Welcome


Selasa, 08 November 2011

TOXOPLASMOSIS


   RESUME

Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh sporozoa yang dikenal dengan nama Toxoplasma gondii, yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak terinfeksi pada manusia dan hewan peliharaan. Penderita toxoplasmosis sering tidak memperlihatkan suatu gejala klinis yang jelas sehingga dalam menentukan diagnosis penyakit toxoplasmosis sering terabaikan dalam praktek dokter sehari-hari. Apabila penyakit toxoplasmosis mengenai wanita hamil trismester ketiga dapat mengakibatkan hidrochephalus, khorioretinitis, tuli atau epilepsy(1).
              Infeksi Toxoplasma tersebar luas dan sebagian besar berlangsung asimtomatis, meskipun penyakit ini belum digolongkan sebagai penyakit parasite yang diutamakan pemberantasannya oleh pemerintah, tetapi beberapa penelitian telah dilakukan di beberapa tempat untuk mengetahui derajat distribusi dan prevalensinya. Indonesia sebagai negara tropik merupakan tempat yang sesuai untuk perkembangan parasit tersebut. Keadaan ini ditunjang oleh beberapa factor seperti sanitasi lingkungan dan banyak sumber penularan terutama kucing dan sebangsanya (Felidae) (Adyatma, 1980 ; Levine, 1990)(2).
            Toksoplasmosis menyerang berbagai jenis hewan mamalia dan unggas, dapat pula menular kepada manusia. Penyakit ini tersebar di berbagai penjuru dunia. Di Indonesia, penyakit ini bersifat endemic pada hewan maupun manusia, meskipun jumlah kasus relative kecil(3). Penyakit toxoplasmosis biasanya ditularkan dari kucing atau anjing tetapi penyakit ini juga dapat menyerang hewan lain seperti babi, sapi, domba, dan hewan peliharaan lainnya. Walaupun sering terjadi pada hewan-hewan yang disebutkan di atas penyakit toxoplasmosis ini paling sering dijumpai pada kucing dan anjing(1).

BAB 1


PENDAHULUAN
i. Data Kasus Penyakit Toxoplasmosis
Toxopasmosis adalah penyakit zoonosis yang secara alam dapat menyerang manusia, ternak, hewan peliharaan yang lain seperti hewan liar, unggas dan lain-lain. Kejadian toxoplasmosis telah dilaporkan dari beberapa daerah di dunia ini yang geografiknya sangat luas. Survei terhadap kejadian ini memberi gambaran bahwa toxoplasmosis pada suatu daerah bisa sedemikian hebatnya hingga setiap hewan memperlihatkan gejala toxoplasmosis. Sebagai contoh adalah survei yang telah diadakan di Amerika Serikat(1).
Data positif didasarkan kepada penemuan serodiagnostik dari beberapa hewan peliharaan dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini:
Tabel 1: Data Positif didasarkan penemuan serodiagnostik
No. Hewan yang terinfeksi Persentase
1. Anjing         59%
2. Kucing        34%
3. Babi             30%
4. Sapi             47%
5. Kambing     48%

Berikut ini adalah frekuensi toxoplasmosis pada beberapa hewan yang pernah diteliti di Hongkong, Taiwan, Jakarta, dan Kalimantan Selatan:
No
Tempat
Hewan
Frekuensi
Peneliti
1
Hongkong
- Babi
- Anjing
70,6 %
29.4 %
Ludlam Chabra
2
Taiwan
- Babi
- Kucing
30.5 %
27.7 %
Dufee
3
Jakarta
- Babi
- Anjing
- Kucing
28,0 %
76.5 %
77.7 %
Koesharyono & Gandahusada
4
Kalimantan Selatan
- Kambing
- Kucing
60,7 %
40,3 %
Dufee

Frekuensi Toxoplasmosis Pada Penduduk di Berbagai Daerah Indonesia:

No
Tempat
Frekuensi
Peneliti
tahun
1
Kalimantan barat
3 %
Cross
1976
2
Sulawesi tenggara
8 %
Clark
1973
3
Sulawesi utara
8 %
-
-
4
Sumatera utara
9 %
Cross
1975
5
Surabaya
9 %
Yamamoto
1970
6
Jawa tengah
10 %
Cross
1975
7
Jawa barat
20 %
-
1973
8
Kalimantan selatan
31 %
-
-
9
Ujung pandang
60 %
Rasiyanto
1976

ii. Urgensi Penyakit
Pada manusia penyakit toxoplasmosis ini sering terinfeksi melalui saluran pencernaan, biasanya melalui perantaraan makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan agent-agent penyebab penyakit toxoplasmosis ini, misalnya karena minum susu sapi segar atau makan daging yang belum sempurna matangnya dari hewan yang terinfeksi dengan penyakit toxoplasmosis. Penyakit ini juga sering terjadi pada sejenis ras kucing yang berbulu lebat dan warnanya indah yang biasanya disebut dengan mink, pada kucing ras mink penyakit toxoplasmosis sering terjadi karena makanan yang diberikan biasanya berasal dari daging segar (mentah) dan sisa-sisa daging dari rumah potong hewan(1).
Para ibu muda yang sedang mengandung, mempunyai risiko cukup besar mengalami keguguran (abortus) apabila berhubungan dekat dengan kucing tertular. Umumnya, infeksi baru terdeteksi ketika penderita mengalami keguguran dan dilakukan pemeriksaan laboratorik(3). Prevalensi Toxoplasma gondii di Indonesia 2-63%. Pada orang sehat (imunokompeten) infeksi biasanya tidak disertai gejala klinis (asimtomatik), sedangkan pada penderita imunokompromais misalnya AIDS infeksi dapat berakibat fatal2. Infeksi primer pada wanita hamil dapat mengakibatkan terjadinya abortus, cacat fetus dan kelahiran mati. Pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk menentukan adanya infeksi T.gondii akut, sehingga pengobatan dapat diberikan dengan segera untuk menghindari kerusakan lebih lanjut(4).

BAB II
ISI 


i.                    Triad Epidemiologi
a.                   Agen (3)
Penyebab toxoplasmosis adalah protozoa Toxoplasma Gondii, termasuk dalam sub-kelas Coccidia. Parasit ini pertama kali ditemukan pada rodensia  liar Afrika, Ctenodactylus gondii, tahun 1908. Sejak saat itu, T. gondii ditemukan pada berbagai jenis mamalia dan aves (bangsa burung).


http://www.medadvocates.org/diseases/opportunistic/toxoplasmosis/main.html
 
http://www.bccdc.ca/dis-cond/a-z/_t/Toxoplasmosis/default.htm
 
b.                  Host (3)
Sumber penular utama dari hewan ke manusia adalah oocyst yang telah mengalami sporulasi dalam tinja kucing. Kucing piara (Felis catus) dan hewan-hewan tergolong Famili (Felidae), antara lain jaguarondi (F. yagouaroundi), ocelot (F. paradalis), singa gunung (F. concolor), leopard (F. bengalensis), dan bobcat (Lynx rufus) merupakan induk semang definitive T. gondii. Bentuk kista dalam berbagai jaringan otot mamalia (sapi, kambing, dll) dan burung dapat pula berperan sebagai penular, meskipun frekuensinya jauh lebih rendah dibandingkan dengan kucing.

http://parenting-mom.blogspot.com/2010/07/toksoplasmosis-mengancam-kehidupan.html
c.                   Lingkungan
Merupakan  keseluruhan  kondisi  dan  pengaruh  luar  yang  mempengaruhi perkembangan toxoplasmosis.

ii.                  Transmisi Toxoplasmosis
Penularan dari hewan kepada manusia dapat terjadi per os lewat tinja kucing atau daging mengandung kista yang tidak dimasak dengan baik. Penularan dari ibu ke fetus terjadi secara transplasental. Penularan secara demikian hanya ditemukan pada ibu-ibu hamil yang tertular (dibuktikan secara serologic)(3).
Infeksi dapat terjadi bila manusia makan daging mentah atau kurang matang yang mengandung kista. Infeksi ookista dapat ditularkan dengan vektor lalat, kecoa, tikus, dan melalui tangan yang tidak bersih. Transmisi toxoplasma ke janin terjadi utero melalui placenta ibu hamil yang terinfeksi penyakit ini. Infeksi juga terjadi di laboratorium, pada peneliti yang bekerja dengan menggunakan hewan percobaan yang terinfeksi dengan toxoplasmosis atau melalui jarum suntik dan alat laboratorium lainnya yang terkontaminasi dengan toxoplasma gondii(1).





http://www.primaquality.com/2008/05/14/toxoplasmosis/

iii.                Riwayat Penyakit
GEJALA KLINIK(2)
Pada garis besarnya sesuai dengan cara penularan dan gejala klinisnya, toksoplasmosis dapat dikelompokkan atas: toksoplasmosis akuisita (dapatan) dan toksoplasmosis kongenital. Baik toksoplasmosis dapatan maupun congenital sebagian besar asimtomatis atau tanpa gejala. Keduanya dapat bersifat akut dan kemudian menjadi kronik atau laten. Gejala yang nampak sering tidak spesifik dan sulit dibedakan dengan penyakit lain.

PERIODE INFEKSI(3)
Sebagian besar hewan tertular toxoplasmosis bersifat asymptomatic. Namun, dapat pula ditemukan hewan yang terserang dengan gejala klinik cukup parah. Kucing tertular lewat makan (memangsa) hewan-hewan yang bertindak sebagai induk semang perantara ( tikus dan burung) mengandung kista atau oocyst yang bersporulasi. Berjuta-juta oocyst dapat ditemukan pada tinja kucing dalam waktu 3 – 10 hari setelah mengkonsumsi daging atau 3 – 5 minggu setelah menelan oocyst yang bersporulasi. Oocyst akan tetap dikeluarkan di dalam tinja selama 2 minggu, kemudian ekskresi oocyst berhenti sama sekali. Apabila kekebalan telah menurun dan terjadi reinfeksi, barulah oocyst tersebut diekskresikan kembali selama 1 – 2 hari. Oocyst sendiri tidak bersifat infektif. Baru setelah oocyst mengalami sporulasi (terjadi di tanah 1 – 5 hari, tergantung pada suhu dan udara), menjadi infektif.

iv.
                PENCEGAHAN PENULARAN TOXOPLASMOSIS (1,2,3,6)
Dalam hal pencegahan toxoplasmosis yang penting ialah menjaga kebersihan, mencuci tangan setelah memegang daging mentah menghindari feces kucing pada waktu membersihkan halaman atau berkebun. Memasak daging minimal pada suhu 66oC atau dibekukan pada suhu – 20oC. Menjaga makanan agar tidak terkontaminasi dengan binatang rumah atau serangga. Wanita hamil trimester pertama sebaiknya diperiksa secara berkala akan kemungkinan infeksi dengan toxoplasma gondii. Mengobatinya agar tidak terjadi abortus, lahir mati ataupun cacat bawaan.
Pencegahan dengan obat-obatan, terutama pada ibu hamil yang diduga menderita infeksi primer dengan Toxoplasma gondii, dapat dilakukan dengan spiramisin.
Kebanyakan orang dengan toxoplasmosis tidak memerlukan pengobatan. Ada obat untuk mengobati untuk wanita hamil dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.


v.
                  Pengobatan(1,3)
Pada manusia, pengobatan dilakukan dengan pemberian kombinasi pirimetamin, sulfadiasin, bersama-sama dengan asam folinat. Pengobatan harus dilakukan paling kurang 30 hari. Pemeriksaan hematologic harus dilakukan secara berkala selama pemberian obat.
Kemoterapi hanya efektif terhadap parasit yang mengalami proliferasi dan tidak efektif terhadap pseudocyst. Karena pirimetamin dapat bersifat teratogenik, obat ini tidak boleh diberikan pada ibu hamil 3 bulan pertama. Spiramisin kurang toksik dibandingkan dengan pirimetamin, tetapi hasilnya tidak sebagus pirimetamin. Namun, spiramisin dipilih karena dapat mengurangi kemungkinan terjadinya penularan congenital pada ibu hamil. Pada hewan, pengobatan kurang memberikan hasil yang baik.
Belum ditemukan vaksin untuk mencegah penyakit ini. Untuk menghindari penularan kepada manusia, maka ruminansia yang tertular disarankan untuk tidak dikonsumsi, tetapi dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur. Daging hendaknya dimasak dengan baik. Ibu yang sedang hamil dianjurkan untuk menghindari kontak dengan feses kucing atau bulu kucing tercemar feses.
Sampai saat ini pengobatan yang terbaik adalah kombinasi pyrimethamine dengan trisulfapyrimidine. Kombinasi ke dua obat ini secara sinergis akan menghambat siklus p-amino asam benzoat dan siklus asam folat. Dosis yang dianjurkan untuk pyrimethamine ialah 25 – 50 mg per hari selama sebulan dan trisulfapyrimidine dengan dosis 2.000 – 6.000 mg sehari selama sebulan. Karena efek samping obat tadi ialah leukopenia dan trombositopenia, maka dianjurkan untuk menambahkan asam folat dan yeast selama pengobatan. Trimetoprin juga ternyata efektif untuk pengobatan toxoplasmosis tetapi bila dibandingkan dengan kombinasi antara pyrimethamine dan trisulfapyrimidine, ternyata trimetoprim masih kalah efektifitasnya. Spiramycin merupakan obat pilihan lain walaupun kurang efektif tetapi efek sampingnya kurang bila dibandingkan dengan obat-obat sebelumnya. Dosis spiramycin yang dianjurkan ialah 2 – 4 gram sehari yang di bagi dalam 2 atau 4 kali pemberian. Beberapa peneliti mengajurkan pengobatan wanita hamil trimester pertama dengan spiramycin 2 – 3 gram sehari selama seminggu atau 3 minggu kemudian disusl 2 minggu tanpa obat. Demikian berselang seling sampai sembuh. Pengobatan juga ditujukan pada penderita dengan gejala klinis jelas dan terhadap bayi yang lahir dari ibu penderita toxoplasmosis.

BAB III
PENUTUP 

 KESIMPULAN
Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Lebih dari 60 juta orang di AS telah parasit. Kebanyakan dari mereka tidak sakit. Tetapi parasit penyebab masalah serius bagi sebagian orang. Ini termasuk orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah dan bayi yang ibunya terinfeksi untuk pertama kalinya selama kehamilan. Masalah dapat mencakup kerusakan pada otak, mata dan organ lainnya.
Toksoplasmosis bias didapatkan dari:
  • Limbah dari kucing yang terinfeksi
  • Makan daging yang terkontaminasi yang mentah atau tidak dimasak dengan baik
  • Menggunakan peralatan atau talenan setelah mereka sudah kontak dengan daging mentah
  • Minum air yang terinfeksi
  • Menerima transplantasi organ atau transfusi darah yang terinfeksi
Kebanyakan orang dengan toxoplasmosis tidak memerlukan pengobatan. Ada obat untuk mengobati untuk wanita hamil dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
SARAN
            Dianjurkan untuk memeriksakan diri secara berkala pada wanita hamil trimester pertama
akan kemungkinan terinfeksi dengan toxoplasmosis.

DAFTAR PUSTAKA
1.      Hiswani, Toxoplasmosis penyakit zoonosis yang perlu diwaspadai oleh ibu hamil, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 2003 (Jurnal)
2.      Ir.INDRA CHAHAYA S,Msi, EPIDEMIOLOGI “TOXOPLASMA GONDII”, Bagian Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 2003 (Jurnal)
3.      Soeharsono. 2002. Zoonosis Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia Volume I. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
4.      drh. Waluyo S Neno, 2007
5.      CDC – Centers For Disease Control and Prevention. CDC 24/7: Saving Lives. Protecting People. Saving Money throughPrevention. 2010
6.      Medline Plus Institut Kesehatan Nasional. 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar