Welcome


Senin, 07 November 2011

HEPATITIS B


WIGA VIRGIAN UTAMI - 10101001068




A.     RESUME
Hepatitis B merupakan penyakit yang banyak ditemukan didunia. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis B yang menyebabkan infeksi yang mengancam jiwa hati yang sering menyebabkan penyakit hati kronis dan menempatkan orang pada risiko tinggi kematian dari sirosis hati dan kanker hati. Infeksi virus hepatitis B adalah masalah kesehatan global utama. Di seluruh dunia, dua miliar orang diperkirakan telah terinfeksi dengan virus hepatitis B (HBV), dan lebih dari 350 juta memiliki infeksi hati kronis (jangka panjang)(1,3,5).
Penyakit ini telah dianggap sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang harus diselesaikan(5). Hal ini  karena  selain  prevalensinya  tinggi,  virus  hepatitis  B  dapat  menimbulkan problempasca akut bahkan dapat terjadi  cirroshis hepatitis dan karsinoma hepatoseluler primer(5).
Hepatitis B biasanya ditularkan dari orang ke orang melalui darah/darah
produk  yang  mempunyai  konsentrasi  virus  hepatitis  B  yang  tinggimelalui semen, melalui saliva, melalui alat-alat yang tercemar virus hepatitis B seperti sisir, pisau cukur, alat makan, sikat gigi, alat kedokteran dan lain-lain. Di Indonesia kejadian hepatitis B satu diantara 12-14 orang, yang berlanjut menjadi hepatitis kronik, chirosis hepatis dan hepatoma. Satu atau dua kasus meninggal akibat hepatoma(5). Maka  diperlukan pencegahan sedini mungkin. Pencegahan yang dilakukan meliputi pencegahan penularan penyakit hepatitis B melalui Health Promotion dan pencegahan         penyakit melalui pemberian vasinasi. Menurut WHO bahwa pemberian  vaksin  hepatitis  B  tidak  akan  menyembuhkan  pembawa  kuman (carier)  yankronis,  tetapi  diyakini  95  % efektif mencegaberkembangnya penyakit menjadi carier.

                                                
B.      PENDAHULUAN
i. Data Kasus Penyakit Hepatitis B
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, lebih dari dua miliar penduduk dunia terinfeksi hepatitis B (HBV) dengan angka kematian 250.000 orang per tahun dan lebih dari 350 juta memiliki infeksi hati kronis (jangka panjang) (6,7). Hepatitis B endemik di China dan bagian lain di Asia. Kebanyakan orang di wilayah tersebut menjadi terinfeksi VHB selama masa kanak-kanak(7). Di wilayah ini, 8% sampai 10% dari populasi dewasa terinfeksi kronis(7). Kanker hati disebabkan oleh HBV adalah antara tiga penyebab pertama kematian dari kanker pada pria, dan penyebab utama kanker pada wanita(7)


Indonesia adalah negara dengan prevalensi hepatitis B dengan tingkat endemisitas tinggi yaitu lebih dari 8 persen yang sebanyak 1,5 juta orang Indonesia berpotensi mengidap kanker hati, hal ini berarti bahwa Indonesia termasuk daerah endemis penyakit hepatitis B dan termasuk negara yang dihimbau oleh WHO untuk melaksanakan upaya pencegahan (Imunisasi)(5,6).

Kasus Hepatitis B Menurut Rumah Sakit 1994-1996(5)
No
Rumah Sakit
1994
1995
1996
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
RSCM (Jakarta) Pelni (Jakarta) St.Carolus (Jakarta)
Husada (Jakarta)
Hasan Sadikin (Bandung) Kariadi (Semarang) Roemani (Semarang)
Dr. Soetomo (Surabaya) William Boot (Surabaya) M.Djamil (Padang)
Yos Soedarso (Padang)
Sanglah (Bali) Mataram
W.Z. Yohanes (Kupang)
12
99
30
107
15
59
6
50
14
0
9
45
27
9
12
140
28
203
19
53
21
47
19
18
10
27
33
16
6
69
35
13
11
46
14
22
10
9
2
18
11
6


491
662
278




NO

KECAMATAN

PUSKESMAS
JUMLAH KASUS  PD3I

Hepatitis B

PERTUSIS

TETANUS
TETANUS NEONATORUM

CAMPAK

POLIO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
ILIR BARAT II
MAKRAYU
0
0
0
0
3
0



0
0
0
0
3
0
2
GANDUS
GANDUS
0
0
0
0
4
0



0
0
0
0
4
0
3
SEBERANG ULU I
1 ULU
0
0
0
0
1
0


4 ULU
0
0
0
0
17
0


7 ULU
0
0
0
1
0
0


PEMBINA
0
0
0
0
6
0


OPI
0
0
0
1
2
0



0
0
0
2
26
0
4
KERTAPATI
KERAMASAN
0
0
0
0
3
0


KERTAPATI
0
0
0
0
9
0



0
0
0
0
12
0
5
SEBERANG ULU II
NAGASWIDAK
0
0
0
0
1
0


TAMAN BACAAN
0
0
0
0
4
0



0
0
0
0
5
0
6
PLAJU
PLAJU
0
0
0
0
9
0



0
0
0
0
9
0
7
ILIR BARAT I
KAMPUS
0
0
0
0
4
0


PAKJO
0
0
0
0
2
0


PADANG SELASA
0
0
0
0
8
0


SEI BAUNG
0
0
0
1
9
0



0
0
0
1
23
0
8
BUKIT KECIL
23 ILIR
0
0
0
0
13
0


MERDEKA
0
0
0
0
26
0



0
0
0
0
39
0
9
ILIR TIMUR I
ARIODILAH
0
0
0
0
2
0


DEMPO
0
0
0
0
14
0


TALANG RATU
0
0
0
0
3
0



0
0
0
0
19
0
10
KEMUNING
BASUKI RAHMAT
0
0
0
0
4
0


SEKIP
0
0
0
0
18
0



0
0
0
0
22
0
11
ILIR TIMUR II
5 ILIR
0
0
0
0
2
0


11 ILIR
0
0
0
0
14
0


BOOM BARU
0
0
0
0
16
0


KENTEN
0
0
0
0
25
0


SABOKINGKING
0
0
0
0
0
0



0
0
0
0
57
0
12
KALIDONI
BUKIT SANGKAL
0
0
0
0
7
0


KALIDONI
0
0
0
0
7
0


SEI SELINCAH
0
0
0
0
4
0



0
0
0
0
18
0
13
SAKO
MULTI WAHANA
0
0
0
0
5
0



0
0
0
0
5
0
14
SEMATANG BORANG
SAKO
0
0
0
0
9
0



0
0
0
0
9
0
15
SUKARAME
SOSIAL
0
0
0
0
8
0


SUKARAMI
0
0
0
0
13
0


TALANG BETUTU
0
0
0
0
1
0



0
0
0
0
22
0
16
ALANG ALANG LEBAR
PUNTI KAYU
0
0
0
0
1
0



0
0
0
0
1
0
JUMLAH KOTA PLG
0
0
0
3
274
0
Sumber : Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinkes Kota Palembang 2009 (4).






ii. Urgensi Penyakit
Walau bukan penyebab kematian langsung, namun penyakit hepatitits menimbulkan masalah pada usia produktif, pada saat seharusnya mereka menjadi sumber daya pembangunan. Karena itu Indonesia mengusulkan resolusi Hepatitis Virus diangkat menjadi isu dunia, dan telah diterima(9).
Pada tahun 2009, 177 negara melaporkan bahwa mereka telah termasuk vaksin hepatitis B ke dalam program nasional imunisasi bayi mereka (dua dari negara-negara dilaporkan memperkenalkan di bagian negara saja). Ini adalah kenaikan besar dibandingkan dengan 31 negara pada tahun 1992, tahun bahwa Majelis Kesehatan Dunia mengesahkan resolusi untuk merekomendasikan vaksinasi global melawan hepatitis B (1).

C.      ISI
i.                    Triad Epidemiologi
a.      Agen (5)
Penyebab Hepatitis B adalah virus hepatitis B termasuk DNA virus. Virus hepatitis B atau partikel Dane merupakan partikel bulat berukuran 42nm dengan selubung fosfolipid (HbsAg) (2,5). Virus Hepatitis B terdiri atas 3 jenis antigen yakni HBsAg, HBcAg, dan HBeAg.
Berdasarkan sifat imunologik protein pada HBsAg, virus dibagi atas 4 subtipe yaitu adw, adr, ayw, dan ayr yang menyebabkan perbedaan geografi dalam penyebarannya.Subtype adw terjadi di Eropah, Amerika dan Australia. Subtype ayw terjadi di Afrika Utara dan Selatan. Subtype adw dan adr terjadi di Malaysia, Thailand, Indonesia. Sedangkan subtype adr terjadi di Jepang dan China.
b.      Host (5)
Adalah   semua   faktoyang terdapat pada diri manusia yang dapat mempengaruhi timbul serta perjalanan penyakit hepatitis B.
 Faktor penjamu meliputi:
·         Umur
Hepatitis B dapat menyerang semua golongan umur. Paling sering pada bayi dan anak (25 -45,9 %) resiko untuk menjadi kronis, menurun dengan bertambahnya umur dimana pada anak bayi 90 % akan menjadi kronis, pada  anak  usia  sekolah  23  -46  dan  padorang  dewasa  3-10% (Markum,  1997)Hal  ini  berkaitan  dengan  terbentuk  antibodi  dalam jumlah cukup untuk menjamin terhindar dari hepatitis kronis.
·         Jenis Kelamin
Berdasarkan  sex  ratio,  wanita  3x  lebih  sering  terinfeksi  hepatitis  B Dibanding pria.
·         Mekanisme Pertahanan Tubuh
Bayi baru lahir atau bayi 2 bulan pertama setelah lahir lebih sering terinfeksi hepatitis B, terutama pada bayi yang sering terinfeksi hepatitis B, terutama pada bayi yang belum mendapat imunisasi hepatitis B. Hal ini karena sistem imun belum berkembang sempurna.
·         Kebiasaan Hidup
Sebagian besar penularan pada masa remaja disebabkan karena aktivitas seksual  dan gaya hidup  seperti  homoseksual, pecandu obat narkotika suntikan, pemakaian tatto, pemakaian akupuntur.
·         Pekerjaan
 Kelompok resiko tinggi untuk mendapat infeksi hepatitis B adalah dokter, dokter  bedah,  dokter  gigi,  perawat,  bidan,  petugas  kamaoperasi, petugas laboratorium dimana mereka dalam pekerjaan sehari-hari kontak dengan penderita dan material manusia (darah, tinja, air kemih).

KELOMPOK RESIKO TINGGI TERKENA HEPATITIS B(5)
1.  lndividu yang karena profesi / pekerjaannya atau lingkungannya relatif lebih sering ketularan, misal : petugas kesehatan (dokter, dokter gigi, perawat,
bidan), petugas laboratorium, pengguna jarum suntik, wanita tuna susila, pria homoseksual, supir, dukun bayi, bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi hepatitis B.
2.  Individu dengan kelainan sistem kekebalan selular, misal penderita hemofilia,
hemodialisa,  leukemia  limfositik,  penderita  sindroma  Down  dan  penderita yang mendapat terapi imunosupresif.


a.      Lingkungan (5)
Merupakan  keseluruhan  kondisi  dan  pengaruh  luar  yang  mempengaruhi perkembangan hepatitis B. Yang termasuk faktor lingkungan adalah:
§  Lingkungan dengan sanitasi yang jelek.
§  Daerah dengan angka prevalensi VHB nya tinggi.
§  Daerah unit pembedahan: Ginekologi, gigi, mata.
§  Daerah unit laboratorium.
§  Daerah unit Bank Darah.
§  Daerah tempat pembersihan.
§  Daerah dialisa dan transplantasi.
§  Daerah unit perawatan penyakit dalam.

ii.                    Transmisi Hepatitis B

Mode transmisi adalah sama bagi human immunodeficiency virus (HIV), tetapi HBV adalah 50 sampai 100 kali lebih menular seperti HIV, VHB dapat bertahan hidup di luar tubuh setidaknya selama 7 hari. Selama waktu itu, virus tetap dapat menyebabkan infeksi jika memasuki tubuh orang yang tidak terinfeksi. (7)
«  Sumber  Penularan Virus Hepatitis B. (5)
Dalam  kepustakaan  disebutkan  sumber  penularan  virus  Hepatitis  B
berupa:
§  Darah
§  Saliva
§  Kontak dengan mukosa penderita virus hepatitis B
§  Feces dan urine
§  Lain-lain: Sisir, pisau cukur, selimut, alat makan, alat kedokteran yang terkontaminasi virus hepatitis B. Selain itu dicurigai penularan melalui
nyamuk atau serangga penghisap darah.

«  Cara penularan virus Hepatitis B (5)
Penularan infeksi virus hepatitis B melalui berbagai cara yaitu :
a. Parenteral            :  dimana  terjadi  penembusan  kulit atau mukosa misalnya melalui tusuk jarum atau benda yang sudah tercemar virus hepatitis B dan pembuatan tattoo
b. Non Parenteral    : karena persentuhan yang erat dengan benda yang tercemar virus hepatitis B.
Secara epidemiologik penularan infeksi virus hepatitis B dibagi 2 cara penting yaitu:
a. Penularan vertikal; yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari ibu yang HBsAg  positif  kepada  anayandilahirkan  yanterjadi  selama  masa perinatal. Resiko terinfeksi pada bayi mencapai 50-60 % dan bervariasi antar negara satu dan lain berkaitan dengan kelompok etnik.
b. Penularan horizontal; yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari seorang pengidap virus hepatitis B kepada orang lain disekitarnya, misalnya: melalui
hubungan seksual. 

iii.                  Riwayat Penyakit
Masa inkubasi virus adalah 90 hari rata-rata, tetapi dapat bervariasi dari sekitar 30 sampai 180 hari. HBV dapat dideteksi 30 sampai 60 hari setelah infeksi dan menetap selama periode variabel luas waktu. (7)
Respon sel tubuh manusia pada infeksi virus dapat menyebabkan keadaan berikut:
1)      Tidak terjadi proses peradangan dan sel hati masih berfungsi normal, tetapi produksi virus berlangsung terus yang disebut dengan infeksi persisten (pasien tetap  sehat dengan titer HbsAg yang tinggi). (3)
2)      Terjadi proses peradangan sel hati dan sintesis virus ditekan, yang disebut dengan hepatitis akut. (3)
3)      Terjadi proses peradangan yang berlebihan, dan keadaan ini akan menyebabkan kerusakan sel hati, yang disebut dengan hepatitis fulminan(3). Bentuk  ini  sekitar  1  %  dengan  gambaran  sakit  berat  dan  sebagian  besar mempunyai prognosa buruk dalam 7-10 hari, lima puluh persen akan berakhir dengan kematian. Adakalanya penderita belum menunjukkan gejala ikterus yang berat, tetapi pemeriksaan SGOT memberikan hasil yang tinggi pada pemeriksaan fisik hati menjadi lebih kecil, kesadaran cepat menurun hingga koma, mual dan muntah yang hebat disertai gelisah, dapat terjadi gagal ginjal akut dengan anuria dan uremia(5).

4)      Terjadinya proses yang tidak sempurna, yaitu proses peradangan dan sintesis virus berjalan terus, yang disebut sebagai hepatitis kronis(3). Kira-kira 5-10% penderita hepatitis B akut akan mengalami Hepatitis B kronik. Hepatitiini  terjadjika setelah 6 bulan tidak menunjukkan perbaikan yang mantap(5).


Terdapat 3 fase perkembangan penyakit, yaitu :
1. Fase Praikterik (prodromal) (3,5)
Gejala non spesifik, permulaan penyakit tidak jelas, demam tinggi, anoreksia, mual, nyeri didaerah hati disertai perubahan warna air kemih menjadi gelap.
Pemeriksaan laboratorium mulai tampak kelainan hati (kadar bilirubin serum, SGOT dan SGPT, Fosfatose alkali, meningkat).
2. Fase lkterik(3,5)
Gejala demam dan gastrointestinal tambah hebat disertai hepatomegali dan splenomegali. timbulnya ikterus makin hebat dengan puncak pada minggu kedua. setelah timbul ikterus, gejala menurun dan pemeriksaan laboratorium tes fungsi hati abnormal. Air seni berwarna seperti teh, kulit menguning, serta keluhan menguat.
3. Fase Penyembuhan (3,5)
Fase    ini   ditandai    dengan      menurunnya    kadar    enzim    aminotransferase. pembesaran       hati           masih   ada    tetapi    tidaterasa   nyeri,   pemeriksaan
laboratorium menjadi normal.

iv.                PENCEGAHAN PENULARAN HEPATITIS B (5)
Pencegahan dapat dilakukan dengan melalui tindakan Health Promotion baik pada host maupun lingkungan dan perlindungan khusus terhadap penularan.
à. Health Promotion terhadap host berupa pendidikan kesehatan, peningkatan higiene perorangan, perbaikan gizi, perbaikan sistem transfusdarah dan mengurangi kontak erat dengan bahan-bahan yang berpotensi menularkan
virus VHB.
à. Pencegahan virus hepatitis B melalui lingkungan, dilakukan melalui upaya: meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan penyebaran infeksi VHB melalui tindakan melukai seperti tindik, akupuntur, perbaikan sarana kehidupan di kota dan di desa serta pengawasan kesehatan makanan yang meliputi tempat penjualan makanan dan juru masak serta pelayan rumah makan.
à. Perlindungan Khusus Terhadap Penularan Dapat dilakukan melalui sterilisasi benda-benda yang tercemar dengan pemanasan dan tindakan khusus seperti penggunaan sarung tangan bagi petugas kesehatan, petugas laboratorium yang langsung bersinggungan dengan darah, serum, cairan tubuh dari penderita hepatitis, juga pada petugas kebersihan, penggunaan pakaian khusus sewaktu kontak dengan darah dan cairan tubuh, cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan penderita pada tempat khusus selain itu perlu dilakukan pemeriksaan HbsAg petugas kesehatan (Onkologi  dan Dialisa) untuk menghindarkan kontak antara petugas kesehatan dengan penderita

PENCEGAHAN PENYAKIT
Pencegahan penyakit dapat dilakukan melalui immunisasi baik aktif maupun pasif

1. Immunisasi Aktif
Pada negara dengan prevalensi tinggi, immunisasi diberikan pada bayi yang lahir dari ibu HBsAg positif, sedang pada negara yang prevalensi rendah immunisasi diberikan pada orang yang mempunyai resiko besar tertular(5). Tujuan utamanya adalah prevalensi HBsAg kurang dari 1% pada anak usia 5 tahun atau lebih(8). Strategi kunci untuk mencapai tujuannya adalah imunisasi bayi universal dengan tiga dosis vaksin hepatitis B, dengan dosis pertama, selanjutnya disebut sebagai dosis lahir, diberikan dalam waktu 24 jam setelah kelahiran(8). Intervensi harus diteruskan bahkan setelah tujuan telah dicapai(8). Vaksin hepatitis diberikan secara intra muskular sebanyak 3 kali dan  memberikan perlindungan selama 2 tahun(5).
Program pemberian sebagai berikut(5):
Dewasa:Setiap  kali  diberikan  20  µg  IM  yang  diberikan  sebagai  dosis  awal, kemudian diulangi setelah 1 bulan dan berikutnya setelah 6 bulan.
Anak     :Diberikan dengan dosis 10 µg IM sebagai dosis awal , kemudian  diulangi
setelah 1 bulan dan berikutnya setelah 6 bulan.
Umur
Antigen
2 bulan
3 bulan
4 bulan
9 bulan
BCG, Polio 1, DPT 1
HB 1, Polio 2, DPT 2
HB 2, Polio 3, DPT 3
HB 3, Polio 4, Campak

Umur
Antigen
0 bulan
2 bulan
3 bulan
4 bulan
7 bulan
9 bulan
BCG, Polio 1, HB 1
HB 2, Polio 2, DPT 1
Polio 3, DPT 2
Polio 4, DPT 3
HB 3
Campak


2. Immunisasi Pasif(5)
Pemberian Hepatitis B Imunoglobulin (HBIG) merupakan immunisasi pasif dimana daya lindung HBIG diperkirakan dapat menetralkan virus yang infeksius dengan  menggumpalkannya.  HBIG  dapat  memberikan  perlindungan  terhadap
Post Expossure maupun Pre Expossure. Pada bayi yang lahir dari ibu, yang HBsAs positif diberikan HBIG 0,5 ml intra muscular segera setelah lahir (jangan lebih dari 24 jam). Pemberian ulangan pada bulan ke 3 dan ke 5. Pada orang yang
terkontaminasi dengan HBsAg positif diberikan HBIG 0,06 ml/Kg BB diberikan dalam 24 jam post expossure dan diulang setelah 1 bulan.

v.                Pengobatan

Penderita yang diduga Hepatitis B, untuk kepastian diagnosa yang ditegakkan maka akan dilakukan periksaan darah(10) . Setelah diagnosa ditegakkan sebagai Hepatitis B, maka ada cara pengobatan untuk hepatitis B, yaitu pengobatan telan (oral) dan secara injeksi(10).
a. Pengobatan oral yang terkenal adalah(10) ;
- Pemberian obat Lamivudine dari kelompok nukleosida analog, yang dikenal dengan nama 3TC. Obat ini digunakan bagi dewasa maupun anak-anak, Pemakaian obat ini cenderung meningkatkan enzyme hati (ALT) untuk itu penderita akan mendapat monitor bersinambungan dari dokter.
- Pemberian obat Adefovir dipivoxil (Hepsera). Pemberian secara oral akan lebih efektif, tetapi pemberian dengan dosis yang tinggi akan berpengaruh buruk terhadap fungsi ginjal.
- Pemberian obat Baraclude (Entecavir). Obat ini diberikan pada penderita Hepatitis B kronik, efek samping dari pemakaian obat ini adalah sakit kepala, pusing, letih, mual dan terjadi peningkatan enzyme hati. Tingkat keoptimalan dan kestabilan pemberian obat ini belum dikatakan stabil.

b. Pengobatan dengan injeksi/suntikan adalah(10) ;
Pemberian suntikan Microsphere yang mengandung partikel radioaktif pemancar sinar ß yang akan menghancurkan sel kanker hati tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya. Injeksi Alfa Interferon (dengan nama cabang INTRON A, INFERGEN, ROFERON) diberikan secara subcutan dengan skala pemberian 3 kali dalam seminggu selama 12-16 minggu atau lebih. Efek samping pemberian obat ini adalah depresi, terutama pada penderita yang memilki riwayat depresi sebelumnya. Efek lainnya adalah terasa sakit pada otot-otot, cepat letih dan sedikit menimbulkan demam yang hal ini dapat dihilangkan dengan pemberian paracetamol.


D.     KESIMPULAN
Hepatitis B merupakan persoalan kesehatan masyarakat yang perlu segera ditanggulangi, mengingat prevalensi yang tinggi dan akibat yang ditimbulkan
hepatitis B.
Penularan hepatitis B terjadi melalui kontak dengan darah / produk darah, saliva, semen, alat-alat yang tercemar hepatitis B dan inokulasi perkutan dan
subkutan secara tidak sengaja. Penularan secara parenteral dan non parenteral serta vertikal dan horizontal dalam keluarga atau lingkungan.
Resiko  untuk  terkena  hepatitis  B  di  masyarakat  berkaitan  dengan kebiasaan  hidup  yang  meliputi  aktivitas  seksual,  gaya  hidup  bebas,  serta
pekerjaan yang memungkinkan kontak dengan darah dan material penderita.
Pengendalian    penyakit    ini    lebih    dimungkinkan     melalui    pencegahan dibandingkan pengobatan yang masih dalam penelitian. Pencegahan dilakukan
meliputi pencegahan penularan penyakit dengan kegiatan Health Promotion dan Spesifik Protection, maupun pencegahan penyakit dengan imunisasi aktif dan pasif.
SARAN
Hepatitis B berasal dari infeksi virus hepatitis B, seperti yang kita tahu bahwa pengobatan virus lebih susah maka lebih diutamakan pencegahan. Pencegahan yang dilakukan meliputi pencegahan penularan penyakit hepatitis B melalui Health Promotion dan pencegahan          penyakit melalui pemberian vasinasi.

E.      Gambar Pendukung
Virus Hepatitis B


Vaksin Hepatitis B




DAFTAR PUSTAKA
2.      Sastrawinata, Ucke Sugeng. 2008. Virologi Manusia. Bandung: Penerbit PT Alumni
3.      Widoyono. 2008. Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan Pemberantasan. Jakarta : Penerbit Erlangga
4.      Profil Kesehatan Kota Palembang 2009, Dinas Kesehatan Kota Palembang diakses dari http://dinkes.palembang.go.id/tampung/dokumen35-37.pdf
5.      Siregar, Fazidah Aguslina. Hepatitis B ditinjau dari Kesehatan Masyarakat dan Upaya Pencegahan. FKM USU. Jurnal online http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3706/1/fkm-fazidah.pdf
7.      Lembar Fakta Hepatitis B http://who.int/mediacentre/factsheets/fs204/en/
8.      Manju Rani, Baoping Yang and Richard Nesbit. Hepatitis B controlled by 2012 in
The WHO Pacific Region: Rationale and implications      http://www.who.int/bulletin/volume/87/9/08-059220/en/
10.  Penyakit Hepatitis B http://www.infopenyakit.com
 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar