Welcome


Rabu, 02 November 2011

HIV/AIDS

Human Immunodeficiency Virus /  Acquired Immunodeficiency Syndrome
by : Indah Dwi Astuti (10101001038)


  1. Resume
HIV adalah human immunodeficiency virus yakni virus yang bisa berujung  menjadi AIDS ( Acquired Immunodeficiency Syndrome) .Lebih jelasnya AIDS merupakan suatu syndrome/kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV yang menyerang sistem kekebalan atau pertahanan tubuh sehingga menyebabkan kerusakan yang parah dan sejauh ini belum diketahui obatnya. [6]
Ada 2 tipe virus HIV yaitu HIV-1 and HIV-2 . Namun, HIV-1 lebih berbahaya dibanding HIV-2. Virus-virus ini secara serologis dan geografis relatif berbeda tetapi mempunyai ciri epidemiologis yang sama. Patogenisitas dari HIV-2 lebih rendah dibanding HIV-1. [5]
Human lmmulodeficiency virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang asli merupakan partikal yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit karenanya mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD-4. Didalam sel lymfosit virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap , infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat di tularkan selama hidup penderita tersebut.
             Apabila HIV ini masuk ke dalam peredaran darah seseorang, maka HIV tersebut
menyerap sel-sel darah putih. Sel-sel darah putih ini adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh yang berfungsi melindungi tubuh dari serangan penyakit. HIV secara berangsur-angsur merusak sel darah putih hingga tidak bisa berfungsi dengan baik.
             Pada Sebagian besar orang yang terinfeksi HIV mengalami infeksi oportunistik yang fatal sebagai akibat defisiensi imun yang diinduksi oleh HIV.
 Penyakit ini pertama sekali timbul di Afrika, haiti dan America Serikat pada tahun 1978. Pada tahun 1979 Amerika serikat melaporkan kasus- kasus sarkoma kaposi dan penyakit- penyakit infeksi yang jarang terjadi di Eropa. Sampai saat ini belum disadari oleh para ilmuwan bahwa kasus–kasus adalah kasus AIDS.
Pada tahun 1981 Amerika Serikat melaporkan kasus–kasus sarkoma kaposi dan penyakit infeksi yang jarang terdapat dikalangan homoseksual. Hal ini menimbulkan dugaan yang kuat bahwa transmisi penyakit ini terjadi melalui hubungan seksual. [6]




BAB I
PENDAHULUAN EPIDEMIOLOGI HIV/AIDS


 Dari tahun muncul 1980an telah banyak korban dikarenakan jaman dahulu belum mempunyai teknologi yang mendukung HIV/AIDS di dunia mencapai 33juta orang tapi berikut data spesifik yang berhasil dihimpun dari beberapa sumber :

                    I.            Data Kasus penyakit menular  dunia, nasional, Sumsel, dan Palembang
·        Menurut WHO Global Summary of the AIDS epidemic 2009 mengatakan bahwa jumlah orang yang terjangkit virus HIV mencapai 33,3 juta orang dan yang meninggal akibat penyakit AIDS pada tahun 2009 mencapai 1,8 juta orang . [2]





·        Menurut Ditjen PPM & PL Depkes RI Statistik kasus HIV/AIDS di Indonesia Secara kumulatif kasus AIDS 1 Januari 1987 s.d. 31 Maret 2010, adalah berjumlah 20564 orang dan yang meninggal dunia berjumlah 3936 orang . [4]


·        Menurut Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009  [4]


  • Menurut Dinkes Palembang tahun 2009 


                 II.            Urgensi Penyakit

Penyakit ini sangat penting di ketahui masyarakat karena sudah menadi penyakit pandemi di beberapa Benua seperti Amerika , Eropa , Afrika dan bagian Asia Tenggara [1] Disamping itu pula belum ditemukannya obat/ vaksin yang efektif menyebabkan keresahan dan keprihatinan di Dunia.[6]




BAB II
PEMBAHASAN EPIDEMIOLOGI HIV/AIDS


                     I.            Triad Epidemiologgi
Epidemiologi meliputi Agent ,Host dan environment :


I.1 AGENT
Virus HIV termasuk Netrovirus yang sangat mudah mengalami mutasi sehingga sulit untuk menemukan obat yang dapat membunuh, virus tersebut. Daya penularan pengidap HIV tergantung pada sejumlah virus yang ada didalam darahnya, semakin tinggi/semakin banyak virus dalam darahnya semakin tinggi daya penularannya sehingga penyakitnya juga semakin parah. Virus HIV atau virus AIDS, sebagaimana Virus lainnya sebenarnya sangat lemah dan mudah mati di luar tubuh. Virus akan mati bila dipanaskan sampai temperatur 60° selama 30 menit, dan lebih cepat dengan mendidihkan air. Seperti kebanyakan virus lain, virus AIDS ini dapat dihancurkan dengan detergen yang dikonsentrasikan dan dapat dinonaktifkan dengan radiasi yang digunakan untuk mensterilkan peralatan medis atau peralatan lain.


     I.2. HOST
Distribusi penderita AIDS di Amerika Serikat Eropa dan Afrika tidak jauh berbeda kelompok terbesar berada pada umur 30 -39 tahun. Hal ini membuktikan bahwa transmisi seksual baik homoseksual mapupun heteroseksual merupakan pola transmisi utama. Mengingat masa inkubasi AIDS yang berkisar dari 5 tahun ke atas maka infeksi terbesar terjadi pada kelompok umur muda/seksual paling aktif yaitu 20-30 tahun. Pada tahun 2000 diperkirakan Virus AIDS menular pada 110 juta orang dewasa dan 110 juta anak-anak. Hampir 50% dari 110 juta orang itu adalah remaja dan dewasa muda usia 13 -25 tahun. Informasi yang diperoleh dari Pusat AIDS International fakultas Kesehatan Masyarakatat Universitas Harvard, Amerika Serikat sejumlah orang yang terinfeksi virus AIDS yang telah berkembang secara penuh akan meningkat 10 kali lipat.



     I.3 ENVIRONMENT
Lingkungan biologis sosial, ekonomi, budaya dan agama sangat menentukan penyebaran AIDS. Lingkungan biologis adanya riwata ulkus genitalis, Herpes Simpleks dan STS (Serum Test for Sypphilis) yang positip akan meningkatkan prevalensi HIV karena luka-luka ini menjadi tempat masuknya HIV. Faktor biologis lainnya adalah penggunaan obat KB. Pada para WTS di Nairobi terbukti bahwa kelompok yang menggunakan obat KB mempunyai prevalensi HIV lebih tinggi.
Faktor sosial, ekonomi, budaya dan agama secara bersama-sama atau sendiri-sendiri sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual masyarakat. Bila semua faktor ini menimbulkan permissiveness di kalangan kelompok seksual aktif, maka mereka sudah ke dalam keadaan promiskuitas. [6]



                 II.            Transmisi Penyakit AIDS
Penularan AIDS dapat dibagi dalam 2 jenis :
  1. Secara Kontak Seksual
1. Ano-Genital Cara hubungan seksual ini merupakan perilaku seksual dengan resiko tertinggi bagi penularan HIV, khususnya bagi kaum mitra seksual yang pasif menerima ejakulasi semen dari pengidap HIV.
2. Ora-Genital
Cara hubungan ini merupakan tingkat resiko kedua, termasuk menelan semen dari mitra seksual pengidap HIV.
3. Genito-Genital / Heteroseksual
Penularan secara heteroseksual ini merupakan tingkat penularan ketiga, hubungan suami istri yang mengidap HIV, resiko penularannya, berbeda-beda antara satu peneliti dengan peneliti lainnya.

  1. Secara Non Seksual
Penularan secara non seksual ini dapat terjadi melalui :
1. Transmisi Parental
Penggunaan jarum dan alat tusuk lain (alat tindik, tatto) yang telah terkontaminasi, terutama pada penyalahgunaan narkotik dengan mempergunakan jarum suntik yang telah tercemar secara bersama-sama. Penularan parental lainnya, melalui transfusi darah atau pemakai produk dari donor dengan HIV positif, mengandung resiko yang sangat tinggi.
2. Transmisi Transplasental
Transmisi ini adalah penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak, mempunyai resiko sebesar 50%. Disamping cara penularan yang telah disebutkan di atas ada transmisi yang belum terbukti, antara lain:
1. ASI
2. Saliva/Air liur
3. Air mata
4. Hubungan sosial dengan orang serumah
5. Gigitan serangga
Walaupun cara-cara transmisi di atas belum terbukti, akan tetapi karena prevalensi HIV telah demikian tinginya di Amerika Serikat, maka tetap dianjurkan :
1. Ibu yang mengidap supaya tidak menyusui bayinya.
2. Mengurangi kontaminasi saliva pada alat seduditasi pada saat berciuman dan pada anak-anak yang mengidap HIV yang menderita gangguan jiwa dan sering digigit serangga.
3. bagi dokter ahli mata dianjurkan untuk lebih berhati-hati berhubungan dengan air mata pengidap HIV.

Perlu diketahui AIDS tidak menular karena :
1. Hidup serumah dengan penderita AIDS (Asal tidak berhubungan seksual)
            2. Bersentuhan dengan penderita.
3. Berjabat tangan.
4. Penderita AIDS bersin atau balik di dekat kita.
5. Bersentuhan dengan pakaian atau barang lain dari bekas penderita.
6. Berciuman pipi dengan penderita.
7. Melalui alat makan dan minum.
8. Gigitan nyamuk dan serangga lainnya.
9. Bersama-sama berenang di kolam.

Dulu di negara-negara Barat, reaksi spontan masyarakat pada waktu pertama kali menghadapi penyakit AIDS ini adalah menjauhkan diri dari sipenderita berusaha tidak menyentuh penderita, menggunakan obat-obat cuci hama bahkan membakar kasur atau pakaian bekas penderita.
Reaksi awal yang bernada panik inilah yang terlanjur tersebar di seluruh dunia melalui media massa, sehingga kini di banyak negara berlaku kepercayaan yang salah tentang AIDS, sementara dinegara-negara Barat sendiri sikap masyarakat sudah lebih tenang dan rasional. Sebagai arus informasi yang deras dari pers Barat tersebut, masyarakat di bagian dunia lainnya (termasuk Indonesia) terlanjur menyerap informasi yang tidak benar. Salah informasi ini pada gilirannya mengendap menjadi semacam kepercayaan yang tidak mudah untuk dikoreksi kembali.

               III.            Riwayat Alamiah Penyakit

a)      Masa Inkubasi dan Klinis
Bervariasi untuk setiap penderita. Tidak penderita HIV akan berkembang menjadi AIDS. Diperkirakan hanya 10-30% yang terinfeksi HIV akan menderita AIDS. Walaupun waktu dari penularan hingga berkembang atau terdeteksinya antibodi, biasanya 1 – 3 bulan (window period) , namun waktu dari tertular HIV hingga terdiagnosa sebagai AIDS sekitar < 1 tahun hingga 15 tahun atau lebih. Infeksi HIV pada manusia mempunyai masa inkubasi yang lama (5-10 tahun) dan menyebabkan gejala penyakit yang bervariasi mulai dari tanpa gejala sampai dengan gejala yang berat sehingga menyebabkan kematian. Gejala AIDS yang umum adalah rasa lelah berkelanjutan, pembengkakan kelenjar getah bening (Lymphadenotpathy) tidak ada nafsu makan berat badan tubuh lebih 10% perbulan, demam lebih 38°C keringat. malam yang berlebihan. diare kronis sampai terjadi infeksi oportunistik. Tanpa pengobatan anti-HIV yang efektif, sekitar 50 % dari orang dewasa yang terinfeksi akan terkena AIDS dalam 10 tahun sesudah terinfeksi.

_

              IV.            Pencegahan
Ada 3 pola penyebaran virus HIV :
1. Melalui hubungan seksual
2. Melaui darah
3. Melaui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya

Ad.1. Pencegahan Infeksi HIV Melaui Hubungan Seksual
HIV terdapat pada semua cairan tubuh penderita tetapi yang terbukti berperan dalam penularan AIDS adalah mani, cairan vagina dan darah.
HIV dapat menyebar melalui hubungan seksual pria ke wanita, dari wanita ke pria dan dari pria ke pria.
Setelah mengetahui cara penyebaran HIV melaui hubungan seksual maka upaya pencegahan adalah dengan cara :
• Tidak melakukan hubungan seksual. Walaupun cara ini sangat efektif, namun tidak mungkin dilaksanakan sebab seks merupakan kebutuhan biologis.
• Melakukan hubungan seksual hanya dengan seorang mitra seksual yang setia dan tidak terinfeksi HIV (homogami)
• Mengurangi jumlah mitra seksual sesedikit mungkin
• Hindari hubungan seksual dengan kelompok rediko tinggi tertular AIDS.
• Tidak melakukan hubungan anogenital.
• Gunakan kondom mulai dari awal sampai akhir hubungan seksual dengan kelompok resiko tinggi tertular AIDS dan pengidap HIV.

Ad.2. Pencegahan Infeksi HIV Melalui Darah
Darah merupakan media yang cocok untuk hidup virus AIDS. Penularan AIDS melalui darah terjadi dengan :
− Transfusi darah yang mengandung HIV.
− Jarum suntik atau alat tusuk lainnya (akupuntur, tato, tindik) bekas pakai orang yang mengidap HIV tanpa disterilkan dengan baik.
− Pisau cukur, gunting kuku atau sikat gigi bekas pakai orang yang mengidap virus HIV.
Langkah-langkah untuk mencegah terjadinya penularan melalui darah adalah:
− Darah yang digunakan untuk transfusi diusahakan bebas HIV dengan jalan memeriksa darah donor. Hal ini masih belum dapat dilaksanakan sebab memerlukan biaya yang tingi serta peralatan canggih karena prevalensi HIV di Indonesia masih rendah, maka pemeriksaan donor darah hanya dengan uji petik.
− Menghimbau kelompok resiko tinggi tertular AIDS untuk tidak menjadi donor darah. Apabila terpaksa karena menolak, menjadi donor menyalahi kode etik, maka darah yang dicurigai harus di buang.
− Jarum suntik dan alat tusuk yang lain harus disterilisasikan secara baku setiap kali habis dipakai.
− Semua alat yang tercemar dengan cairan tubuh penderita AIDS harus disterillisasikan secara baku.
− Kelompok penyalahgunaan narkotik harus menghentikan kebiasaan penyuntikan obat ke dalam badannya serta menghentikan kebiasaan mengunakan jarum suntik bersama.
− Gunakan jarum suntik sekali pakai (disposable)
− Membakar semua alat bekas pakai pengidap HIV.

Ad.3. Pencegahan Infeksi HIV Melalui Ibu
Ibu hamil yang mengidap HIV dapat memindahkan virus tersebut kepada janinnya. Penularan dapat terjadi pada waktu bayi di dalam kandungan, pada waktu persalinan dan sesudah bayi di lahirkan.
Upaya untuk mencegah agar tidak terjadi penularan hanya dengan himbauan agar ibu yang terinfeksi HIV tidak hamil.



                 V.            Pengobatan

Untuk Penderita HIV di sarankan untuk melakukan diagnosa dini dan melakukan rujukan untuk evaluasi medis. Rujuklah sumber informasi mutakhir tentang obat yang tepat, jadwal dan dosisnya.
a)        Sebelum ditemukan pengobatan antiretrovirus yang relatif efektif, dan tersediasecara rutin di AS sekitar tahun 90-an, pengobatan yang ada pada waktu itu hanya ditujukan kepada penyakit “opportunistic” yang diakibatkan oleh infeksi HIV. Penggunaan TMP-SMX oral untuk tujuan profilaktik, dengan pentamidin aerosol kurang efektif, obat ini di rekomendasikan untuk mencegah penumonia P. carinii. Semua orang yang terinfeksi HIV terhadap mereka harus dilakukan tes tuberkulin dan dievaluasi apakah mereka penderita TBC aktif. Jika diketahui menderita TB aktif, pasien harus diberi terapi anti tuberkulosa. Jika bukan TB aktif, pasien dengan tes tuberkulin positif atau yang anergik tetapi baru saja terpajan dengan TB harus diberikan terapi dengan isoniazid untuk 12 bulan.
b)       Keputusan untuk memulai atau merubah terapi antiretrovirus harus di pandu dengan memonitor hasil pemeriksaan parameter laboratorium baik Plasma HIV RNA (viral load) maupun jumlah sel CD4+T dan dengan melihat kondisi klinis dari pasien. Hasil dari dua parameter ini memberikan informasi penting tentang status virologi dan imunologi dari pasien dan risiko dari perkembangan penyakit menjadi AIDS. Sekali keputusan untuk memberi terapi antiretrovirus diambil, pengobatan harus di lakukan dengan agresif dengan tujuan menekan virus semaksimal mungkin. Pada umumnya, harus diawali dengan penggunaan inhibitor protease dan dua inhibitor “non nucleoside reverse transcriptase”. Regimen lain mungkin digunakan tetapi dianggap kurang optimal. Pertimbangan spesifik di berikan kepada orang dewasa dan wanita hamil, dan bagi pasien pasien ini sebaiknya digunakan regimen pengobatan spesifik.
c)                      Hingga pertengahan tahun 1999, satu-satunya obat yang dapat mengurangi risiko penularan HIV perinatal hanya AZT dan di berikan sesuai dengan regimen berikut: diberikan secara oral sebelum kelahiran, mulai 14 minggu usia kehamilan dan diteruskan sepanjang kehamilan, diberikan intravena selama periode intra-partum; diberikan oral bagi bayi baru lahir hingga berusia 6 minggu. Regimen “chemoprophylactic” ini menurunkan risiko penularan HIV hingga 66 %. Terapi AZT yang lebih singkat mengurangi risiko penularan hingga 40%. Dari studi di Uganda, dilaporkan bahwa pada bulan Juli 1999 dosis tunggal nevirapine yang diberikan kepada ibu yang terinfeksi HIV diikuti dengan dosis tunggal kepada bayi hingga berusia 3 hari, memberi hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kedua terapi diatas. Hanya 13.1 % dari bayi yang mendapat terapi nevirapine yang terinfeksi HIV, dibandingkan dengan 25.1 % dari kelompok yang mendapat terapi AZT. Harga Nevirapine kurang dari 4 dollar satu dosisnya, sehingga prospek untuk melindungi penularan ibu ke anak di negara berkembang lebih memungkinkan di era milinium ini.


Namun, kurang tersedianya fasilitas tes HIV dan jasa konsultasi bagi wanita hamil di negara-negara berkembang yang termiskin di Afrika tetap merupakan sebuah tantangan yang berat. Disamping itu kurang tersedianya pengobatan anti HIV bagi orang dewasa membuat angka anak-anak yang menjadi yatim-piatu bertambah di negara-negara ini.
d)      Penanganan tenaga kesehatan yang sehari-harinya terpajan darah dan cairan tubuh yang mungkin mengandung virus HIV sangat kompleks. Sifat pajanan dan faktor-faktor seperti kemungkinan hamil dan strain HIV yang resisten terhadap obat harus dipertimbangkan sebelum Profilaksis HIV pasca pemajanan (Postexposure prophylaxis = PEP) di berikan. Akhir tahun 1999, pemberian PEP yang dianjurkan termasuk pemberian regimen dasar selama 4 minggu yang terdiri dari 2 jenis obat (zidovudine dan lamivudine) untuk semua jenis pemajanan HIV, termasuk juga regimen yang telah dikembangkan, dengan tambahan protease inhibitor (indinavir atau nelfinavir) yang ditujukan bagi orang yang terpajan kuman HIV yang keberadaannya membuat mereka mempunyai risiko tinggi tertular atau utnuk mereka yang diketahui atau dicurigai resisten terhadap satu atau lebih obat antiretroviral yang direkomendasikan untuk PEP. Institusi pelayanan kesehatan seharusnya mempunyai pedoman yang mempermudah dan memberikan akses yang tepat untuk perawatan pasca pemajanan bagi petugas kesehatan dan pengembangan sistem pencatatan dan pelaporan peristiwa pemajanan  [1]



BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN


III. 1 KESIMPULAN
            AIDS merupakan masalah kesehatan Internasional yang harus segera ditangani. Di belahan dunia penyakit ini sudah merupakan pandemic di beberapa benua besar seperti Amerika ,Afrika ,Eropa maupun belahan Asia Tenggara. Peyakit ini belum ditemukan obatnya ,hanya penderita yang mengidap penyakit HIV tidak perlu gusar karena jika penyakit HIV dideteksi dengan dini dan ditangani dengan pengobatan yang maksimal kemungkinan HIV tidak berkembang menjadi AIDS itu ada. Tetapi penderita penyakit HIV harus disiplin dalam menjalani pengobatan ARV ,jika terlambat mengkonsumsi ARV kemungkinan virus HIV akan rentan terhadap obat tersebut bisa meningkat.
            Perlu juga di perhatikan pemutusan rantai HIV ini tidak dapat dilakukan di agent dan host ,melainkan kita bisa merubah environment kita dengan menanamkan perilaku hidup sehat, menanamkan budi pekerti agar terhindar dari lingkungan yang beresiko terpajan HIV/AIDS serta melakukan penyuluhan kesehatan yang bisa menjaring kalangan anak muda (15-24tahun) yang notabene angka terbesar dalam penyokong jumlah penderita HIV.

III. 2 SARAN

Perlu diadakan penyuluhan agar masyarakat mengerti benar resiko jika terjangkit penyakit AIDS. Khususnya bagi kalangan yang beresiko terjangkit penyakit ini ,disarankan mengikuti semua pencegahan yang sudah dituliskan di makalah ini. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Ingat penyakit ini belum ditemukan obatnya, oleh karena itu jaga fisik anda baik-baik.

e. Gambar Pendukung

 Berikut beberapa contoh gambar penderita HIV






DAFTAR PUSTAKA

1.      Chin, James MD, MPH .Manual Pemberantasan Penyakit. Edisi 17.2000 Available from : http://nyomankandun.tripod.com/sitebuildercontent/sitebuilderfiles/manual_p2m.pdf

2.      WHO. Data AIDS International. 2011. Available from : http://www.who.int/hiv/data/2009_global_summary.png

3.      DINKES. Profil Kesehatan Kota Palembang. 2009. Palembang Available from : http://dinkes.palembang.go.id/tampung/dokumen/dokumen-35-37.pdf

4.      Ditjen PPM & PL Depkes RI. Data Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia. 2010 Avaiable from : http://www.aidsindonesia.or.id/repo/LT1Menkes2010.pdf

5.      CDC. Explanation HIV/AIDS. 2011 . Available from : http://www.cdc.gov/hiv/topics/basic/index.html

6.       Fazidah Agustina Siregar. AIDS dan Upaya Penanggulangannya di Indonesia. Journal of Public Health.2004.USU Available from : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3727/1/fkm-fazidah5.pdf

7.      Dr. Ucke Sugeng Sastrawinata. Virologi Manusia. Bandung. 2008

8.  Linda J Heffner, Danny J Schust. Sistem Reproduksi. At A Glance.2008


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar