungan seks sebelum menikah dan 85 persennya melakukan hubungan seks pertama mereka pada usia 13-15 tahun di rumah mereka dengan pacar.
              Di Indonesia, usia risiko tinggi terkena IMS pada umumnya masih menjalani pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) dan universitas, sedangkan perilaku seks bebas umumnya sudah dimulai sejak sekolah Menengah Pertama (SMP). Salah satu cara pencegahan IMS adalah dengan memiliki perilaku yang baik dan benar tentang kesehatan reproduksi khususnya IMS. Dalam suatu penelitan di salah satu SMA swasta di kota Medan ditemukan bahwa tingkat pengetahuan siswa/i mengenai IMS dalam kategori kurang baik (52,4%) sedangkan sikap siswa/i terhadap IMS berada dalam kategori cukup baik (57,1%). 5,6

Table. Jumlah Kumulatif Kasus Klamidia Berdasarkan Propinsi
                             Sumber: Ditjen PP & PL Kemenkes RI.

 

Figure 5. Chlamydia prevalence rates (%) amongst asymptomatic women in European countries, 1990s 

Figure 6. Chlamydia prevalence rates (%) pregnant women in African countries, 1990s 
 
Copyright © World Health Organization 2001.This document is not a formal publication of the World Health Organisation (WHO), and all rights are reserved by the Organisation. The document may, however, be freely reviewed, abstracted, reproduced or translated, in part or in whole, but not for sale or for use in conjunction with commercial purposes. The views expressed in documents by named authors are solely the responsibility of those authors. Design by RSdeSigns.com.

Tabel 1. Prevalensi ISR pada WPS, Palembang, 2003
  
Laporan lain dari beberapa lokasi di Indonesia antara tahun 1999 dan 2001 menunjukkan prevalensi gonore dan klamidia yang cukup tinggi, yaitu antara 20­35%, dan prevalensi serologi sifilis positif pada WPS di Kota Palembang tahun 1999 – 2003 berkisar antara 2 – 12%. Angka­angka prevalensi yang dilaporkan dari pengamatan dan pengukuran yang masih bersifat sporadis tersebut di atas tergolong tinggi. 8
             Sebagian besar WPS di Palembang berasal dari Jawa Barat. Sekitar seperlima dari mereka  berasal dari Sumatera Selatan. Ada juga yang berasal dari provinsi lain yang dekat maupun  jauh dari Palembang sebagaimana tampak pada gambar 1.

Gambar 1. Provinsi Tempat Asal WPS
Penelitian Prevalensi ISR pada WPS di Palembang, 2005
 
Sebanyak 24 WPS langsung menyatakan pernah menjual seks di provinsi lain. Provinsi  yang pernah menjadi lokasi para WPS tersebut dalam 2 tahun terakhir antara lain Riau  (4), Bengkulu (3), Lampung (1), Bangka Belitung (2), DKI Jakarta (6), Jawa Barat (7), dan  Banten(1). WPS tidak langsung yang menyatakan pernah menjual seks di provinsi lain  dalam 2 tahun terakhir ada 13 orang, yaitu di Riau (2), Bengkulu (3), Lampung (2), DKI  Jakarta (2), Jawa Barat (2), dan Jawa Tengah. 10
Median jumlah pelanggan WPS langsung satu minggu terakhir adalah 5 orang dan WPS  tidak langsung 7 orang. Dibandingkan penelitian sebelumnya (WPS langsung 4 orang  pelanggan dan tidak langsung 9 orang pelanggan), tampaknya terjadi peningkatan jumlah  pelanggan pada WPS langsung dan penurunan pada yang  tidak langsung. 9
2.    Urgensi Penyakit Dalam Kesehatan Masyarakat.
           Perkembangan buadaya masa kini membawa masyarakat kita pada tatanan budaya yang baru, budaya yang terkadang lepas dari tata tertib yang seharusnya. Salah satu budaya bebas yang salah dianut dan salah diartikan adalah budaya seks bebas. Budaya seks bebas ini bisa menjadi pemicu cepatnya penularan dan penyebaran penyakit kelamin. Penyakit kelamin adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks oral ataupun hubungan kelamin. Penyakit kelamin yang ada saat ini beragam jenisnya,Penyakit kelamin tertentu dapat disembuhkan dengan konsumsi antibiotika secara terus menerus seperti klamidia, namun dalam beberapa kasus hal ini juga malah memicu timbulnya penyakit baru yang lebih ganas. Beberapa penyakit kelamin yang terkenal karena keganasannya antara lain sifilis dan herpes. 3,4
              Kehidupan masyarakat sangat bergantung pada lingkungannya. Jika lingkungannya baik, maka dirinya pun insyaAllah akan baik pula. Bila kita menelusuri hal ini lebih dalam pada kehidupan pemuda saat ini, maka saat ini pemuda Indonesia tengah dilanda kehancuran. Salah satu kehancuran yang mulai tampak terlihat dari degradasi moral para pemuda itu sendiri. Degradasi moral tentunya tak lepas dari lingkungan yang membentuknya. Hal ini tergambar dari perilaku seksual yang mulai menyimpang dari pemuda saat ini. Jika dilihat berdasarkan fakta maka Indonesia adalah termasuk negara dengan tingkat Infeksi Menular Seksual-nya tinggi. Di dunia, wilayah Asia Selatan Tenggara merupakan peringkat ke-2 dalam Infeksi Menular Seksual, termasuk Indonesia. Dan perlu kita ketahui bersama bahwa secara global setiap harinya terdapat satu juta kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) / Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) yang bisa diobati, belum lagi yang tidak bisa diobati. 4,9
          Penyakit menular seksual juga merupakan penyebab infertilitas yang tersering, terutama pada wanita. Antara 10% dan 40% dari wanita yang menderita infeksi klamidial yang tidak tertangani akan berkembang menjadi pelvic inflammatory disease
. 1,13
          Tahun 1999 dan 2001 menunjukkan prevalensi gonore dan klamidia yang cukup tinggi di Palembang, yaitu antara 20­35%, dan prevalensi serologi sifilis positif pada WPS di Kota Palembang tahun 1999 – 2003 berkisar antara 2 – 12%. Angka­angka prevalensi yang dilaporkan dari pengamatan dan pengukuran yang masih bersifat sporadis tersebut di atas tergolong tinggi. Sebagian besar WPS di Palembang berasal dari Jawa Barat. Sekitar seperlima dari mereka  berasal dari Sumatera Selatan. Ada juga yang berasal dari provinsi lain yang dekat maupun  jauh dari Palembang.  12,13
           Peningkatan insidensi IMS dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diantaranya adalah perubahan demografik seperti pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat tinggi, pergerakan masyarakat yang meningkat akibat perkerjaan ataupun pariwisata dan kemajuan sosial ekonomi. Akibat perubahan-perubahan demografik tersebut maka terjadi pergeseran pada nilai moral dan agama pada masyarakat. Faktor lain yang juga mempengaruhi peningkatan IMS adalah kelalaian negara dalam memberi pendidikan kesehatan dan seks kepada masyarakat, fasilitas kesehatan yang belum memadai dan banyak kasus asimptomatik sehingga pengidap merasa tidak sakit, namun dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain. 9,11
           Dengan demikian,perlu adanya pencerdasan pada masyarakat mengenai pentingnya kesehatan reproduksi. Hal ini sangat penting karena ketika hal ini bermasalah akan menciptakan suatu lingkar setan yang tak mudah untuk dihilangkan. Perilaku pemuda saat ini, seperti melakukan seks pra-nikah merupakan hal yang tak bisa kita terima. Hal ini jelas-jelas merusak masa depan bangsa ini. Jika hal ini tak ditanggulangi maka masalah-masalah lain terkait kesehatan reproduksi akan terus bertambah. Dan itu sudah terjadi, penyakit menular seksual dikarenakan seks bebas sudah menyebar dimana-mana. Sebut saja sifilis, gonore, klamidia, dan trikomoniasis merupakan sedikit contohnya. 1,4
BAB II
PEMBAHASAN
1. TRIAD EPIDEMIOLOGI
1.1. AGENT
              Klamidia disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Bakteri ini dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain selama hubungan seks. Klamidia juga dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya selama kelahiran vagina. Bayi yang tertulari akan mengalami peradangan paru (pneumonia) atau mata (konjunktivitis). 1,7
http://www.rusmanmalili.com/tag/penyakit-menular
1.2. HOST
            Host adalah manusia atau makhluk hidup lainnya termasuk burung dan arthropoda yang menjadi tempat terjadi proses alamiah perkembangan penyakit.Host penyakit klamidia adalah anak usia muda(remaja) yang bisa menyerang laki-laki ataupun pada perempuan yang kebiasaan hidup atau kehidupan sosialnya selalu berganti-ganti pasangan yang dapat menyebabkan tertularnya penyakit kelamin tersebut.sehingga agent bertahan hidup pada host yang rentan tertular penyakit tersebut. 5,8
1.3. ENVIRONTMENT
            Lingkungan social sangat berpengaruh pada terjadinya penyakit klamidia, perubahan demografik seperti pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat tinggi, pergerakan masyarakat yang meningkat akibat perkerjaan ataupun pariwisata dan kemajuan sosial ekonomi. Akibat perubahan-perubahan demografik tersebut maka terjadi pergeseran pada nilai moral dan agama pada masyarakat.selain itu,budaya juga dapat berpengaruh pada terjadinya penularan penyakit kelamin. Salah satu budaya bebas yang salah dianut dan salah diartikan adalah budaya seks bebas. 6
2. TRANSMISI PENYAKIT KLAMIDIA
           Klamidia merupakan salah satu jenis penyakit yang ditimbulkan akibat perilaku seks bebas sehingga penularannya sangat mudah untuk dilakukan lewat hubungan seksual Seperti vagina,oral dan anal.
Penyakit klamidia tidak memandang gender, penyakit klamidia ini bisa menyerang pria juga wanita. penyakit klamidia bisa menyebabkan gangguan pada saluran air seni, leher rahim, jalur pelepasan dubur, tenggorokan, dan mata. Penyakit klamidia akan menunjukkan reaksinya sekitar 2-14 hari setelah terinfeksi. Pada wanita reaksi yang umum terjadi adalah kejang pada perut bagian bawah, perubahan jadwal haid, juga sakit saau buang air kceil. Penderita bisa mengidap penyakit ini selama berbulan-bulan bahkan tahunan tanpa pernah tahu mengidap penyakit berbahaya ini. Penyakit ini bisa menyerang baik laki-laki maupun perempuan semua usia, terutama dewasa muda.  2,5
3. RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT
3.1. MASA INKUBASI DAN KLINIS
           Masa inkubasi Klamidia adalah 7-12 hari.Masa klinis klamidia sampai muncul gejala adalah 1-3 minggu lebih lama daripada gonore.sekitar 25% pria dan sebagian besar wanita tidak mengalami gejala dini karena infeksi klamidia dan banyak yang menjadi carrier asimtomatik penyakit klamidia. 10
3.2. MASA LATEN DAN PERIODE INFEKSI
          Masa laten penyakit ini timbul 2-14 hari setelah terinfeksi. Jika sudah demikian penderita bisa mengidap penyakit ini selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun tanpa mengetahuinya.
          Periode infeksi biasanya antara 4-28 hari setelah berhubungan intim dengan penderita,seorang pria akan mengalami panas pada alat kelaminnya saat berkemih.biasanya akan keluar nanah dari penis,nanahnya bisa agak jernih atau keruh, tetapi lebih encer daripada gonore.
a. Pada pria, uretritis ditandai oleh sekret yang jumlahnya sedikit, berair (kemudian mukus) dari uretra. Gejala lain adalah nyeri dan disuria. Pada wanita, ada disuria, polakisuria dan leukorea ringan. Servisitis adalah hal yang relatif sering ditemui. Hal ini bermanifestasi sebagai sekret mukopurulen dan edema atau kecenderungan perdarahan orifisium uteri.  
b. Pada wanita, infeksi klamidia yang lama sering mengakibatkan endometritis dan salpingitis. Pasien mungkin mengalami demam ringan atau nyeri abdomen bawah yang ringan. Endometritis juga dapat menyebabkan perdarahan uterus yang ireguler. PID (Pelvic Inflammation Disease) adalah komplikasi lanjut dari infeksi klamidia yang penting, biasanya memerlukan terapi rawat inap. Perihepatitis adalah komplikasi yang jarang pada infeksi klamidia. 3,5
4. PENCEGAHAN
         Pencegahan penyakit klamidia menurut WHO:
4.1. Pencegahan
    1).  Penyuluhan kesehatan dan pendidikan seks : sama seperti sifilis (lihat Sifilis,      9A) dengan penekanan pada penggunaan kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan wanita bukan pasangannya.
2).  Pemeriksaan pada remaja putri yang aktif secara seksual harus dilakukan secara rutin. Pemeriksaan perlu juga dilakukan terhadap wanita dewasa usia dibawah 25 tahun, terhadap mereka yang mempunyai pasangan baru atau terhadap mereka yang mempunyai beberapa pasangan seksual dan atau yang tidak konsisten menggunakan alat kontrasepsi. Tes terbaru untuk infeksi trachomatis dapat digunakan untuk memeriksa remaja dan pria dewasa muda dengan spesimen urin.7,8
4.2. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar.
         1). Laporan pada instansi kesehatan setempat; laporan kasus wajib dilakukan   dibanyak negara bagian di AS, Kelas 2B (lihat Tentang pelaporan penyakit menular).
2). Isolasi : tindakan kewaspadaan universal, bisa diterapkan untuk pasien rumah sakit. Pemberian terapi antibiotika yang tepat menjamin discharge tidak infektif; penderita sebaiknya menghindari hubungan seksual hingga kasus indeks, penderita atau pasangannya telah selesai diberi pengobatan yang lengkap.
3).  Disinfeksi serentak :
Pembuangan benda-benda yang terkontaminasi dengan discharge uretra davagina, harus ditangani dengan seksama.
4).  Karantina : tidak dilakukan.
5).  Imunisasi kontak : tidak dilakukan.
6).  Investigasi kontak dan sumber infeksi.
 Pengobatan profilaktik diberikan terhadap pasangan seks lain dari penderita, dan  pengobatan yang sama diberikan kepada pasangan tetap. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi dan belum mendapat pengobatan sistemik, foto thorax perlu diambil pada usia 3 minggu dan diulang lagi sesudah 12 – 18 minggu untuk mengetahui adanya pneumonia klamidia sub klinis. 8
4.3. Cara mengurangi resiko
1.    Puasa mekukan hubungan seks
2.    Batasi partner seksual
3.    Gunakan kondom dengan benar
4.    Cek kesehatan 
         Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan(over tbehaviot).untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan antara lain:fasilitas pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau,faktor dukungan (support) dari pihak lain misalnya  tokoh masyarakat. petugas kesehatan sangat penting untuk mendukung praktek pencegahan penyakit menular seksual. 8
        Praktek pencegahan penyakit menular seksual antara lain:
1. Pencegahan primer meliputi :
a.   Tidak melakukan hubungan seksual baik vaginal,anal dan oral dengan orang yang  terinfeksi adalah satu-satunya cara yang 100% efektif untuk pencegahan.
b.   Selalu menggunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit seksual.
c.   Selalu menjaga kebersihan alat kelamin.
d. Segera memeriksakan diri serta melakukan konseling kedokter atau petugas kesehtan apabila mengalami tanda dan gejala penyakit menular seksual meliputi:rasa sakit atau nyeri pada saat kencing atau berhubungan seksual ,rasa nyeri pada perut bagian bawah.Pengeluaran lendir pada vagina/alat kelamin,keputihan berwarna putih susu,bergumpal dan disertai rasa gatal dan kemerahan pada alat kelamin tau sekitarnya,keputihan yang berbusa,kehijauan,berbau busuk,dan gatal,timbul bercak-bercak darah setelah berhubungan seks bintil-bintil berisi cairan,lecet atau borok pada alat kelamin.1,2
2. Pencegahan sekunder,meliputi:
a.   Adanya siraman rohani yang dilakukan di lokalisasi.
b. Peningkatan pengetahuan tentang penyakit menular seksual meliputi penyuluhan  dari dinas kesehatan.
3. Pencegahan tersier meliputi:
a.   Adanya peraturan dari pemerintah tentang larangan prostitusi.
b.  Adanya usaha rehabilitasi dengan pelatihan keterampilan pada wanita pekerja seksual yang meninggalkan pekerjaan sebagai pekerja seksual. 3,7
5. PENGOBATAN
Untuk pengobatan dapat diberikan:
1. Tetrasiklin
        Tetrasiklin adalah antibodi pilihan yang sudah digunakan sejak lama untuk infeksi genitalia yang disebabkan oleh C.trachomatis. Dapat diberikan dengan dosis 4 x 500 mg/h selama 7 hari atau 4 x 250 mg/hari selama 14 hari. Analog dari tetrasiklin seperti doksisiklin dapat diberikan dengan dosis 2 x l00 mg/h selama 7 hari. Obat ini yang paling banyak dianjurkan dan merupakan drug of choice karena cara pemakaiannya yang lebih mudah dan dosisnya lebih kecil. 9,11
2.  Azithromisin
        Azithromisin merupakan suatu terobosan baru dalam pengobatan masa sekarang. Diberikan dengan dosis tunggal l gram sekali minum.
Regimen alternatif dapat diberikan:
- Erythromycin 4 x 500 mg/hari selama 7 hari atau 4 x 250 mg/hari selama l4 hari.
- Ofloxacin 2 x 300 mg/hari selama 7 hari.
Regimen untuk wanita hamil:
-  Erythromycin base 4 x 500 mg/hari selama 7 hari.
Terapi yang biasanya digunakan adalah:
      - Antibiotika, minum obat secara teratur
- Partner seksualnya juga harus diobati
       Obat-obat antibiotic :
  Doksisiklin 2 x 100mg selama 1 minggu atau lebih.
  Tetrasiklin 4 x 500 selama 1 minggu atau lebih.
  Eritromisin 4 x 500mg selama 1 minggu atau lebih.
  Azitromisin 1 gram dosis tunggal.  9
BAB III
PENUTUP
1.    KESIMPULAN
  Klamidia adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh virus chlamydia trachomatis (klamidia trakomatis). Klamidia, sering menyebabkan apa yang dinamakan uretritis non spesifik yakni radang saluran kemih yang tidak spesifik, yang dikenal merupakan salah satu infeksi/penyakit, akibat dari hubungan seksual yang terjadi pada pria. Sedangkan pada wanita klamidia lebih sering menyebabkan cervicitis (serviksitis), yaitu infeksi leher rahim, dan penyakit peradangan pelvis (pinggul/panggul), bahkan menyebabkan infertilitas.
           Klamidia yang menyebabkan penyakit pada manusia diklasifikasikan menjadi 3 spesies :
1. Chlamydia psittaci, penyebab psittacosis
2. C. trachomatis, termasuk serotipe yang menyebabkan trachoma,infeksi alat kelamin (lihat bawah), Chlamydia conjunctivitis dan pneumonia anak dan serotipe lain yang menyebabkan Lymphogranuloma venereum
3. C. pneumoniae, penyebab penyakit saluran pernapasan termasuk pneumonia dan  merupakan penyebab penyakit arteri koroner.
          Penyakit menular seksual juga merupakan penyebab infertilitas yang tersering, terutama pada wanita. Antara 10% dan 40% dari wanita yang menderita infeksi klamidial yang tidak tertangani akan berkembang menjadi pelvic inflammatory disease.
          Tahun 1999 dan 2001 menunjukkan prevalensi gonore dan klamidia yang cukup tinggi di Palembang, yaitu antara 20­35%, dan prevalensi serologi sifilis positif pada WPS di Kota Palembang tahun 1999 – 2003 berkisar antara 2 – 12%. Angka­angka prevalensi yang dilaporkan dari pengamatan dan pengukuran yang masih bersifat sporadis tersebut di atas tergolong tinggi. Sebagian besar WPS di Palembang berasal dari Jawa Barat. Sekitar seperlima dari mereka  berasal dari Sumatera Selatan.

2.    SARAN
        Penyakit menular seksual semakin tinggi prevalence nya terutama di sumsel,palembang.sebagai seorang kesehatan masyarakat,dalam menyikapi kasus seperti ini,kita harus memberikan masukan atau penyuluhan kepada mereka yang telah terinfeksi penyakit menular tersebut.kita tidak perlu menjauhi mereka.yang seharusnya kita lakukan adalah memberi dukungan moral dan pendidikan kesehatan serta penyuluhan kepada mereka karena penyakit klamidia ini masih bisa diobati.selain itu,memberikan penyuluhan juga kepada para remaja tentang pentingnya menjaga organ reproduksi serta dampak dan bahaya nya jika melakukan seks bebas,memberikan contoh nyata akibat dari kasus tersebut agar prevalence dari kasus tersebut bisa berkurang karena berdasarkan data dari kasus klamidia tersebut,bahwa Palembang cukup tinggi angka prevalensi kejadiannya.selain itu,untuk diri sendiri atau untuk individu,harus berhati-hati lagi dalam menghadapi kemajuan budaya,modernisasi yang terus berkembang serta teknologi sekarang yang jelas lebih mempermudah dalam hal seks bebas.dan sebaiknya hindari untuk berganti ganti pasangan karena penyakit infeksi menular seksual lebih mudah penularannya melalui hubungan seksual.

GAMBAR PENDUKUNG
       Berikut ini adalah gambar-gambar akibat penyakit klamidia.
                        

                    



                       
REFERENSI

2.)whqlibdoc.who.int/publications/2004/9241562846_ind.pdf
3.)whqlibdoc.who.int/publications/2003/9241545453_ind.pdf
5.)Harris JRW, Foster SM., 1991, Genital Chlamydial Infection; Clinical Aspects,     Diagnosis, Treatment and Prevention. In: Sexually Transmitted Diseases and AIDS, 219, Churcill Livingstone, New York.
6).Kartono.Kontradiksi Dalam Kesehatan Reproduksi. Pustaka Sinar  Harapan;Jakarta; 1998.
7.)Hutapea NO, Tarigan J., 1992, Infeksi Chlamydia di antara Mitra Seksual: Kumpulan Makalah Ilmiah Konas VII PERDOSKI, 171, Bukit Tinggi.
8.) Centers for Disease Control and Prevention   1600 Clifton Rd. Atlanta, GA 30333,   USA.
9.) Centers for Disease Control and Prevention. Sexually Transmitted Disease Surveillance, 2009. Atlanta, GA: U.S. Department of Health and Human Services; 2010.
10.) U.S. Department of Health & Human Services - 200 Independence Avenue, S.W. - Washington, D.C. 2001.
11.) World Bank. World Development report: Investing in Health. Washington, 1993.
12.) Anonim, 2004, Klamidia, http://www.pppl.depkes.go.id, diakses tanggal 20 Oktober 2011.
13.)World Health Organization 2001.This document is not a formal publication of the World Health Organisation (WHO), and all rights are reserved by the Organisation. The document may, however, be freely reviewed, abstracted, reproduced or translated, in part or in whole, but not for sale or for use in conjunction with commercial purposes. The views expressed in documents by named authors are solely the responsibility of those authors. Design by RSdeSigns.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar